Tips Bawa Laptop Saat Bepergian Lewat Bandara

Sabtu, 27 April 2019

26 komentar
Jujur nih, Alhamdulillah tahun 2019 beberapa kali ke berbagai daerah di Indonesia melalui bandara terminal 3 Soekarno-Hatta Tangerang.
Tujuannya bukan hanya ngeluyur happy-happy, tapi beberapa kali diundang untuk hadir ke sebuah acara (sebagai peserta atau narasumber) dan semua akomodasi di tanggung. Nah, karena itu saya ingin berbagi sedikit tips bepergian lewat bandara, sekalian curhat terlebih saat membawa laptop. Semoga berguna.


Sejauh pengalaman saya, terminal 3 sudah sangat nyaman. Bandara ini adalah senjata baru PT.Angkasa Pura II untuk melayani penumpang Garuda Indonesia dan penerbangan internasional.

Yang menyebalkan saat bepergian menggunakan pesawat adalah, saat melewati metal detector. Harap (khusunya lelaki) jangan menggunakan gesper/ikat pinggang karena akan diminta untuk di buka.

Beberapa kali saya lupa dan efeknya harus mundur dan mengulang. Rasanya itu bikin malu sama yang mengantri di belakang kita. Alhasil, agar tidak merepotkan saya tidak pernah memakai ikat pinggang saat akan naik pesawat.

Masalahnyanya belum selesai sampai di ikat pinggang. Sekarang Laptop pun harus dikeluarkan dari tasnya, Arrrrggghhhhh, ini yang bikin kesel.

Sumpah bikin kesel dan penasaran kenapa harus laptopnya dikeluarkan dari tas. Terlebih untuk terminal 3 Soekarno-Hatta dengan teknologi terbaru yang mereka miliki, masa nggak bisa mendeteksi benda berbahaya di dalam tas dan laptop penumpang?

Dan ini pun tidak konsisten, beberapa kali saya "pura-pura" lupa dan membiarkan laptop berada di dalam tas ransel, aman-aman saja dan dibiarkan lewat di terminal 3.

Tapi memang lebih sering, saat petugas bandara melihat ransel saya yang pasti terlihat sangat heboh, pasti langsung ditanya,

"Ada Laptop di tas? mohon dikeluarkan ya".

Kalau sudah ditanya begini, mau gak mau ya saya keluarkan laptopnya dari tas, karena sudah diingatkan petugas.

Jujur saya tuh masih bingung, karena memang tidak konsisten dan tiap bandara punya kebijakan masing-masing. Bahkan pada umumnya kalau di bandara daerah, lebih fleksible tidak perlu mengeluarkan laptop dari tas.

Masa sih bandara di daerah teknologinya lebih canggih dari Terminal 3 Soekarno-Hatta.

Pernah satu kali saya bepergian bersama seorang kawan menggunakan pesawat terbang, melalui bandara di Lampung.

Saya membawa laptop yang di taruh di ransel, sementara teman saya menaruh laptopnya di koper yang bisa di bawa ke kabin.

Sialnya, saya langsung di tanya dengan ramah oleh petugas apakah saya membawa laptop dan jika bawa harap dikeluarkan dari tas. Dan saya pun tidak bisa mengelak.

Beruntungnya, teman saya melenggang santai dengan koper yang didalamnya terdapat laptop melewati mesin skrining bandara. Baahhh apa pula ini maksudnya?

Seriusan, mengeluarkan laptop dari tas yang sudah tersusun rapi di bandara itu bikin stres dan senewen.

Tapi kita bisa berharap kedepannya tidak repot bongkar tas di bandara, terlebih di bulan Maret 2019, Administrasi Keamanan Transportasi (TSA)Virginia, Amerika mengumumkan teknologi skrining baru yang memungkinkan penumpang untuk menyimpan laptop mereka di tas saat melewati skrining.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg, teknologi ini bisa menciptakan gambar 3-D dari isi tas, sehingga secara otomatis mendeteksi barang-barang yang terdapat didalamnya.

Semoga bandara kita bisa mengadopsi teknologi terbaru ini, untuk mempermudah penumpang dan mempersingkat waktu check-in.

Kebayang gak sih, kalau waktu udah mepet terus di suruh bongkar tas, cuma gara-gara laptop yang tidak berbahaya.

Arrgggghhhh.....!!

