5 Fakta Film Mars Met Venus

Minggu, 23 Juli 2017

17 komentar
Woooww,..ini review film ketiga saya dalam 1 bulan terakhir. Dan semuanya adalah film Indonesia, keren gak?. Film Indonesia pasca libur lebaran semakin banyak yang direalease ke pasaran dengan genre yang didominasi oleh drama dan comedy. Walau pada kenyataannya genre film horor menempati posisi teratas dalam menarik penonton, sampai tulisan ini direalease.

Salah satu film yang baru saja saya tonton adalah Mars Met Venus (part cewek) produksi MNC Pictures yang di rilis pada tanggal 20 Juli 2017. Hhmmm, kalau ada part cewek, berarti akan part cowoknya dong?. Yesss, benar sekali, tapi untuk Mars Met Venus (part cowok) baru akan dirilis pada tanggal 2 agustus 2017.



Jujur, film terakhir besutan MNC Pictures yang membuat saya terhibur adalah Me vs Mami, Film ini sukses menarik perhatian lebih dari 300ribu penonton.

Lalu bagaimana dengan Mars Met Venus?

Pertama, ini film dengan konsep yang menarik, satu cerita dengan dua sudut pandang yang berbeda yang kemudian dipecah menjadi dua film (bukan sekuel) yang bisa dinikmati secara terpisah tapi bisa lebih nikmat kalau ditonton kedua-duanya. Pemecahan film ini menjadi dua bagian ini tidak direncanakan dari awal, justru idenya muncul dipertengahan produksi film ini sedang berjalan.

Boleh percaya boleh tidak, saya sudah menonton kedua part film Mars Met Venus tersebut. Tidak banyak orang yang beruntung seperti saya, dan setelah menonton kedua film tersebut, saya rekomendasikan untuk menonton film yang penuh dengan campuran emosi ini.

Film yang dibintangi oleh Ge Pamungkas (Kelvin) dan Pamela Bowie (Mila) bergenre drama komedi yang menceritakan hubungan cinta 2 manusia yang beranjak kehubungan yang lebih serius. Namun baru disadari oleh mereka bahwa wanita dan pria adalah dua mahluk yang berbeda karakter tapi ada untuk saling melengkapi.



Kemudian mereka berdua membuat Vlog yang dibantu oleh seorang kawan. Dalam proses pembuatan vlog inilah emosi tentang suka dan duka mereka sedikit demi sedikit mulai disajikan secara visual kepada penonton.

Emosi dalam film ini seperti buah dalam campuran es teler, ada yang manis, asam, pahit terkadang ada rasa yang gak jelas.

Mars met Venus berhasil membuat penontonnya tersenyum simpul dan beberapa menit kemudian jadi tertawa terbahak-bahak, seketika dibuat kesal dan benci. Dan tiba-tiba semua mendadak menjadi haru biru.



Akting Ge Pamungkas di film ini harus saya acungi jempol, dengan karakter muka bingung, panik cenderung lugu yang jadi ciri khas Ge berhasil membuat kita tersenyum bahkan kita tertawa. Scene favorit saya untuk Ge Pamungkas di part cewek adalah ketika Kelvin ingin menyatakan cinta ke Mila.

Sayangnya prosesi penembakan itu tidak berjalan lancar karena ada gangguan dari pihak luar. Sumpah disini akting Ge membuat saya tidak bisa menahan tawa. Saya tidak akan ceritakan banyak di sini, karena kamu harus lihat sendiri.

Kalau di part cowok, akting Ge yang membuat saya terkesima saat Kelvin merasa sudah melakukan tindakan bodoh terhadap hubungan dia dan Mila. Emosi, sedih dan airmata membuat semua penonton terdiam. Pun akting sedih Pamela Bowie, terlihat natural. Salut buat para aktor dan Hadrah Daeng Ratu sebagai sutradara yang sudah mengarahkan para pemain.

Kehadiran pemain pendukung seperti Rany Ramadahani, Ria Ricis dan Cameo Project yang beken diyoutube, membuat film ini makin segar dan berwarna.

