Belajar Mengenal Ular di Kawasan JaBoDeTaBek

Rabu, 09 November 2016

20 komentar
Ada yang takut sama hewan melata sejenis Ular…? Kalau ada berarti kita punya problem yang sama. Kalau saya antara takut dan geli, tekstur ular yang bersisik dan tidak bertulang agak sedikit aneh saat saya coba memegang ular.

Dengan adanya buku ini, diharapakan konflik manusia dan ular bisa di tanggapi dengan bijak
Pertanyaannya adalah, haruskah kita takut akan ular..?

Sebenarnya kita tidak perlu takut terhadap ular. Justru ular yang takut  dan akan menghindar jika bertemu manusia, karena belum pernah ada dalam sejarah ular mengejar-ngejar manusia seperti saat kita di kejar oleh anjing. Ular mengejar manusia itu hanya ada di dalam film.

Ular hanya akan menyerang kita jika dia merasa terancam dan tidak dapat menghindar. Ini yang harus kita ingat, kadang  serangan ular terjadi ketika kita tidak sengaja mendekat sehingga menggangu keberadaan mereka.

Lalu kenapa bisa terjadi konflik antara manusia dengan ular, seperti yang pernah terjadi di beberapa daerah. Ini dikarenakan ekosistem atau tempat tinggal ular yang sudah berubah fungsi menjadi ladang, pemukiman dan sebagainya.

Setidaknya itu yang di paparkan di buku “Mengenal Ular Jabodetabek”.

Lalu siapa yang mau kenal sama ular..? Sejujurnya saya tidak mau, tapi harus karena ini pengetahuan yang belum banyak orang tahu sehingga masih banyak persepsi tentang ular.

Sebelum saya bahas bukunya lebih jauh, saya mau cerita tentang penulisnya, Nathan Rusli. Saya kenal dia sudah sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu, wooww lama juga ya.

Pertama kali bertemu saat saya mengajar ekstrakulikuler di sebuah sekolah swasta dan Nate, begitu saya biasa memanggilnya punya kepribadian yang unik atau bisa dibilang nyentrik.

Bagaimana tidak, waktu masih di jenjang SMP Nate sudah sering membawa ular. Yesss ular beneran, bukan ular karet.

Dan Pernah satu waktu dia masuk ke kelas lalu bilang ke saya, “Kak, Saya bawa ular" sambil tersenyum dan memperlihatkan karung berwarna putih .

"Ular apa..?"

"Ular Kobra kak,.."

“Wooowww,…Nate hati-hati loh ya”. Ujar saya sambil menjaga jarak, siapa yang nggak khawatir ada anak SMP bawa ular kobra di dalam tas sekolahnya.

Ajaibnya dilarang sekeras apapun, tidak akan menyurutkan kecintaan Nate pada hewan reptil ini. Pihak sekolah pu kesulitan memperingati Nate karena dia sering membawa berbagai jenis ular ke sekolah, mulai ular berbisa ringan sampai ular berbisa tinggi seperti kobra.

Yang saya lakukan adalah meminta Nate untuk tidak membawa ular yang berbisa tinggi karena bisa membahayakan untuk orang di sekitarnya, walau tetap saja jiwa remaja Nate kadang tidak bisa di bendung.  

Tapi saya kagum dengan konsistensi Nate, secara tidak langsung saya mengikuti perkembangan dalam membuat bukunya tentang ular. Setiap ada kesempatan bertemu Nate selalu semangat kalau di tanya mengenai buku dan ular, dan akhirnyanya di tahun 2016 buku Nate tentang edukasi ular berhasil di terbitkan.

Buku ini diharapkan bisa menjadi penambah pengetahuan masyarakat tentang ular, yang selama ini tidak semuanya benar.

Dengan begitu masyarakat bisa mengidentifikasi jenis ular saat di temui atau jika terjadi kontak, karena jika ada kejadian serangan oleh ular akan memudahkan tim medis dalam mengambil tindakan.

Sanca batik tidak berbisa, ular terpanjang di dunia ini sering di temui di area Jabodetabek. melumpuhkan mangsanya dengan melilit hingga mangsanya kehabisan nafas. (hal.95)
Di buku ini dibahas setidaknya 40 jenis ular tidak berbisa atau berbisa rendah dan 8 ular berbisa tinggi yang semuanya bisa di temui di wilayah Jabodetabek. Informasi mengenai ular-ular tersebut di bahas secara detil mulai dari corak warna, ukuran, nama latin, di mana biasa ditemukan sampai apa yang biasa di mangsa oleh ular tersebut.

Tidak hanya sekedar tulisan, tapi buku ini pun dipenuhi oleh foto-foto ular yang menarik. Jadi sambil membaca kita bisa melihat jelas visual ular yang sedang di bahas.

