Alif Tristan Naufal; WonderKid Yang Terabaikan.

Minggu, 26 April 2015

Tidak ada komentar
sumber foto https://www.facebook.com/TristanAlifNaufal

Tiga bulan sudah tulisan ini saya buat di bulan Februari 2015, Pertama kali tayang di Kompasiana.com dan sepertinya belum ada berita menggembirakan.

Siapa yang tidak kenal Alif Tristan Naufal, silahkan ketik di search engine berderet informasi akan muncul. Bocah berumur 10 tahun ini adalah potensi besar bagi Indonesia khususnya di dunia sepak bola. Pernah membuat kagum steven gerrad dan Pep Guardiola, prestasi Alif pun tidak kalah hebat.

Alif bisa bergabung dengan akademi AJAX Amsterdam atau Feyenord langsung tanpa melalui tes. Alif membuat Tim pelatih Ajax dan Feyenord jatuh hati saat alif merebut tiga gelar sekaligus; Coerver Netherlands Master Skillz 2014, di festival sepakbola Ajax,lalu  Most Valuable Player di Ajax Internasional Camp 2014 dan Best Player pada 1V1 category.

Luar biasa, rasanya dada ini bergetar bangga ketika bocah ini jadi rebutan 2 klub dengan akademi terbaik di dunia.

Sayangnya, tawaran yang datang pada tahun 2014 ini belum bisa terwujud. Alif masih terganjal ijin tinggal. Proses administrasi sejak Menpora terdahulu belum membuahkan hasil. Kini Orang tua Alif berharap Menpora yang baru bisa membantu mereka.

Ijin tinggal diperlukan bagi alif, karena keluarganya tidak berdomisili di Belanda, ini bertentangan dengan FIFA Non-EU Youth Player Regulation. Bahkan saat Alif mendapat undangan untuk berlatih bersama, FIFA sudah sedikit curiga mempertanyakan pihak AJAX tentang kapasitas kehadiran Alif di akademi Ajax.
Direktur Pemasaran Ajax, sang kiper legendaris Edwin Van De Saar, mengaku pusing. Baru kali ini AJAX di bikin kerepotan untuk merekrut pemain junior dari negara seperti Indonesia.

Bersyukur ada angin segar dari Imam Nahrawi saat bertemu dengan pihak Alif pada 16 Februari lalu, Menpora cukup tanggap dengan berjanji mengkordinasikan dengan Kemenlu , "Karena ini adalah domainnya Kemenlu. Sekarang tinggal tergantung Kemenlu punya niat yang sama dengan Kemenpora atau tidak?". Itupun dengan syarat, Ajax harus memberikan surat keterangan bahwa Alif di terima di akademi mereka, sehingga pemerintah bisa mencari solusi bagi ijin tinggal Alif.

Alif Tristan Naufal mengenal sepakbola saat berusia 4 tahun. Saat dia terbangun di tengah malam dan ikut menemani ayahnya yang sedang menonton pertandingan Liverpool. Spontan Alif berkata "Aku mau seperti itu".

Dari sanalah orang tua alif mulai membelikan bola dan mengajari teknik-teknik dasar dari youtube. Kenapa youtube? karena ternyata orang tua alif bukanlah pesepak bola, orang tua alif hanya penikmat bola seperti jutaan pria di Indonesia. Sungguh semangat luar biasa untuk belajar, ini membuktikan ketekunan lebih penting dari pada sekedar faktor genetik.

Tapi orang tua Alif mulai gamang karena permasalah ijin tinggal ini, biaya ratusan juta yang sudah di keluarkan -sebagian dari sponsor- seakan tidak membawa hasil tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sempat terucap,

"Kalau Alif tak bisa gabung juga ke Ajax atau Feyenoord, saya akan suruh dia fokus sekolah saja. Tak usah main di Indonesia".