5 fun fact tentang film Mars Met Venus

1. Sudut Pandang.
Part cewek lebih menggambarkan bagaimana wanita melihat sebuah hubungan percintaan mereka, sebaliknya untuk part cowok.
Kalau para cowok ingin tahu bagaimana perasaan cewek, kamu harus nonton part cewek dan kalau para cewe ingin mengerti bagaimana perasaan cowok kamu harus tonton part cowok. Jangan ketukar, tapi kalau takut ketukar, saran saya tonton dua film ini, karena dua film ini bisa dinikmati oleh siapapun.

2.  Fokus Cerita
Part cewek bercerita bagaimana persahabatan antara Pamela Bowie (Mila) dengan Rany Ramadhani (Malia) dan Ria Ricis (Icha). Persahabat yang saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.
Part cowok menggambarkan persahabat 5 cowok dalam 1 rumah kos, Ge Pamungkas (Kelvin), Reza Nangin (Reza), Martin Anugerah (Martin), Steve Pattinama (Steve) dan Ibob Tarigan (Ibob). Sekumpulan cowok dengan ciri khas anak kos yang konyol dan menghibur.

3. Film yang mengedepankan proses, bukan tujuan akhir.
Film ini mempunyai ending yang sama. Jadi kalau kita sudah menonton part cewek, pasti kita sudah tahu akhir cerita film ini untuk part cowok. Walau endingnya sama, tapi film ini menjual cerita tentang proses bagaimana menuju tujuan yang ingin dicapai. Menurut saya, hanya ada sekitar 20-30% scene yang sama antara film Mars met Venus dan itu tidak menggangu kenikmatan kedua film ini.

4. Siapa sang videographer?
Di part cewek ada seorang videographer yang selalu menemani Kelvin dan Mila membuat vlog, tapi karakter ini seakan misterius dan tidak pernah nampak di scene. Nah, di part cowok cameo videographer ini akan terungkap, siapakah dia? rahasia lah, kalian harus tonton part cowok kalau mau tau. Dan tujuan Kelvin sebenarnya membuat Vlog pun akan diungkap di part cowok.

5. 1 juta penonton tiap part
Setidaknya itu yang terucap produser saat press conferences setelah movie screening di plaza senayan. Kalau melihat kekuatan cerita yang ditulis oleh Nataya Bagya, akting pemain ditambah kekuatan media sosial dari Ria Ricis dan Cameo Project (youtuber) yang support film ini, target 1 juta penonton tiap part tidak mustahil tercapai.
Kalau mendapat respon baik di part cewe, maka film keduanya akan bisa lebih membuat penasaran yang sudah menonton part cewek. 


Rating Mars Met Venus
8.5/10
Memecah 1 film menjadi 2 (bukan sekuel) jadi keunggulan produksi MNC kali ini, dan mereka berhasil

Info Film
Publish : Part Cewe 20 Juli 2017, Part Cowo 2 Agustus 2017
Durasi : 98 menit
Produser : Ferry Ardiyan
Sutradara : Hadrah Daeng Ratu
Penulis : Nataya Bagya
Produksi : MNC Pictures
Genre : Drama Komedi
Kelompok Umur : 13+
Pemain : Ge Pamungkas, Pamela Bowie, Rany Ramadhani, Ria Ricis, Cameo Project


Read More

FILOSOFI KOPI 2; Persahabatan Di Secangkir Kopi

Jumat, 14 Juli 2017

8 komentar
Pegang Pundakku, Jangan Pernah Lepaskan
Bila Ku Mulai Lelah?
Lelah Dan Tak Bersinar
Remas Sayapku, Jangan Pernah Lepaskan
Bila Ku Ingin Terbang?
Terbang Meninggalkanmu

Ku S'lalu Membanggakanmu
Kaupun S'lalu Menyanjungku
Aku Dan Kamu Darah Abadi
Demi Bermain Bersama
Kita Duakan Segalanya
Merdeka Kita, Kita Merdeka
~Sahabat Sejati, Sheila On 7~

Alunan lagu Sahabat Sejati dari Sheila On 7, yang di aransemen dan dinyanyikan oleh Rio Dewanto dan Chico Jericho menjadi penutup dari film Filosofi Kopi 2. Lagu ini seperti menjadi kesimpulan dari film yang karakternya diilhami dari novel Filosofi Kopi karya Dee Lestari.