Jadi Tips sederhana yang mungkin tidak berguna saat kita mau bepergian lewat bandara adalah :

  • Jangan pakai ikat pinggang/gesper, tapi tetap pakai celana.
  • Laptop di masukkan di tas terpisah, jangan di gabungkan dengan ransel.
  • Boleh di coba trick teman saya, menaruh laptop di koper yang bisa di bawa ke dalam cabin . Semoga beruntung.
  • Kalau nggak mau repot jangan bawa laptop, kecuali memang di butuhkan. ( Yaaaaa eyaaalaahhh..)
  • Tips terakhir, kalau nggak mau ribet di periksa saat naik pesawat, berangkatnya naik kereta atau bis saja... ( Haddduueeehh)

tips bawa laptop saat bepergian lewat bandara 

tips bawa laptop saat bepergian lewat bandara 

tips bawa laptop saat bepergian lewat bandara tips bawa laptop saat bepergian lewat bandara tips bawa laptop saat  bepergian lewat bandara tips bawa laptop saat bepergian lewat bandara tips bawa laptop saat bepergian lewat bandara
Read More

Buku Lima Hutan Satu Cerita, Desa Sarongge dan Hutan Kopi

Selasa, 09 April 2019

Tidak ada komentar
Hutan sosial adalah program pemerintah yang sudah ada sejak lama namun belum dimaksimalkan. Tapi kalau membaca buku Lima Hutan Satu Cerita, saya optimis program ini akan berkembang dan berguna bagi seluruh rakyat Indonesia.
buku lima hutan satu cerita
(kiri ke kanan) Dr Ir Bambang Supriyanto, Diah Suradiredja, Didik Suharjito, Tosca Santoso, Bagja Hidayat

Jumat 5 April 2019 saya diundang oleh kementerian lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk berbincang mengenai hutan sosial, lebih tepatnya buku yang di tulis oleh mas Tosca Santosa. Karena saya pernah menulis mengenai hutan sosial petani udang di daerah Muara Gembong Bekasi, saya sangat antusias saat diminta hadir ke acara tersebut.

Acara ini dibuka oleh Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Dr Ir Bambang Supriyanto. Selain itu juga di hadiri oleh bang Tosca Santoso selaku penulis buku Lima Hutan Satu Cerita, juga hadir Didik Suharjito (Guru besar fakultas kehutanan IPB) dan Diah Suradiredja (Pokja Perhutanan Sosial) yang di moderatori oleh Bagja Hidayat (Pemimpin Redaksi Forest Digest).

Perhutanan sosial adalah suatu usaha untuk mengurangi ketimpangan penguasaan lahan oleh beberapa pihak saja.

Total akan ada 12,7 hektar lahan yang dibagikan, namaun harap diingat, lahan yang dibagikan bukan semerta menjadi hak milik warga, tapi hak kelola saja selama 35 tahun. Dan akan selalu di evaluasi dalam 5 tahun sekali, apakah ijinnya bisa diperpanjang atau tidak. Jadi salah kalau ada stigma pemerintah membagikan lahan.

Karena pihak yang mendapat ijin, disamping memanfaatkan lahan untuk produksi, mereka juga wajib merawat hutan, dan ini merupakan Kombinasi yang baik antara konservasi berpadu dengan kesejahteraan rakyat.

Yang bisa mengajukan dan mendapatkan sertifikat hutan sosial adalah kelompok tani, organisasi desa, koperasi bukan individu. Ini salah satu bentuk menghindari tanah atau hutan milik negara diperjualbelikan. Dan dalam jangka waktu 3 atau 5 tahun, sampai akhir 2018, sudah ada sekitar 2,5 juta hektar yang berhasil dibagikan.

Pemerintah selain memberikan ijin pengelolaan lahan, harus juga memperbaiki percepatan kerja birokrasi, pendampingan, dukungan modal serta akses pasar untuk petani. Agar semakin bermanfaat dan semua jadi satu paket untuk mensejahterakan petani tepi hutan.

Buku 5 Hutan 1 Cerita ini sangat diapresiasi oleh Ibu Siti Nurbaya Bakar selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Buku ini enak dibaca mudah dipahami dan bisa dengan sangat cepat dan tidak terasa bahwa kita sudah selesai membaca dan bisa memetik pelajaran berharga dari buku ini”

Ibu Siti Nurbaya menangkap perlu ditingkatkan implementasi untuk pengembangan terkait investasi teknologi dan kelembagaan, lalu fasilitas infrastruktur pendampingan atau penyuluhan juga pengawasan bagi para petani.