Selain menjabarkan secara detil jenis-jenis spesies ular yang ada di Jabodetabek, di buku ini juga berisi bagaimana harus bertindak bila bertemu ular.  Lalu apa yang harus kita lakukan saat ada yang tergigit oleh ular, sampai informasi bagaimana jika kita ingin memelihara atau sekedar memotret ular yang aman.

Ular Bangka Laut (Green Pit Viper), ular berbisa tinggi yang racunnya menyerang darah ini mempunyai ciri khusus di bagian ekornya yang berwarna merah. Kadang kita tertukar dengan ular pucuk dan ular gadung luwuk yang tidak berbisa. (hal.123)
Jujur saja kita bisa belajar banyak mengenai ular dari buku ini, sehingga kita tidak lantas membunuh ular saat kita bertemu, karena ular juga memegang peranan penting dari sistem ekosistem dunia. Sebuah buku karya anak muda Indonesia yang tahun ini pun belum lulus dari SMU bisa menjadi referensi entah itu kalangan umum, pengajar maupun peneliti.

Nate kini sedang menimba ilmu di UK, mengejar cita-cita dia untuk menjadi ahli herpetology. Namun begitu kecintaan Nate terhadap Indonesia sangat besar, sebelum keberangkatannya ke UK dia berjanji akan kembali untuk mengexplore kekayaan ragam hayati dan hewani di bumi ibu pertiwi.

Saat ada yang terkena gigitan ular yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan metode "pressure immobilisasi". yaitu menjaga bagian yang tergigit agar tidak bergerak sama sekali. Kalau kita bisa mengidentifikasi jenis ular yang menggigit, akan membantu tim medis untuk memberikan SABU (Serum Anti Bisa Ular).
Sedikit catatan saya mengenai buku yang di tulis dalam dua bahasa ini. Harganya masih terlalu mahal jika sasaran buku ini untuk mengedukasi masyarakat luas, kalau saja harganya bisa lebih terjangkau maka akan banyak yang bisa terbantu dari buku ini.

Seharusnya buku ini tidak di cetak dengan hardcover yang justru menambah biaya produksi. Saya tahu jiwa sosial Nate sangat tinggi, dan mahalnya buku ini bukan karena ingin untung lebih banyak, tapi lebih ke biaya produksi yang juga cukup tinggi.

Maju terus Nate, terima kasih sudah mau berbagi keilmuannya dalam bentuk sebuah buku yang luar biasa ini.  
Read More

Malam 4 November 2016 Depan Sarinah Thamrin

Sabtu, 05 November 2016

2 komentar
Unjuk rasa 4 November 2016, menuliskan ceritanya sendiri sebagai demonstrasi terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Hampir sebagian besar ormas islam bahkan organisasi kampus pun turun kejalan untuk menyalurkan aspirasinya. Semua memenuhi jalan MH.Thamrin menuju ke Istana Negara di kawasan medan merdeka.

Suasana di depan sarinah jam 20.30, pengunjuk rasa mulai melewati jalan ini untuk menuju ke gedung MPD/DPR RI

Untuk itulah saya putuskan untuk melangkah. Setelah shalat jumat dengan bermotor ria saya langsung menuju ke Sarinah untuk parkir motor. Kenapa Sarinah? Karena hanya di sana yang menurut saya aman untuk taruh motor dan lokasi yang berada di tengah jalan MH.Thamrin.

Sejak awal saya sudah salut dengan kompaknya umat muslim dalam berunjuk rasa. Ini yang namanya menyalurkan aspirasi ala muslim tenang dan damai. Walau beberapa orator teras lebai “ngebacot” yang jujur bikin saya ilfil sama logika mereka.

Tuntutan kita sudah jelas, ingin melakukan proses hukum Ahok yang diduga menista agama. Gak usah juga bilang,

“kita akan menginap jika ahok tidak ditangkap malam ini”

“Jokowi lagi mules di demo oleh jutaan umat”

“Kalo malam ini ahok gak ditangkap, besok kita googling alamat Ahok lalu kita samperin rumahnya”
Dan banyak lagi ucapan, Gantung, Bunuh, sampai Ba*i.

Ahhh sudahlan itu hanya sebuah pilihan, Kalau saya lebih suka nongkrong di orator yang sering mengumandagkan shalawat, takbir dan mengingatkan waktu shalat.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, saya putuskan untuk mecari tempat untuk memilah gambar dan di share di blog. Saya akhirnya masuk kerestoran fastfood di area sarinah, tidak terlalu ramai seperti hari jumat malam biasanya, karena dengan mudah saya menemukan tempat makan yang dekat sumber daya listrik.
Di saat saya sedang memilah foto, beberapa kali terdengar serine ambulance, kok tau itu ambulance?. Kalau diperhatikan suara serine itu berbeda antara ambulance, polisi atau pemadam kebakaran. Saya sih gak terlalu memperhatikan, karena dari siang suara serine sudah sangat akrab.
Pengunjuk rasa mulai bergerak setelah situasi sempat memanas di medan merdeka

Barikade terdepan mengawal para pengunjuk rasa dan mobil komando saat malam menjelang
Yang aneh, saat petugas keamanan gedung menutup akses pintu fastfood yang menuju ke pusat perbelanjaan, lalu menutup jendela yang awalnya sudah sempat dibuka. Tapi saya coba berfikir positif, sekitar jam 20.00 saya bereskan semua peralatan, Notebook dan kamera saya rapihkan kedalam tas dan beranjak pulang.