Ada benarnya juga ke khawatiran orang tua alif, sudah terbukti pemain bagus di Indonesia mudah tenggelam dan cenderung stagnan karena iklim bola di Indonesia. Terlebih lagi kalo mempunyai tampang yang sedikit mumpuni, sepak bola bisa jadi nomor dua setelah dunia Entertainment.

Kita harus selamatkan aset bangsa ini, kita harus bantu Alif mengejar mimpinya. Mimpi bukan hanya untuk Alif seorang tapi mimpi semua anak Indonesia yang ingin berprestasi mendunia.

Ayo Kemenpora, terus bergerak.

Ayo Kemenlu jangan lelet bantu cari pekerjaan orang tua alif di belanda sebagai syarat mendapatkan ijin tinggal.


-data dari berbagai sumber-
Read More

Ada Apa Di Balik 98..?

Senin, 20 April 2015

Tidak ada komentar
dibalik98





“Bukan Slayernya Yang Penting, Tapi Hatinya”
Akhirnya pencapaian itu berhasil juga, setelah melihat premiere Pendekar Tongkat emas dan Hijab di awal Desember dan Januari yang lalu. Pada 28 Januari 2015 -Walaupun bukan saat premiere-  saya berkesempatan menikmati film Di Balik 98 di cinema dekat kediaman saya. Dan informasi “lengsernya” Film in
i dari bioskop saya dapat dari running text sebuah stasiun TV. Jadi sebelum film yang di hari kelima pemutarannya ini sudah di lihat 172.242 penonton ini benar-benar turun, saya harus tulis riviewnya.

Dibalik 98 salah satu film yang harus saya tonton, Kenapa?; Ini adalah film berlatar belakang sejarah Indonesia di tahun 1998. Sebuah momen transisi pemerintahan orde baru yang menyebabkan kerugian materi dan non material yang sangat besar, serta tragedi kemanusiaan dan kerusuhan masive yang berawal dari ibukota dan sekitarnya.

Saya yang baru menyelesaikan pendidikan menengah atas dimasa itu, merasakan dan melihat langsung kekacauan yang mencekam, berlanjut euforia kebebasan demokrasi yang berhasil menurunkan pemerintahan yang sudah berkuasa 32 tahun. Semua campur aduk, tidak mudah untuk menggambarkan keadaan saat itu. Jadi saya harus lihat seperti apa film ini akan bercerita.

Alasan lainnya adalah, sosok Lukman Sardi. Dia salah satu aktor favorit saya anak dari maestro biola Indonesia Idris Sardi. Dan menyaksikan karya pertama Lukman Sardi sebagai sutradara merupakan pertaruhan bagi saya.

Dan alasan terakhir, melihat film Indonesia di Cinema merupakan wujud dukungan saya untuk  perkembangan film Indonesia. Ketimbang saya membeli DVD bajakan yang hanya menguntungkan  sebagian pihak.

Film yang banyak dikritik oleh para aktifis mahasiswa,  menurut saya sangat menarik. Entah kenapa mereka mengkritik, apa karena melenceng dari sejarah atau karena di film ini nama mereka atau almamater mereka tidak di sebut-sebut.
Yang jelas, sejak awal ini adalah film “berlatar belakang sejarah” bukan film sejarah. Memang butuh  kedewasaan bagi para penikmat film Indonesia untuk dapat memahami bahwa ini sebuah karya fiksi, tapi karena kejadiannya begitu dekat dan penamaan beberapa tokohnya yang di buat sama sedikit membingungkan batasan film ini. Mana yang fakta sejarah atau hanya fiksi.

Daripada terlalu memikirkan mana yang fakta atau fiksi, sebelum filmmya berjalan terlalu jauh. Saya tetapkan bahwa ini adalah film fiksi agar saya bisa nyaman menikmati film ini.
Penggambaran kehidupan kelas menengah ibukota sangat terasa, gang sempit lalu tatap muka para penduduk sekitar begitu terasa akrab. Sejauh ini selama kita mendengar tentang tragedi 98 yang kita tahu adalah konflik politik yang begitu kuat. Tapi di film ini, Lukman Sardi coba menggambarkan konflik keluarga, cinta dan pertemanan yang masih jarang kita dengar.
Cukup menarik bagaimana, sepasang suami istri beserta adiknya ikut merasakan terjebak dalam konflik politik secara tidak sengaja dan bagaimana dua anak manusia yang dilanda cinta menyelesaikan masalah mereka ditengah kerusuhan massa yang menghancurkan keluarga mereka. Semuanya terasa menyentuh di film ini.