Implementasi perhutanan sosial mutlak membutuhkan pendampingan dari aktivis atau akademisi selain bimbingan penyuluhan dan pengawasan perhutanan.

Dampak dari Perhutanan sosial sangat luas tidak hanya bagi petani tapi juga untuk pemerintah daerah dan juga Perhutani, karena bisa menggerakkan ekonomi daerah yang berbasis pertanian.

Buku 5 hutan 1 cerita ini diterbitkan oleh Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia, sebuah lembaga nirlaba yang didirikan pada tahun 2010 ini mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan. Salah satu gerakkannya adalah menghutankan kembali bukit-bukit Sarongge. Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia juga aktif dalam pendampingan perhutanan sosial dan Citarum Harum.

Sesuai judulnya 5 hutan 1 cerita, dibuku ini ada lima cerita mengenai hutan sosial. Pertama cerita tentang Mangrove di Padang Tikar, lalu Hutan Adat Mata Air Ribuan Hektar Sawah kemudian Ketika Hutan Rakyat Lampaui Luas Hutan Negara dilanjutkan Dungus Bernaung Jati Setengah Hati ditutup dengan cerita Sarongge Kopi dan Mimpi Petani.

Bahasa dalam buku ini ditulis dengan gaya deskriptif mengingatkan saya kalau baca buku Laskar Pelangi Andrea Hirata, jujur saya sempat kaget saat membaca pertama kali buku ini. Contoh paragraph pembuka di tulisan berjudul Merawat Mangrove di Padang Tikar.

“Pagi belum beranjak jauh. Kedai-kedai di tepi Pelabuhan Rasau, masih sepi. Ini Pelabuhan Kecamatan yang biasanya ramai di Kubu Raya, kalimantan Barat. Mungkin karena terlalu pagi, hanya satu dua calon penumpang, tampak menikmati kopi atau teh.

Mereka usir sisa kantuk, sembari menunggu perahu berangkat. Saya hampiri petugas tiket, untuk memastikan dapat kursi ke Padang tikar. Desa yang kini dikenal luas karena dipercaya mengelola hutan negara seluas 76000 hektar lebih.”

Cerita mengenai hutan sosial di Padang Tikar berawal ketika warga dan sebuah LSM yang bernama Sahabat Masyarakat Pantai atau biasa disebut SAMPAN memperjuangkan pulau mereka dari korporasi besar.

Karena di akhir tahun 2012 ada perusahaan yang tiba-tiba membuka hutan lindung di Padang tikar tanpa berunding, tanpa informasi yang jelas tiba-tiba mereka membuka lahan untuk perkebunan sawit.

Hal ini ditolak ramai-ramai oleh warga, di wakili 9 kepala desa di pulau itu, mereka menentang rencana perkebunan sawit karena dari beberapa pengalaman tentang daerah yang pernah ditanami sawit, maka daerah tersebut tidak lagi produktif.

SAMPAN adalah LSM yang didirikan pada tahun 2009 di Kalimantan Barat. Tujuannya untuk membantu pengembangan ekonomi masyarakat pesisir dan merawat hutan.

Kesenjangan penguasaan lahan di Kalimantan memang sangat tinggi, Perusahaan besar diberi izin sangat luas sementara petani aksesnya sangat sedikit karena warga dianggap tidak mampu mengelola hutan.

Dan di tahun 2014 SAMPAN dan warga pulau mulai bergerak untuk mengelola hutan sosial di daerah Padang tikar dan akhirnya hutan seluas 76000 hektar yang terdiri dari hutan mangrove, hutan rawa dan gambut diajukan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk dijadikan hutan desa.

Akhirnya disetujui, dan ini adalah pengajuan hutan terluas di Indonesia.

Tidak hanya bercocok tanam, SAMPAN juga memperkenalkan budidaya madu kelulut, madu yang di hasilkan oleh lebah Trigona SP yang tidak bersengat.

Untuk pakan sehari-hari, lebah-lebah ini mengambil nektar atau sari bunga dari hutan mangrove di sekeliling pulau. Sebuah ekosistem atau rantai kehidupan yang ciamik, sehingga membuat warga bergerak secara sendiri untuk merawat mangrove.