Tapi sebuah rasa yang nggak jelas, memaksa saya untuk duduk di bangku pinggir jalan depan pertokoan Sarinah.  Tidak lama, seorang pelajar dengan celana abu-abu lewat membawa bamboo pendek dengan odol memenuhi bawah mata, spontan saya bertanya. “Masih ada Demo..?”

“Masih bang, rusuh sampe bakar-bakaran trus kita di lemparin gas airmata. Ada habib yang kena”. Ujar pelajar tersebut dengan napas yang terengah-engah. Yang saya tahu belakangan dari berita televisi, habib yang di maksud adalah ust.Arifin Ilham.

Seorang pengunjuk rasa menuntaskan rasa ingin tahu bagaimana rasanya mengintip dari balik tameng yang berhasil di rampas salah seorang pengunjuk rasa
Sudah ada yang pernah kena gas air mata..?jangan sampe deh. Rasanya itu pedih di mata, kalau kita kucek makin tambah parah yang bisa kita lakukan adalah memejamkan mata dan mencari air tapi tetap jangan dikucek. Selain itu baunya menusuk hidung, kita seperti kesulitan bernapas. Itulah kenapa saat unjuk rasa terjadi chaos, kita sering lihat ada yng mengoleskan semacam odol di bawah mata untuk menghalau perih dan menggunakan tutup muka agar terhindar dari bau yang menyengat.

Tidak lama berselang, sebuah motor matic berisi dua orang pemuda tanggung berhenti di depan saya. Begitu turun salah satu dari mereka langsung mengambil 2 bongkahan conblock dan di taruh di bagian injakan kaki depan. yang satunya memegang tongkat kayu berukuran 2 meter.

Melihat ini, saya langsung menyingkir dan menyiapkan kamera yang sudah saya rapihkan di dalam tas. 5 menit kemudian rombongan besar pengunjuk rasa sedikit demi sedikit melewati depan sharinah. Di tengah-tengah kerumunan massa ada mobil komando yang diatasnya ada pemuka agama.
Mereka membaca takbir dan shalawat, sama sekali tidak sekalipun terdengar nada provokasi yang keluar. Hanya ajakan untuk menuju ke gedung MPR/DPR. Semua berjalan perlahan dan kekhawatiran saya pecah bentrok tidak terjadi di lokasi itu.

Mobil komando sesaat mendekati perempatan Kawasan Sarinah Thamrin

Tetap Semangat mengikuti mobil komando menuju gedung MPR/DPR RI
Yang mengejutkan adalah, saat saya berada di perempatan Sarinah, saya melihat sendiri musisi sekaligus calon wakil bupati bekasi, Dani Ahmad di evakuasi keluar dari rombongan oleh beberapa orang yang menggunakan kemeja putih dan posturnya hampir sama besar.

Ahmad Dani yang saat itu menggunakan kemeja putih dan peci hitam, berjalan cukup cepat sambil punggungnya di rangkul salah seorang dan di ikuti 2-3 orang yang lain. sayang saya terlambat mengambil momen tersebut karena kejadiaanya sangat cepat.
Pengunjuk rasa menuju kawasan bunderan Hotel Indonesia
Setelah rombongan habis melewati kawasan sharinah, saya memutuskan untuk pulang kerumah, badan yang sudah letih dan perut yang keroncongan mengalahkan niat saya untuk ke gedung MPR/DPR. Di sepanjang jalan yang saya lalui di kawasan tanah abang, sayup terdengar syahdu takbir dari pengeras suara masjid. Mengingatkan saya akan hari raya lebaran yang suci dan penuh arti kedamaian dimana semua umat manusia saling memaafkan, tapi yang pasti bukan lebaran kuda.
Berjalan sendiri tidak mengapa demi sebuah keyanikan yang di perjuangkan

Pengunjuk rasa menguasai dua ruas jalan di kawasan tosari
Para pengguna jalan yang menuju bunderan hotel Indonesia harus berputar balik ke arah Menara BNI guna menghindari terjebak di antara para pengunjuk rasa
Tindak simpatik di lakukan anggota TNI saat pengunjuk rasa melewati kawasan Sarinah Thamrin. Sebagian pengunjuk rasa pun ikut menriakkan dukungannya terhadapTNI yang berjaga.
Kabar terakhir, sejak pukul 04.00 pagi para pengunjuk rasa membubarkan diri dari depan gedung MPR-DPR RI, dan jam 06.00 pagi situasi di depan gedung MPR-DPR RI sudah kosong dari pengunjuk rasa.
Read More