Ya, film Filosofi Kopi 2 kembali hadir dengan cerita tentang dua orang sahabat karib Ben&Jody yang mengejar mimpi mengembangkan bisnis kedai kopi mereka. Setelah berkeliling kota di Indonesia dengan mobil Combi berwarna kuning dengan tulisan FILOSOFI KOPI di salah satu sisinya, mereka memutuskan untuk kembali membuka kedai kopi di Jakarta.

Bagi kamu yang belum sempat menyaksikan Filosofi Kopi 1 tidak usah khawatir, dijamin seratus persen  kamu bisa menikmati film ini tanpa harus kebingungan atau merasa terlewatkan dalam hal cerita. Tapi bagi yang sudah pernah melihat film terdahulunya, kamu pasti bisa menemukan benang merah yang memperkaya detil imajinasi di film Filosofi Kopi 2, sehingga bisa melibatkan emosi lebih dalam.



Salah satu benang merah yang menarik adalah kemunculan cameo Joko Anwar. Walau hadir tidak lebih dari 5 menit, tapi kehadiran sutradara kawakan ini begitu memecah tawa dengan menganalogikan persahabatan Ben&Jody layaknya sebuah "biji". Jujur ini joke khas cowok banget.

Sahabat sejati itu selalu ada disaat suka dan duka, disetiap persahabatan akan selalu ada konflik dan egoisme yang muncul disela-sela waktu bersama, entah itu masalah prinsip, idealisme, gagasan sampai wanita. Namun yakinlah sahabat sejati akan selalu kembali dengan secangkir kopi ditangan. Ini ruh dari Filosofi Kopi 2, menurut saya.

Filososfi Kopi 2 memang tidak secara dalam membahas masalah kopi dan bisnisnya, di film ini Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara lebih memvisualisasikan bagaimana cerita persahabatan 2 cowok tersebut dalam menyelesaikan konflik mereka secara natural khas cowok.

Film ini sangat layak ditonton, bahkan ditonton berulang-ulang karena skenario yang kuat dan detil-detil percakapan dua sahabat ini walau kadang terdengar kasar tapi terlihat natural dengan celetukan mereka yang saling menimpali. Selain itu, sejenak kita juga diajak menikmati keindahan daerah Makassar, Bali, Jogjakarta sampai Toraja.

Kehadiran Luna Maya (Tarra) dan Nadine Alexandra (Brie) juga memberi warna yang beda di Filosofi Kopi 2. Mereka berdua bisa menimpali akting Chicco (Ben) dan Rio (Jody) yang karakternya sudah terbentuk dari film Filosofi Kopi pertama.



Namun ada beberapa catatan yang keluar dari harapan saya. Pada awalnya saya berharap petualangan mereka dengan Combinya lebih bisa di explore, nyatanya hanya menjadi bagian kecil saja dalam film ini.

Konflik yang terjadi sangat bervariasi atau bisa dibilang terlampau banyak, mulai konflik bisnis, pertemanan, cinta sampai konflik keluarga. Jadi penyelesain konflik seakan terburu-buru dan terlihat sangat mudah. Kalau di Filosofi Kopi 1, konflik utamanya jelas, bagaimana mereka mencari uang untuk bayar hutang dengan menjawab tantangan membuat kopi paling enak.

Ditampilkannya logo sponsor sesaat film akan dimulai, menurut saya sangat mengganggu. Karena kita menjadi sedikit antipati ketika logo atau produk sponsor tersebut masuk kedalam frame disalah satu scene film ini. Efeknya, karena kita sudah tahu sponsor apa saja yang mendukung Filosofi Kopi 2, beberapa kali saya dengar celetukan dari bangku penonton yang mengomentari sponsor-sponsor tersebut saat film berjalan.

Mungkin kalau diawal film tidak ada visualisasi logo-logo siapa saja yang mendukung film ini, para penonton tidak akan begitu sadar akan kehadiran produk-produk para sponsor di film.

Saya tidak anti dengan kehadiran sponsor disebuah film, dan kalau boleh jujur disepanjang film Filosofi Kopi 2 kehadiran sponsor masih terbilang soft. Hanya ada satu moment diawal film mulai, produk sponsornya tiba-tiba muncul saat film belum berjalan 5-10 menit (kalau tidak salah).

Secara keseluruhan logo/produk sponsor yang muncul di Filosofi Kopi terlihat natural, nyaman dan masih dalam konteks pengadegan -ada gak sih istilah ini-. Apalagi pemunculan brand mobil, halus banget dan strategi yang cerdas mengajak merek untuk support.