Karena kalau manggorve tidak dirawat oleh warga maka lebah-lebah itu akan kesulitan mendapatkan nektar bunga untuk mereka konsumsi. Dampaknya kualitas dan jumlah madu akan menurun.

Kalau dihitung tingkat produksi madu kelulut dari Padang tikar bisa mencapai 2 setengah ton per bulan dengan taksiran nilai 325 juta perbulan. Rencananya produksi ini akan ditingkatkan lagi menjadi 10 ton per bulan sehingga bisa mencapai omset 1,3 miliar per bulan.

Buku Lima Hutan Satu Cerita, Sarongge Hutan Kopi dan Mimpi Petani

Hujan deras mengguyur atap Kawung. Tetesnya merembes lewat celah-celah daun. Kabut tebal turun: menggigil di kebun-kebun, membatas pandang hanya beberapa depa. Pagi ini, banyak petani yang terpaksa berdiang saja di hawu, perapian dapur mereka. Menghangatkan badan, sambil berharap, hujan sedikit reda.

November memang bulan teramat basah di sarongge Cianjur. Tetapi juga bulan yang dinanti-nanti, karena ini saat yang baik untuk menanam kopi.

Penggalan paragraph diatas adalah paragraph awal dari tulisan berjudul Sarongge Hutan Kopi dan Mimpi Petani. Cerita tentang seorang petani yang bernama Dudu Duroni yang berhasil mengembangkan budidaya kopi di Sarongge.

Bermula dari satu hektar berkembang menjadi 3 hektar, 2 hektar di lahan Perhutani yang masuk dalam program perhutanan sosial, 1 hektarenya lagi masuk ke dalam hutan desa.


Bapak Dudu Roni awalnya adalah petani sayur-mayur yang selalu berpindah-pindah di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Namun kini memutuskan untuk fokus bertani kopi setelah menikmati hasil panen pertamanya.

Bertani kopi itu harus bersabar, setidaknya tiga tahun pertama pohon kopi tidak akan berbuah. Barulah di awal tahun 2018 Dudu menikmati panen pertama pohon kopinya. Walau belum berumur 3 tahun tapi pohon kopinya sudah belajar berbuah.

Hal ini yang memancing Animo masyarakat untuk ikut menanam kopi dan pada tahun 2018 bulan Februari akhirnya mereka mengajukan perijinan perhutanan sosial ke Kementerian hutan dan lingkungan hidup untuk lahan seluas 21,5 hektar yang akan dikelola oleh 35 keluarga.

Dengan adanya kepastian hukum ini petani lebih tenang menggarap tanahnya, sehingga mereka tidak khawatir kalau tiba-tiba di tengah jalan tanaman mereka atau lahan mereka diserobot oleh pihak lain.

Pohon kopi yang optimum tiap panen mampu menghasilkan 50 kg buah kopi perpohon. Dengan total 43000 batang kopi yang dimiliki Pak Dudu dan kelompok taninya, maka kedepan pendapatan mereka pertahun bisa mencapai 1 koma 72 miliar.

Cianjur di masa VOC adalah pusat produksi kopi dunia tapi karena memang di masa itu, masyarakat hanya dijadikan pekerja perahan saja, maka ketika Belanda hengkang, perkebunan kopi ditinggal warga begitu saja. Bisa jadi karena trauma.

Kang Dudu Duroni tegas menyatakan bahwa ini tanah terakhirnya dan tak mau pindah lagi. Dia sadar hak mengelola perhutanan sosial itu baik untuk dirinya dan pelestari alam sekitar.

Hutan Sarongge kini menaruh mimpi kepada kopi yang harum, dengan bermekaran biji-biji kemerah itu, bermekaran pula mimpi untuk menghadirkan kesejahteraan bagi warga sekitar.

Buku Lima Hutan Satu Cerita, Desa Sarongge dan Hutan Kopi, Buku Lima Hutan Satu Cerita, Desa Sarongge dan Hutan Kopi, Buku Lima Hutan Satu Cerita, Desa Sarongge dan Hutan Kopi, Buku Lima Hutan Satu Cerita, Desa Sarongge dan Hutan Kopi
Read More

Liverpool Bungkam Tottenham Hotspur

Senin, 01 April 2019

1 komentar
Jelang bermain di kandang sendiri melawan Crystal Palace hari rabu besok dan merasakan kemegahan serta euforia stadion baru mereka, Tottenham malah dipaksa kalah oleh Liverpool dengan menyakitkan.
Tapi Manajer Tottenham Mauricio Pochettino mengatakan peluang timnya untuk lolos ke Liga Champions tetap ada.