Demo 4 November Di Balik Sebuah Lensa

Jumat, 04 November 2016

4 komentar
Menyuarakan pendapat dimuka umum sudah di atur melalui konstitusi dan semua warga negara Indonesia mempunyai hak untuk itu, negara pun menjamin keamanan bagi warga negara yang ingin berpendapat, selama sesuai prosedur dan peraturan yang berlaku.

Seperti Demonstrasi yang terjadi pada 4 November 2016 di Jakarta. Demo yang menuntut Gubernur petaha DKI yang kerap di panggil Ahok untuk di ditindak selaku penista agama karena perkataannya di kepulauan seribu beberapa waktu lalu.

Semua elemen ormas islam turun kejalan untuk menyampaikan aspirasi mereka.Ini kali kedua ormas islam turun kejalan dengan tuntutan yang sama, namun kali ini umat muslim yang hadir lebih banyak.

Sepanjang mata memandang, barisan manusia berbaju putih seakan tidak terputus, ratusan bendera ormas, spanduk, flyer pun tidak ketinggalan. Dari kata-kata yang sopan, sampai kata bernada caci maki.

Saya beruntung bisa menyaksikan ini dan mengabadikannya, betapa umat islam bersama dan bersatu turun kejalan, tidak hanya dari Jabodetabek tapi dari luar kota pun spontan hadir untuk solidaritas.

Allahu Akbarrr..!! saya terenyuh melihat muka-muka lelah bercampur semangat penuh keikhlasan saat bertemu sodara seiman saya di sepanjang jalan MH.Thamrin, Medan Merdeka. Salut buat mereka yang spontan tanpa pamrih untuk hadir di ibukota.

Tapi maaf, jujur saya tidak terlalu salut dengan beberapa orator yang cuap-cuap di atas mobil yang isi teriakkannya penuh mencaci dan memaki meluapkan kekesalan mereka ketimbang memberi semangat perjuangan. Jujur saya risih di saat mereka mengucapkan ayat-ayat alquran, sedetik kemudian mereka mengucapkan kata binatang yang di haramkan, lalu ucapan negatif yang bernada prokokatif.

Walau ada juga, beberapa orator yang bershalawat menyejukkan siang yang tidak terlalu panas saat itu.

Apapun yang terjadi hari ini, semua berjalan dengan lancar dan damai. Setelah ini biarkan semua di selesaikan melalui jalur hukum. kalau memang Allah berkehendak, jangankan memenjarakan Ahok, membenturkan bumi  dengan bulan pun hal yang mudah bagi-Nya.

Semoga Allah memberikan kita yang terbaik untuk hari ini dan esok hari.


Semua saling bahu membahu, berbagi air mineral pun sudah sangat membantu. walau sempat ada isu jangan menerima ari minum dari siapapun, semangat berbagi tidak akan luntur.

Jutaan umat berjalan pelan namun pasti menuju ke Istana Negara. Menunjukkan rasa solidaritas antar sesama. Gambar diambil dari atas jembatan penyebrangan dekat patung kuda

Beragam spanduk di bawa oleh para peserta unjuk rasa. Tujuannya sama dengan banyak macam kalimat.
Semua Bersatu, wanita dan pria semua sama disini. menuntut Ahok untuk di adili

Spanduk berbagai nada terus berdatangan sepanjang aksi

Sebuah spanduk bernada profokatif di pasang di JPO dekat patung kuda
Suasana di bundaran patung kuda di jalan medan merdeka. tampak sebuah stasiusn TV swasta menyiarkan langsung dengan perlengkapan yang cukup komplit untuk meliput unjuk rasa.
Semuanya bersuara lantang untuk sebuah perjuangan
Satu Komando satu perjuangan. jadi ingat saat masih kuliah dulu.
Selain orasi ada juga pertunjukan teaterikal di demo 4 November 2016

Unjuk rasa di awasi oleh MH.Thamrin


Jangan pernah tinggalkan perintah-Nya



Lokasi seadanya, bersuci dengan sebotol air mineral, asal tidak lupa perintahnya


Yang unjuk rasa, yang bekerja. petugas kebersihan ini siaga dari siang sampai malam menjelang

Relawan kebersihan memungut sampah yang ditinggal berceceran oleh para peserta unjuk rasa

Pemda DKI menyediakan banyak kantong sampah warna biru. beberapa ormaspun ikut membantu dengan membawa kantong sampah secara mandiri.