Kerusuhan yang terjadi di tahun 98 tergambarkan dengan sangat baik.Kerumunan massa, demonstrasi mahasiswa yang terjadi serta suasana ibukota yang mencekam.
Salut bagi Lukman Sardi yang berhasil mengkombinasikan stock shoot pada tahun 98 yang di dapat dari salah satu stasiun TV swasta kedalam karyanya. Setidaknya Ini salah satu scene yang saya yakin adalah fakta sejarah karena di masa itu sering kali diputar ulang di televisi nasional.

Satu yang juga cukup luar biasa menurut saya adalah keberhasilan Lukman Sardi menggandeng aparat TNI-Polri beserta perlengkapan perangnya untuk berperan serta dalam film ini. Korps aparat ini tervisualisasikan dengan apik dan nyata sekali. Walau di film ini sosok aparat yang kejam dimasa itu tidak begitu nampak. Sepertinya Lukman Sardi ingin mengangkat sisi humanis para aparat ini. Karena di Tragedi 98 Semua adalah korban, bahkan para aparat yang pada saat itu menjaga keamanan ibukota pun, punya konflik dan kepentingan untuk keluarga mereka. Mungkin ini juga yang jadi bahan kritik para aktivis
mengenai film ini ya..?

sumber foto https://www.facebook.com/pages/Di-Balik-98/341281102663087

Dari sisi para pemain, Lukman Sardi yang menjadi sutradara untuk pertama kali ini berhasil mengarahkan para pemain dengan baik. Di dukung beberapa pemain yang pernah bermain bersama di film Merah Putih I dan II -minus darius- kedekatan mereka menghasilkan karya yang luar biasa. Tidak heran dengan 200 kru dan kurang lebih 1000 extras film ini begitu tampil riil saat adegan kerusuhan. Walau ada efek yang terlihat kasar saat mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR.

Catatan penting di akhir film ini adalah, “sebuah perjuangan pasti memakan korban” Sebuah drama pun terjadi, ada yang di tinggalkan untuk sebuah perubahan.
Selain itu drama melankolis terjadi dipenghujung film, ketika 2 mantan kekasih dipertemukan setelah 17 tahun. Pengungkapan yang menurut saya sungguh diluar“biasa”. Sekali lagi Salut untuk Penulis, Sutradara, Pemain dan semua kru yang berjibaku untuk menghasilkan sebuah karya yang berbeda.

Satu pertanyaan saya yang masih mengganjal, bagaimana nasib sibocah pemulung itu..?
Sekali lagi, silahkan menikmati film drama yang berlatar belakang peristiwa 98 ini dengan mengosongkan gelas dalam otak kita terlebihdahulu.  -khususnya untuk para rekan-rekan penggerak di tahun 98′-.

Entah fakta atau bukan.
- Saya mencatat setidaknya ada 3 moment adanya gap komunikasi antara Presiden dan wakilnya.
- Penggambaran presiden laksana raja, semua harus tertunduk dan tersenyum saat beliau lewat. Tukang kebun pun harus berhenti bekerja terlebih dahulu
Read More

Ketoprak Politik

Senin, 06 April 2015

Tidak ada komentar



“Mas Jokowi, pesan Ketoprak 1, tidak pakai bihun, kerupuknya di pisah, cabenya 3 saja”

“Wiiihh pak Prabowo, bungkus apa makan di sini? tumben siang-siang masih di rumah, nggak berangkat kerja..?”