Trus kita kapan juara EPLnya om? Musim depan ya? kan udah punya stadion baru.


Spurs dikalahkan setelah gol bunuh diri yang di lakukan oleh Toby Alderweireld di menit ke-90, tapi pelatih asal Argentina itu masih yakin kalau Tottenham, bisa finis empat besar untuk menjaga asa ke liga champion tahun depan.

"Kami kurang beruntung karena kebobolan di babak kedua, padahal kami mendominasi pertandingan," katanya.

Gol Roberto Firmino membuat Liverpool unggul di menit ke 16 babak pertama, sebelum Lucas Moura menyamakan kedudukan di babak kedua. Lalu kenyataan pahit itu datang di menit ke 90, saat Alderweireld memasukkan bola melewati garis gawang timnya sendiri.

Ada empat tim berjuang untuk dua tempat kualifikasi Liga Champions dan Tottenham masih berada di tempat ketiga dengan 61 poin, mereka hanya unggul satu poin dari Chelsea di urutan keenam.

Tottenham kemungkinan bisa di salip Arsenal yang saat ini berada di tempat kelima, kalau (Arsenal) di pertandingan tandang mereka bisa mengalahkan Newcastle. Doa saya, semoga Newcaslte menang dengan mudah,... Ammiin.

Kalau Newcastle memang, maka mereka berkesempatan menjauhh dari zona degradasi. Karena kalau mereka kalah, bisa jadi mereka akan di salip oleh Southampton atau Brighton

Gol bunuh diri Toby Alderweireld memberi hadiah kemenangan bagi Liverpool, kenapa hadiah? Karena sepanjang babak kedua, Liverpool dikepung habis-habisan dan Tottenham berhasil membuat beberapa peluang.

Memasuki menit ke 80, saya sudah terbayang Tottenham pulang membawa pulang minimal satu angka, sayangnyaitu pupus saat Hugo Lloris, gagal antisipasi sundulan Mohamed Salah yang sebenarnya tidak terlalu keras dan akhirnya bola meluncur ke gawang, setelah sebelumnya mengenai Alderweireld.

Tottenham lewat Sissolo mempunyai peluang untuk unggul saat dia sudah berhadapan dengan kiper Liverpool Alisson. Sissoko memutuskan menendang langsung ketimbang mengoper ke Son Heung-min yang berdiri bebas di sebelah kanan. Sayangnya bola tendangan Sissoko melambung tinggi entah kemana.

Dele Alli pun mempunyai kesempatan saat penempatan bolanya (placing ball) beberapa kali merepotkan kiper liverpool, dan nampaknya The LilyWhite belum beruntung. Tottenham bermain luar biasa di babak kedua, tetapi mereka harus pulang tanpa poin di premier league.

Kalah Gara-Gara Hugo Lloris?

Sepak bola memang permainan tim, tidak ada yang bisa disalahkan secara personal, tapi kekalahan Tottenham atas Liverpool membuat nama Hugo Lloris di komentari oleh Jermaine Jenas. Lloris tidak bisa memberikan keamanan bagi pemain belakang Spurs.

Lloris telah berada di Spurs sejak 2012, dan bermain dengan baik, tapi kalau kita berbicara kualitas kiper yang berhasil memenangkan Piala Dunia dengan Prancis sekaligus menjadi kapten klub dan negaranya, penampilan Loris harus jadi perhatian serius Pochetino.

Menurut Jermaine, Gazzaniga pantas mendapat kesempatan. Dia telah bermain untuk Spurs musim ini sebanyak 10 pertandingan di semua kompetisi. Dan  hasilnya cukup bagus.

Mungkin akan terdengar kejam, kalau saya jadi Pochettino, maka saya akan pertimbangkan Gazzaniga pada pertandingan Rabu melawan Crystal Palace di Stadion baru mereka. Ujar Jermaine Jenas.

Menurut kamu bagai mana?

translate and adapted from bbc.co.uk


Read More