Yang perlu diacungi jempol adalah pemilihan lagu atau soundtrack film ini. Dari awal film dimulai sampai akhir, soundtracknya sudah dapat mewakili perasaan semangat akan petualangan, persahabatan, cinta dan kepedihan. Semua terwakili, hmmm siapa tahu, lagu-lagu tersebut bisa dikompilasi untuk jadi satu album ya..

Ohh ya hampir lupa, info paling penting adalah. Setiap pembelian tiket nonton Filosofi Kopi 2 di cinema seluruh Indonesia, sama saja menyumbang 1 benih kopi untuk petani kopi. Bahkan kalau tidak salah, tiket nontonnya bisa di tukar dengan secangkir kopi di kedai Filosofi Kopi daerah Blok M jakarta Selatan.

Serius gak mau nonton film ini?


Rating Filosofi Kopi 2
8/10
Mungkin kalau porsi cerita kopi dan Combinya diperbanyak saya bisa kasih 9 

Info Film
Publish : 13 Juli 2017
Durasi : 108 menit
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Produksi : Visinema Pictures
Genre : Drama
Kelompok Umur : 13+
Pemain : Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra Dewi Ames





  
Read More

My Profile

Senin, 10 Juli 2017

Tidak ada komentar
Satto Raji is a popular name of Santo Rachmawan.

Photography and graphic design are hobbies that turn into profession for a man who have educational background at Information Technology of University of Budi Luhur Jakarta.

Willing to learn, upgrading skills to become a professional at creative industry is the main characteristic of him. Photography knowledge he earned started from community, short course, online learning and self-work experiences and also community work-based project.

While graphic design skill that he got from one year school of design, was applied on advertising agency that employed him for several years. 



Writing and blogging are another hobbies of him that open wider opportunity to expand his journey of creative works. Becoming blogger photographer is the next stage he achieved.

He also have big contribution to the establishment of BloggerCrony Community as co-founder.

Joining Toska by focusing on his skill of photography and supporting creative design complete his journey of creative works and to grow to the next level


Contact Us at:
Email : raji.foto@gmail.com


INSTAGRAM

TWITTER

FACEBOOK

YOUTUBE



Read More

Sweet 20 Film Adapatasi Yang Hangat Dan Menghibur

Minggu, 09 Juli 2017

12 komentar
Sweet 20 adalah film adapatasi dari film korea berjudul Miss Granny. Untuk versi Indonesia, CJ Entertainment selaku pihak yang memproduksi film ini di Korea mempercayakan Upi sebagai penulis naskah dan Ody C.Harahap sebagai sutradara.

Ody C.Harahap berhasil membuat saya tertawa lepas di film Me Vs Mami, lalu bagaimana dengan film Sweet 20?.

Gambaran besar film Miss Granny yang dirilis tahun 2014 di Korea adalah tentang seorang nenek berusia 70 tahun yang tiba-tiba fisiknya berubah menjadi umur 20 tahun. Sederhana tapi justru banyak menimbulkan masalah dan tingkah laku yang membuat kita tersenyum sepanjang film. Miss Granny sendiri sudah di adaptasi di beberapa negara asia seperti Cina, Jepang, Thailand, Vietnam, Filipina dan Indonesia. Dinegaranya, Miss Granny disaksikan oleh 8 juta penonton.

Film adaptasi ini menghibur dengan muatan lokal yang diangkat oleh penulis naskah dan sutradara yang keren.
sumber foto: IG @sweet20movie
  
CJ Entertainment mengijinkan Sweet 20 untuk di isi muatan lokal. Maka tidak heran diawal film, suasana lebaran dan sungkeman langsung diberikan tempat sebagai opening scene. Selain itu ada scene yang menggambarkan orang Indonesia yang hobi banget nonton sinetron ketimbang film layar lebar, lalu diperlihatkan pula tipikal sinetron produksi Indonesia yang menurut saya norak tapi berhasil memancing tawa penonton satu studio.

Semoga yang ketawa pada bagian itu sadar, bahwa sinetron macem begini gak mutu. -maaf jadi curcol-.