“Dibungkus aja, mau makan di rumah sambil liat keputusan MK. Kebetulan Hari ini lagi libur”

Saya Tersedak dan sedikit terkejut mendengar dialog 2 orang ini di gerobak ketoprak pinggir jalan di sebuah pasar pada kamis pagi. Sejenak memicingkan mata  kearah mereka untuk mengintip, bahkan sendok berisi ketupat berbalut bumbu kacang yang di tutupi kerupuk terpaksa tertahan ketika ingin masuk kedalam mulut. Seakan penasaran dialog apa lagi yang akan terjadi.

Seorang dengan celana pendek warna hitam model kargo, potongan rambut klimis, perut yang sedikit buncit dengan sendal gunung lengkap dengan gadget di tangan kiri -sosok ini yang kemudian di panggil pak Prabowo oleh penjaja ketoprak- Sementara, sosok satunya lagi. Memakai celana panjang warna krem lengkap dengan rampel di bagian pinggang, kemeja lengan pendek warna hijau atau lebih tepatnya biru, hhhmmm sebentar mungkin lebih tepatnya kemeja berwarna hijau kebiruan, di lengkapi handuk kecil putih yang melingkar di lehernya. -ini yang dipanggil mas Jokowi oleh pak Prabowo tadi-.

Percakapan diantara mereka masih berlangsung, sementara saya masih berusaha menghabiskan sisa ketoprak di piring.

“Kalo gugatan di MK di tolak gimana..?”

“Yaahh,..biarin aja. Yang penting sudah mengambil langkah yang benar”

“Semoga pendukungnya nggak rusuh ya, tadi saya denger di RRI masa udah mulai kumpul” Mas jokowi nyerocos sambil memotong ketupat.

“Nggak mungkin rusuh lah, kalo rusuh berarti mereka bodoh. Malah menjelek-jelekkan nama Prabowo dan partai koalisi. Siapapun pemimpinnya tidak masalah asal memihak untuk kepentingan rakyat” ujar pak Prabowo sambil mata dan tangannya tidak teralihkan dari gagdetnya.

“Wah sidangnya di tunda sampe jam 2 siang nanti.”Lanjut pak Prabowo.

“Prabowo itu orangnya baik, tapi karena di bisikin sama orang-orang yang gak jelas, malah jadi bingung sendiri. Logikanya ketua tim suksesnya Prabowo itukan mantan ketua MK dengan reputasi terbaik. Kenapa mereka nggak diskusi dulu dengan beliau, sebelum memutuskan
untuk mengajukan tuntutan ke MK. Biar Prabowo tahu seberapa besar kemungkinan menangnya. Ini sih kesenengan pengacaranya, dapet pemasukan lebih. Apalagi ada wacana kalo gagal di MK mereka mau ke PTUN, ini sudah  benar-benar jelas Modus para tim pengacara yang iri lihat tim suksesnya kebanjiran duit.” Pak Prabowo berteori sambil sibuk memantau kejadian terkini lewat media online di gagdet miliknya.

“Kalo saya lihat ada pihak yang sengaja agar Prabowo dan partainya -gerindra- terlihat menjadi sosok yang arogan dan tidak mau kalah, dan mengarah ke hal negatif. Kalo dipikir Masuk akal juga, suara partai Gerindra tahun ini berhasil melampaui partai yang sudah eksis terlebih dahulu. Pasti banyak partai yang iri atau sirik kampung, dan ini salah satu cara agar pemilu periode depan perolehan suara Gerindra jeblok”. Pak Prabowo terus beretorika sambil tangannya sesekali mengambil kerupuk dari kaleng.

Wiiiihhh dahsyat juga teori konspirasi bapak yang satu ini, Saya membatin. sambil terus memasang telinga ingin tahu lebih lanjut pembicaraan mereka, sementara tangan kanan saya tetap menyuapkan sendok demi sendok ketoprak kedalam mulut.

“Pokoknya selama saya masih bisa jualan ketoprak, trus anak saya bisa sekolah dan kami sekeluarga bisa cek kesehatan dengan mudah, saya pasti dukung siapapun Presidennya”. Mas Jokowi tidak kalah semangat sambil memberikan ketoprak pesanan kepada pak Prabowo.