Rangga tunggu aku..!!.
Saatnya pulang,....jam menunjukkan pukul 17.00 sebagian peserta mulai meninggalkan lokasi unjuk rasa






Read More

Tiga Hal Yang Harus Berakhir Di Tanah Ibu Pertiwi

Tidak ada komentar

Menurut catatan tahunan komnas perempuan tahun 2016 tercatat 321.752 kasus kekerasaan pada perempuan yang di tangani oleh pengedalian agama atau peradilan agama. Jumlah itu terpisah dari 1.099 laporan yang langsung masuk ke Unit Pengajuan untuk Rujukan yang sengaja didirikan oleh Komnas Perempuan.

Total 322.581 merupakan jumlah yang mengkhawatirkan. Sebuah tanda bahwa perempuan dan anak belum dilindungi secara hukum. Memang sudah ada peraturan tapi dari beberapa kasus, pelaku kejahatan tidak dihukum secara maksimal.

Selain hukum yang kurang mendukung, lingkungan dan budaya pun ikut turun serta. Banyak korban kekeerasan yang tidak melapor karena alasannya takut di kucilkan atau di rendahkan oleh masyarakat sekitar. Ini yang membuat para pelaku semakin berani, karena yakin korban tidak akan melapor.



Di acara gathering Serempak yang di adakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini mengajak kita semua untuk berkampanye 3ends!. Apa saja kah 3Ends! Itu

1. end violence against women and children
2. end human trafficking
3. end barriers to economic

End violences against women and children adalah mengakhiri semua bentuk kekerasan baik itu fisik maupun psikis terhadap perempuan dan anak. Menurut kang Maman Suherman yang mejadi salah satu narasumber, saat ini dalam 24 jam ada 35 kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia yang terjadi.

End human trafficking, adalah mengakhiri kasus jual beli manusia khususnya perempuan dan anak. Perempuan dan anak masih menjadi komoditas untuk diperjual belikan dan mendatangkan keuntungan bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka biasanya diperjual belikan sebagai anak asuh, pekerja kasar, pembantu sampai pekerja seks komersial.

End barriers to economic, kita berusaha agar kesenjangan ekonomi tidak semakin jauh melalui kegiatan pemberdayaan perempuan. Tidak menutup kemungkinan, faktor ekonomi yang membuat para perempuan semakin tidak berdaya dan mudah dimanfaatkan.

Kang Maman pun berpendapat, kasus pelecehan perempuan yang terjadi bukan karena para perempuan yang senang menggunakan rok mini,tapi lebih di karenakan otak pelakunya yang terlalu mini/kecil. 

Pelecahan tidak hanya saat sang pelaku menyentuh si korban, tapi dengan “cat calling” atau menegur dengan panggilan yang tidak sopan pun itu sudah merupakan pelecehan.

Yang lebih berat adalah kebudayaan kita yang tidak menghormati korban kekerasan seksual dan kesetaraan gender. Kang Maman kembali memberi contoh, saat seorang perempuan ingin memeriksa kandungannya seorang diri pasti ditanya nama suaminya siapa?,pertanyaan yang tidak terlalu penting karena semua perempuan mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, perempuan itu ditakdir untuk menjadi sosok yang kuat bahkan lebih kuat dari seorang pria.

Itulah kenapa Tuhan memutuskan agar wanita lah yang harus melewati fase melahirkan, karena wanita mempunyai  kekuatan untuk menahan sakit 45 kali lebih kuat dari seorang pria.

Perempuan itu harusnya berada di tempat yang mulia
Bukan menjadi bulan-bulan para penjahat berotak mini tak bermartabat
Mereka anggap semua wanita dan anak mahluk yang lemah tak berdaya
Tempat menumpahkan kekesalan dan kepuasan semata
Tapi percayalah jika kita semua bersama tidak akan ada lagi duka di antara kita
Yang akan ada hanya senyum dari anak, istri dan ibu kita tercinta.



Read More

Serempak Menjadikan Konten Adalah Raja

Kamis, 03 November 2016

1 komentar


Kenapa konten menjadi sangat penting bagi kita selaku penulis lepas di sebuah Blog?. Karena dengan Konten yang baik, maka percayalah bahwa nanti tulisan kita akan  bermanfaat bagi orang lain setidaknya bagi diri sendiri.

Konten akan selalu menjadi raja yang akan memancing pembaca untuk membuka halaman web kita. Dan dengan bahasa yang ringan dan mudah di cerna tentunya akan membuat pembaca betah berlama-lama.

Sebeenntarrr,..ini ngomongin apa ya..? Duhh berasa serius ya..? Okee, kita switch tombolnya sedikit biar gak kelewat serius.

Intinya ya, jangan sampai menipu pembaca dengan judul yang bombastis tapi ternyata kontennya tipis gak berisi. Tipikal kaya gini tujuannya hanya satu biar trafficnya blognya naik walau sesaat.

