Belajar Mengenal Ular di Kawasan JaBoDeTaBek

11.58

Ada yang takut sama hewan melata sejenis Ular…? Kalau ada berarti kita punya problem yang sama. Kalau saya antara takut dan geli, tekstur ular yang bersisik dan tidak bertulang agak sedikit aneh saat saya coba memegang ular.

Dengan adanya buku ini, diharapakan konflik manusia dan ular bisa di tanggapi dengan bijak
Pertanyaannya adalah, haruskah kita takut akan ular..?

Sebenarnya kita tidak perlu takut terhadap ular. Justru ular yang takut  dan akan menghindar jika bertemu manusia, karena belum pernah ada dalam sejarah ular mengejar-ngejar manusia seperti saat kita di kejar oleh anjing. Ular mengejar manusia itu hanya ada di dalam film.

Ular hanya akan menyerang kita jika dia merasa terancam dan tidak dapat menghindar. Ini yang harus kita ingat, kadang  serangan ular terjadi ketika kita tidak sengaja mendekat sehingga menggangu keberadaan mereka.

Lalu kenapa bisa terjadi konflik antara manusia dengan ular, seperti yang pernah terjadi di beberapa daerah. Ini dikarenakan ekosistem atau tempat tinggal ular yang sudah berubah fungsi menjadi ladang, pemukiman dan sebagainya.

Setidaknya itu yang di paparkan di buku “Mengenal Ular Jabodetabek”.

Lalu siapa yang mau kenal sama ular..? Sejujurnya saya tidak mau, tapi harus karena ini pengetahuan yang belum banyak orang tahu sehingga masih banyak persepsi tentang ular.

Sebelum saya bahas bukunya lebih jauh, saya mau cerita tentang penulisnya, Nathan Rusli. Saya kenal dia sudah sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu, wooww lama juga ya.

Pertama kali bertemu saat saya mengajar ekstrakulikuler di sebuah sekolah swasta dan Nate, begitu saya biasa memanggilnya punya kepribadian yang unik atau bisa dibilang nyentrik.

Bagaimana tidak, waktu masih di jenjang SMP Nate sudah sering membawa ular. Yesss ular beneran, bukan ular karet.

Dan Pernah satu waktu dia masuk ke kelas lalu bilang ke saya, “Kak, Saya bawa ular" sambil tersenyum dan memperlihatkan karung berwarna putih .

"Ular apa..?"

"Ular Kobra kak,.."

“Wooowww,…Nate hati-hati loh ya”. Ujar saya sambil menjaga jarak, siapa yang nggak khawatir ada anak SMP bawa ular kobra di dalam tas sekolahnya.

Ajaibnya dilarang sekeras apapun, tidak akan menyurutkan kecintaan Nate pada hewan reptil ini. Pihak sekolah pu kesulitan memperingati Nate karena dia sering membawa berbagai jenis ular ke sekolah, mulai ular berbisa ringan sampai ular berbisa tinggi seperti kobra.

Yang saya lakukan adalah meminta Nate untuk tidak membawa ular yang berbisa tinggi karena bisa membahayakan untuk orang di sekitarnya, walau tetap saja jiwa remaja Nate kadang tidak bisa di bendung.  

Tapi saya kagum dengan konsistensi Nate, secara tidak langsung saya mengikuti perkembangan dalam membuat bukunya tentang ular. Setiap ada kesempatan bertemu Nate selalu semangat kalau di tanya mengenai buku dan ular, dan akhirnyanya di tahun 2016 buku Nate tentang edukasi ular berhasil di terbitkan.

Buku ini diharapkan bisa menjadi penambah pengetahuan masyarakat tentang ular, yang selama ini tidak semuanya benar.

Dengan begitu masyarakat bisa mengidentifikasi jenis ular saat di temui atau jika terjadi kontak, karena jika ada kejadian serangan oleh ular akan memudahkan tim medis dalam mengambil tindakan.

Sanca batik tidak berbisa, ular terpanjang di dunia ini sering di temui di area Jabodetabek. melumpuhkan mangsanya dengan melilit hingga mangsanya kehabisan nafas. (hal.95)
Di buku ini dibahas setidaknya 40 jenis ular tidak berbisa atau berbisa rendah dan 8 ular berbisa tinggi yang semuanya bisa di temui di wilayah Jabodetabek. Informasi mengenai ular-ular tersebut di bahas secara detil mulai dari corak warna, ukuran, nama latin, di mana biasa ditemukan sampai apa yang biasa di mangsa oleh ular tersebut.

Tidak hanya sekedar tulisan, tapi buku ini pun dipenuhi oleh foto-foto ular yang menarik. Jadi sambil membaca kita bisa melihat jelas visual ular yang sedang di bahas.

Selain menjabarkan secara detil jenis-jenis spesies ular yang ada di Jabodetabek, di buku ini juga berisi bagaimana harus bertindak bila bertemu ular.  Lalu apa yang harus kita lakukan saat ada yang tergigit oleh ular, sampai informasi bagaimana jika kita ingin memelihara atau sekedar memotret ular yang aman.

Ular Bangka Laut (Green Pit Viper), ular berbisa tinggi yang racunnya menyerang darah ini mempunyai ciri khusus di bagian ekornya yang berwarna merah. Kadang kita tertukar dengan ular pucuk dan ular gadung luwuk yang tidak berbisa. (hal.123)
Jujur saja kita bisa belajar banyak mengenai ular dari buku ini, sehingga kita tidak lantas membunuh ular saat kita bertemu, karena ular juga memegang peranan penting dari sistem ekosistem dunia. Sebuah buku karya anak muda Indonesia yang tahun ini pun belum lulus dari SMU bisa menjadi referensi entah itu kalangan umum, pengajar maupun peneliti.