“Hahahahaha, betul itu. Siapapun presidennya, NKRI tetap negara kita persatuan dan kesejahteraan masyarakat diatas segalanya”. Lepaslah tawa mereka berdua, Pak Prabowo menerima bungkusan setelah sebelumnya memberikan uang ke Mas Jokowi.

Tidak terasa,entah mungkin karena lapar, habis sudah ketoprak yang ada di piring depan saya, masih tersisa cukup banyak bumbu kacangnya tapi saya tidak berniat untuk menghabiskan. Setelah meminum teh tawar hangat dari cangkir berbahan kaleng, meluncurlah pertanyaan bodoh yang sedari tadi tertahan dimulut saya.

“Mas,…” saya memanggil penjual ketoprak yang sedang sibuk menggoreng tahu.

” Namanya beneran Jokowi…??”
Penjual ketoprak agak tertegun, lalu kemudian tersenyum lebar.

“Hahahahhahha….bukan mas, nama saya bukan Jokowi. Itu hanya panggilan saja waktu Pilpres lagi ramai-ramainya. Kebetulan saya pendukungnya. Tuh masih ada stickernya” Penjual ketoprak itu menjelaskan sambil mematikan kompornya dan menunjuk sticker yang masih menempel di sisi kanan gerobak.

“Berarti, bapak yang tadi itu namanya juga bukan Prabowo ya..?saya masih mengeluarkan pertanyaan bodoh.

“Bukan mas,…dia itu ketua RW di sini. Kebetulan dia dukung prabowo. Awalnya sih nama panggilan itu buat lelucon saja, eh malah keterusan sampe sekarang.”

“Nggak berantem Mas…?”Pertanyaan bodoh saya yang ketiga keluar juga.

“Nggak tuh,…Justru pak Prabowo lebih senang diskusi masalah PilPres itu di warung saya mas. Dia bilang kalo bahas sama orang lain, ujung2nya pasti berantem. Jangankan sama orang lain, sama keluarganya yang beda visi aja hubungannya sempet renggang.” Jelas mas Jokowi.

“Untuk itu kalo pak Prabowo mau tuker pikiran masalah pilpres, dia sering mampir. Ngobrol sambil makan ketoprak. Kadang kita juga erdebat sih, tapi berhubung pak Prabowo sibuk menghabiskan ketoprak dan saya sibuk ngulek ketoprak kita nggak pernah emosi kalo lagi bertukar pikiran. Bahkan kalo ada isu-isu miring tentang Jokowi, pak Prabowo nggak segan-segan buat nanya atau SMS hanya sekedar ingin tahu penjelasan dari saya. Saya pun begitu, kalo ada uneg-uneg tentang Prabowo begitu ketemu langsung saya tanya. Saling croscheck”. Penjual ketoprak itu menjelaskan.

Demokrasi ala gerobak ketoprak yang indah. Andai para elit politik bisa makan ketoprak disini, pasti gak bikin rakyat bingung dengan semua dalil-dalil kepentingan mereka. Demi bangsa yang lebih maju, demi negara yang lebih berdaulat semuanya harus bersatu kaya “ketoprak”, bumbu kacang, ketupat, bihun, kerupuk,toge bersatu dalam satu piring. Gak bisa di bayangin kalo kita cuma makan bumbu pecelnya saja, atau hanya makan ketupatnya saja. Dijamin gak nikmat. saya jadi penasaran pengen makan ketoprak lagi pasca keputusan MK yang menolak semua gugatan salah satu pihak. Merasa diperlakukan tidak adilkah pak Prabowo si ketua RW seperti halnya Prabowo dan koalisi merah putihnya yang menganggap hakim MK salah dan tidak adil. Mungkin tidak adil bagi mereka, tapi keputusan ini sanggup memenuhi rasa keadilan sebagian besar warga negara Indonesia.

Salam Ketoprak
Read More