Lalu yang jadi pertanyaan bagaimana membuat konten kita mejadi raja?.

Kalau menurut saya, kita harus lebih banyak berlatih. Salah satunya mengenai sudut pandang penulisan konten kita yang harus berbeda dari yang lain. Itu menurut saya, bagaimana menurut Ani Berta perempuan yang sudah menginspirasi banyak orang ini.

Menurut Ani Berta, kita jangan terlalu puas dengan hanya mendapat info saat talkshow maupun press realease saja. Usahakan untuk melakukan interview agar mendapat tambahan informasi yang baik. Tambah data dan jangan lupa untuk verifikasi data tersebut.

Gunakan opini yang logis menggunakan bahasa yang santun sehingga bisa mengajak orang untuk bisa berbuat sesuatu.

Yang tidak kalah penting adalah, menampilkan foto, infografis maupun video yang mendukung agar pengunjung mendapatkan pengalaman yang lebih dalam walau mereka tidak hadir di acara tersebut.

Setidaknya itu yang dapat saya cerna di acara ghatering Serempak di BINUS University FX senayan pada tanggal 27 Oktober 2016 lalu. Acara yang mengundang hampir 70 blogger ini sungguh berbeda, kenapa berbeda? Karena semua blogger yang hadir di sarankan menggunakan pakaian daerah. Dan ternyata semua totalitas dalam berpakian, termasuk saya yang menggunakan pakaian khas Bali.



Branding
Selain konten, kita pun harus bisa memposisikan kearah mana blog kita. Bahasa kerennya Branding. Branding itu apa ya..? Branding itu memutuskan sesuatu secara bersama-sama.
Eehhh….. Itu sih Berunding Omm.

Branding untuk sebuah blog pada dasarnya adalah sebuah identitas yang terlihat pada blog kita sehingga membedakan dengan blog yang lain. Lalu hal apa yang harus  dilakukan agar blog kita mempunyai ciri khas yang berbeda dari yang lain?.

Menurut Ina A. Muwarni, yang pertama harus di lakukan adalah mengenal pembaca kita, agar kita bisa menentukan gaya penulisan dan tema apa yang paling di cari.

Kedua; Konsisten terhadap tema. Ini yang sulit bro, apalagi para blogger kesohor yang setiap hari bisa dapat undangan lebih dari 2 liputan dengan 2 tema yang bertolak belakan. Pagi di undang ke acara parenting, sore di undang ke launching gadget.

Ini dilema, antara menghormati pengundang yang sudah mempercayai kita atau membuat blog kita isinya bermacam-macam kontennya macam e-commerce. Salah satu cara adalah membuat blog dengan tema berbeda, walau tentunya akan sangat merepotkan. Atau kita bisa menulis sudut pandang dengan menarik benang merah dari setiap acara yang sesuai dengan tema kita. Misalnya kalau blog kita temanya Cowo banget, kita bisa angkat isu parenting yang cocok buat ayah.

Ketiga; Pemilihan nama blog sesuai karakter kita. Walau ada pepatah “Apalah arti sebuah nama”. Tapi suka atau tidak suka di era digital yang dilihat pertama kali adalah nama blog, sebelum orang itu memutuskan untuk berkunjung.

Kalau anda ingin mecari baju online dan anda di hadapkan dengan dua pilihan situs; www.modest.com dan www.cangcimen.com kira-kira website mana yang akan anda pilih terlebih dahulu.

Keempat; Warna. Yupps warna atau theme dari blog pun mempengaruhi branding atau personality dari si penulis. Tidak hanya warna tapi font, logo atau tagline pun bisa jadi menggambarkan kepribadiaan blog kita.



Terakhir adalah, lagi-lagi memilih foto yang baik agar blog kita semakin informatif. Jujur saja kita lebih nyaman dan mudah menyerap informasi dalam bentuk visual ketimbang hanya melototin barisan text sebanyak 600 karakter seperti yang ada di artikel ini.     

Tidak akan mudah sih, tapi percaya semua itu bisa dikerjakan dan mungkin untuk diwujudkan. Karena sudah banyak contoh suksesnya.

Akhirul kata wassalamualaikum warahmtullahi wabarokatuh.

Formil banget ya closing statementnya.
Read More

Perbaiki Sistem Pendidikan Kedokteran Untuk Pelayanan Kesehatan Yang Lebih Baik

Jumat, 28 Oktober 2016

1 komentar
Kesehatan adalah hak segala warga negara. Sudah kah itu tercapai?.



Kalau menurut saya sudah, permasalahan sektor kesahatan adalah tidak merata dan tidak konsisten. Kurang sinergi antar pemangku kebijakan dan pelaksana dilapangan yang akhirnya menempatkan rakyat kecil jadi korban.