Nate kini sedang menimba ilmu di UK, mengejar cita-cita dia untuk menjadi ahli herpetology. Namun begitu kecintaan Nate terhadap Indonesia sangat besar, sebelum keberangkatannya ke UK dia berjanji akan kembali untuk mengexplore kekayaan ragam hayati dan hewani di bumi ibu pertiwi.

Saat ada yang terkena gigitan ular yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan metode "pressure immobilisasi". yaitu menjaga bagian yang tergigit agar tidak bergerak sama sekali. Kalau kita bisa mengidentifikasi jenis ular yang menggigit, akan membantu tim medis untuk memberikan SABU (Serum Anti Bisa Ular).
Sedikit catatan saya mengenai buku yang di tulis dalam dua bahasa ini. Harganya masih terlalu mahal jika sasaran buku ini untuk mengedukasi masyarakat luas, kalau saja harganya bisa lebih terjangkau maka akan banyak yang bisa terbantu dari buku ini.

Seharusnya buku ini tidak di cetak dengan hardcover yang justru menambah biaya produksi. Saya tahu jiwa sosial Nate sangat tinggi, dan mahalnya buku ini bukan karena ingin untung lebih banyak, tapi lebih ke biaya produksi yang juga cukup tinggi.

Maju terus Nate, terima kasih sudah mau berbagi keilmuannya dalam bentuk sebuah buku yang luar biasa ini.  

You Might Also Like

20 komentar

  1. Kebetulan sekali di belakang rumah saya ada kebun dan ularnya sering mampir kerumah. Terimakasih membaca ini menambah pengetahuan saya jika sewaktu-waktu ular itu datang lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak ria handayani rumahnya dimana kah? Sebenarnya ada relawan yang bisa bantu kalau misalnya ada ular yg ada di lingkungan kita.
      Nanti kalau saya coba cari call center relawannya ya..

      Hapus
  2. Ular itu hewan yang lucu. Dari dulu sy pengen pelihara tp gk boleh sm org rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eehhhhh, lucu ya...?kayanya mbak harus ketemu sama Nate. Hahahahhaha.

      Hapus
  3. Waduh bang Satto, aku skip gambarnya takut mulas. Hiih serem

    BalasHapus
  4. Wow, Ular, agak gimana juga aku pas pernah pertama kali pegang. Pernah juga melongo dan nggak berani lewat waktu ada ular keluar semak dan jalan di dekat sekolah waktu dulu. Buku seperti ini bagus untuk informasi dan setidaknya supaya tidak takut ular.

    BalasHapus
  5. Dulu di rumahku pernah kemasukan ular. Ga tau sih ular apa, tapi sejak itu jadi geli banget sama ular, huhu.

    BalasHapus
  6. Pernah hampir nginjak kobra, dan ular warna warni yang konon berbisa mematikan. Syukurnya sejauh ini kakiku yang berkali² hampir nginjak ular selalu bs refleks narik lagi hingga tak sampai nginjak. Kejadian plg mendebarkan saat kobra masuk dlm kantor, berada persis di depan pintu dan ia kesulitan bergerak krn licin

    BalasHapus
  7. Waah...jadi inget pelajaran yang namanya ilmu perilaku hewan, salah satunya ya mempelajari ular. Banyak banget jenis ular ini.

    BalasHapus
  8. aaaaaay atuuuut uleeeeer ... inget bangwt waktu bokap nangkep uler di halamam rumah, terus dia malah bawa uler itu ke kamar nyokap. nyokap yg baru aja buka pintu kamar langsung ngejerit dan ga mau keluar kamar tiga jam-an. Tromaaaaaa :)

    BalasHapus
  9. kapan ya aku bisa motret sekeren itu

    BalasHapus
  10. Kalau liat ular sama ulet bulu bawaanya udah merinding aja Amel mah hahahaaaa *takuttttttt.

    BalasHapus
  11. aduhhhh saya paling takut sama ular.. jauh jauh deh...

    BalasHapus
  12. Hiiiiiii aku geliiiiii ngebacanyaaa. Apalagi di suruh pegang, gak bakalan mau. Pegang belut atau lele mati aja aka geli setengah mati. Hii

    BalasHapus
  13. Wah, masih jarang buku yg membahas ular, bukunya masih mahal mgkn krn masih dianggap langka buku yg membahas ttg ular, atau bisa juga karena penelitian ttg ular ini membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya yg ga sedikit.

    BalasHapus
  14. Hah! Bawa ular kesekolah..untung saya bukan teman sekelasnya Nate, pasti kabur sekalipun di bilang udah jinak..

    BalasHapus
  15. Aku ngeri lihat ular. Pernah waktu kecil, kan suka main ke sawah, saya kira dapet belut, ternyata ular. Dari situ kapok dan kalo liat ular, pasti lari.

    BalasHapus
  16. wahhh, jadi ingat bbrp waktu ada teman yg mrk sampai komplain krn diperumahan itu byk ular, sptnya buku ini bisa diberi deh ke dia

    BalasHapus
  17. Haha, jd inget dulu temen kos ada yg bawa uler kecil ke kamarnya utk dipelihara. Trus suatu hari ulernya lepas @.@

    BalasHapus
  18. Dulu, pas SD, ada pohon bambu kuning di dekat sekolah yang jadi 'kandang' ular sanca dan ular sendok. Sampe bukan hal yang aneh kalau lihat ular terbang huhuhu. Tapi jadi bikin parno lho, sampe sekarang kalau ngelewatin parit atau pohon bambu langsung panik takut ada ularnya :(

    BalasHapus

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.

Entri yang Diunggulkan

Prajawangsa City Cijantung, Super Block Di Timur Jakarta