Tidak usah jauh-jauh ke daerah pelosok yang belum terjangkau signal 4G, di daerah satelit penunjang ibukota saja masalah kesehatan selalu saja ada gesekan antara masyarakat dan petugas kesehatan.

Kalau di pinggiran kota besar saja masih terjadi konflik dan debat kusir mengenai pelayanan kesehatan, bagaimana dengan saudara-saudara kita di luar kota..?.  Sejujurnya saudara-saudara kita diluar daerah justru tidak peduli, karena mereka tahu mempertanyakan hanya bikin sakit hati, jadi mereka lebih baik pasrah menunggu mati. Ironis.

Sudah bukan hal yang aneh ketika kita membicarakan mahalnya pembiayaan kesehatan. Hal ini tidak dipungkiri bahwa adanya keterkaitan dengan mahalnya biaya pendidikan kedokteran saat ini dan tidak merata kesempatan masyarakat di daerah untuk mengenyam pendidikan di bidang kedokteran.

Pendidikan kedokteran yang menguras banyak biaya bisa jadi salah satu faktor mahalnya harga pelayanan seorang dokter. Dampak ini tentu membuat kondisi semakin tragis dan miris terlebih lagi untuk masyarakat miskin yang semakin sulit mengakses pelayanan kesehatan secara maksimal.

Masalah tidak hanya sampai di sini, penempatan Dokter yang tidak merata juga makin mempersulit rakyat kecil untuk sehat. Infrastruktur dan prasarana yang tidak mendukung menyebabkan penurunan tingkat pelayanan dokter di daerah.

Kekurangan dokter spesialis di daerah pun semakin menurunkan standar kesehatan. Mahalnya biaya untuk melanjutkan kuliah kejenjang lebih lanjut membuat mereka (para dokter umum) menyesuaikan harga pelayanan kesehatan itu sendiri.

Sistem pendidikan sudah selayaknya direvisi atau bahkan di rubah. Di Indonesia biaya pendidikan dokter spesialis sangat mahal, karena sistem yang selama ini digunakan adalah sistem University Based (benar-benar belajar).

Sistem tersebut tidak tepat dan kita sudah tertinggal jauh, di luar negeri mereka sudah menggunakan konsep Hospital Based, yaitu magang dan mengabdinya para calon dokter spesialis di pelayanan kesehatan yang dibayar secara profeisonal, jadi mereka tidak bayar sepeserpun selama masa pendidikan berjalan.

Tanpa campur tangan pemerintah ini tidak akan berhasil. untuk mewujudkan kesehatan masyarakat secara luas, tidak ada kata lain untuk memulai sistem pendidikan kesehatan yang lebih baik untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang bisa mengabdi untuk negara tanpa harus ribet memperhitungkan masalah biaya.

Kesehatan itu tidak tergantikan walau kadang di abaikan. tapi percayalah bahkan rakyat jelata pun ingin jiwa raga mereka terjaga, tapi karena biaya kadang mereka akhirnya harus pura-pura lupa akan apa yang mereka rasa.

Selamat Hari Dokter 24 Oktober 2016
Read More

Mengintip Surga Keindahan Alam Sumatra Barat di Film Me VS Mami

Jumat, 21 Oktober 2016

2 komentar
Indonesia penuh ragam budaya dan keindahan alam. Hamparan sawah nan menghijau, jajaran pohon kelapa, jernihnya air danau, sejuknya udara dan barisan bukit tinggi yang anggun menjulang. Semua terekam dengan indah di Film Me VS Mami produksi MNC yang di sutradarai Ody C Harahap.

Me VS Mami Serentak 20 Oktober 2016. Uda dan Uni harus tonton film ini
Kenapa film yang di awali dari sebuah produk FTV ini mengambil background Sumatra Barat, atau lebih tepatnya kota Padang? Ody C Harahap menjawab singkat. “Ingin mencari suasana berbeda dengan film-film sebelumnya”.

Dan benar saja, sejak awal dimulai keelokan Sumatra Barat jelas terekam. Budaya dam karakter masyarakatnya pun terlihat jelas, suasana ranah minang makin terasa saat alunan soundtrack lagu mengisi sepanjang film ini. setidaknya logat Padang, Sumatra Barat terdengar kental. Saya yakin para perantau yang jauh dari kampungnya akan merasa rindu jika melihat film Me VS Mami.

Me VS Mami adalah film yang mengangkat cerita tentang konflik ibu dan putrinya. Perseteruan ibu dan anak semakin di uji saat mereka harus melakukan perjalanan darat yang cukup panjang 2 hari 1 malam menuju Payakumbuh. Tapi tenang saja, konflik yang terjadi di film ini dikemas dengan sangat ringan, dengan dialog yang menghibur sehingga kita tidak perlu mengerutkan dahi saat melihatnya.

Cut Mini yang berperan sebagai seorang ibu bermain luar biasa. Dua jempol dari saya, karakter seorang ibu ceriwis yang sangat sayang kepada anaknya. Walau perasaan sayang itu selalu di salah artikan oleh Irish Bella yang berperan sebagai anak Cut Mini. Film yang juga di bintangi oleh Dimas Aditya, Mike Lucock, Piere Gruno, Gading Marten bisa jadi pilihan alternatif yang menghibur bersama keluarga.

Suasana press conference yang ceria menandakan kedekatan para pemain

Proses dibalik syuting film ini pun punya banyak cerita. Dengan konsep road movie saat pengambilan gambar di daerah Sumatra yang mengharuskan para pemain, sutradara beserta kru melakukan perjalanan panjang bersama-sama layaknya rombongan sirkus keliling dari awal sampai akhir, tentu akan banyak kendala. Mulai dari tabrakan beruntun sampai ada pemain yang kemasukan mahluk halus.

Jujur film Me VS Mami ini sangat menghibur, komedinya mudah dicerna dan banyak scene yang akan membuat kita tersenyum bahkan tertawa terbahak.

Kalau menurut saya scene terbaik di Film ini adalah saat Cut Mini, Dimas Aditya dan Irish Bella menabrak kerbau seorang penduduk. Sumpah saya gak akan bosen lihat scene ini, akting para pemainnya natural.

Saran saya Jangan sampai kelewatan scene ini, karena kalau di scene lain Cut Mini begitu mendominasi dengan ceriwisnya tapi untuk kali ini akting Cut Mini mendapat perlawanan dari pemilik kerbau.

Mami Cut Mini yang selalu cerewet saat di syuting maupun diluar syuting
“Salah satu yang sulit adalah saat berdialog dengan Pa’ Zainudin, dia selalu bisa membalikan semua omongan saya” Ujar Cut Mini saat launching film ini.

Dan memang benar saat saya menonton Me VS Mami pertama kali (sudah 2 kali nonton), akting si pemilik kerbau sangat menarik perhatian. Tampangnya saat berdialog lurus/flat tanpa ekspresi, tapi kata-kata yang keluar selalu tidak terduga. Aktingnya sangat lepas dan gak kikuk walau harus beradu akting dengan aktris sekelas Cut Mini.

Ini dia lawan main Cut Mini yang sanggup membuat saya tersenyum-senyum sendiri dengan celotehnya.
Bicara masalah kerbau, sebenarnya saya penasaran bagaimana caranya menyuruh kerbau itu untuk rebahan cukup lama dalam proses pengambilan gambar.

Ternyata Ody C Harahap dan kru sudah mempersiapkan semuanya. Caranya adalah menyiapkan tenaga medis khusus hewan untuk memberikan obat penenang dengan dosis yang tidak berlebihan bagi kerbau tersebut agar bisa diajak “bekerjasama”.

“Pernah Kerbaunya sempat siuman dan terbangun, mau tidak mau syuting terpaksa break sambil menunggu tenaga medis menjalankan tugasnya lalu menunggu kerbaunya tertidur lalu lanjut syuting kembali” Ujar Ody.

Genre Film Me VS Mami ini menurut saya Komedi Drama (bukan Drama Komedi). Kenapa?, karena saya melihat lebih banyak unsur komedi dibandingkan unsur Drama yang melankolis. Drama hanya ada di beberapa scene saja, yang semakin intens di penghujung film. Dan saya suka itu.

Yang sedikit menurunkan penilaian saya adalah, saat Irish Bella jatuh dan terluka lalu digambarkan lukanya itu membahayakan nyawanya. Agak terlalu berlebih dan terlalu dibuat-buat. Karena luka seperti itu, hampir bisa dipastikan tidak membahayakan nyawa setidaknya itu pandangan saya, semoga jadi catatan kecil.

Rating
Ini akan jadi kebiasaan baru saya setelah menulis review sebuah film. Subjektif memang, karena saya tidak punya background di dunia film. Saya hanya penikmat film yang sangat mencintai film Indonesia. jadi kalau ada yang tidak sependapat dengan penilaian saya, tidak apa-apa juga.

Nilainya dari 0-100, akan dinilai secara keseluruhan. Sekali lagi sifatnya sangat subjektif dan jauh sekali menilai dari teknik karena memag bukan keahlian saya.

Untuk Film Me VS Mami Rattingnya 78 sebenarnya mau kasih 80, karena saya gak suka endingnya jadi turun 2 point.

Nilai lebinya Karena saya sangat terhibur dan bisa mendapat informasi baru dan pengalaman tambahan mengenai Tanah Minang dari film ini.

Untuk para perantau di jakarta, Uda dan Uni kalian harus tonton film ini, karena Me Vs Mami akan mengobati rindu sanak keluarga nan jauh di mato.
Read More