Upi (penulis skenario) dan Ody C.Harahap (sutradara) berhasil membuat Sweet 20 menjadi film yang ringan, hangat dan menghibur. Tidak perlu berpikir keras untuk menangkap kelucuan yang dihadirkan di film ini. Semua begitu mudah untuk dinikmati.

Slamet Rahardjo berperan sebagai Hamzah yang di idolakan 2 wanita sebayanya.
sumber foto: IG @sweet20movie

Jajaran pemain senior yang mengisi peran pun sudah tidak diragukan lagi.Sebut saja, Slamet Rahardjo, Widyawati Sophiaan, Niniek L Karim, Lukman Sardi, Cut Mini dan Hengky Solaiman. Nama yang terakhir saya sebut adalah kunci dari film ini. Kalau tidak ada karakter yang diperankan Hengky Solaiman niscaya cerita film ini tidak akan berlanjut. Penasarankan, Hengky Solaiman jadi apa?.

Bisa dibilang, film Sweet 20 adalah film yang diperankan oleh aktor 3 generasi. Diwakili oleh Slamet Rahardjo, Lukman Sardi dan Tatjana Saphira. Tidak berlebihan kalau saya mereka mewakili 3 generasi kan?.

Dan berikut ulasan saya tentang akting mereka di film Sweet 20.

Kakek Hamzah dan Nenek Fatma yang fisiknya berubah menjadi gadis berumur 20 tahun
sumber foto: IG @sweet20movie

Slamet Rahardjo berhasil dengan sempurna menampilkan karakter kakek yang sedang jatuh cinta, kakek yang sedang patah hati dan kakek yang konyol dalam 100 menit durasi film ini berjalan. Penekanan kata dan gestur tubuhnya tidak dibuat-buat dan sangat natural. Bahkan hanya mendengarkan suaranya ber-istighfar dan menyebut Allahu Akbar saat mencoba wahana yang extreme di sebuah taman hiburan, berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak karena membayangkan ekspresi kakek 70 tahun yang "tersiksa" di permainan itu.-jahat ya-

Setiap ada film dengan pemeran Lukman Sardi akan selalu jadi prioritas saya, termasuk Sweet 20. Karena jujur saya sebelumya tidak tahu ini adalah film adaptasi, yang membuat saya ingin menonton film ini karena melihat jajaran para pemain senior yang terlibat, salah satunya Lukman Sardi.

Dan benar saja di penghujung film, saya dibuat terkesima oleh akting Lukman Sardi saat berbicara dengan ibunya yang saat itu secara fisik terlihat lebih muda layaknya gadis  berusia 20 tahun. Sangat menyentuh dengan ekspresi yang tidak berlebih tapi intonasi suaranya yang bergetar menggambarkan perasaan bingung antara percaya atau tidak bercampur rasa bangga dan rasa sayang kepada ibunya. Ini scene paling dramatik di Sweet 20. 

Tatjana Saphira,cewek kelahiran 1997 yang mirip dengan Chelsea Islan ini ternyata sudah membintangi 4 film layar lebar. Dan jujur saya tidak begitu memperhatikan aktingnya di 4 film tersebut. Tapi di Sweet 20, Tatjana Saphira menjadi bintang bersama para pemain seniornya. Karakternya nenek 70 tahun yang terperangkap di fisik gadis 20 tahun ini berhasil diperankan dengan sangat baik.

Ternyata Tatjana Saphira pemeran Nenek Fatma muda benar-benar baru berumur 20 tahun pada 21 Mei 2017 lalu sumber foto: IG @sweet20movie 
Cara jalan, gaya bicara dan tingkah laku yang kikuk saat didekati oleh cucu atau anak muda yang umurnya jauh di bawahnya diperankan dengan apik dan konsisten. Tantangan Tatjana Saphira yang terbesar menurut saya adala memerankan sosok yang secara fisik berumur 20 tahun, tapi secara mental dan psikologis sebenarnya berumur 70 tahun dan ini berhasil dia lakukan.
Selain itu dia juga mengisi suara sebagai vokalis dan menyanyikan secara langsung 4 lagu di film ini. Saya yakin ke depannya, Tatjana Saphira siap jadi rebutan produser layar lebar.

Kalau dideretan aktor senior semua berperan maksimal. sayangnya di deretan aktor muda, akting Morgan Oey tidak terlalu istimewa saat harus beradu akting dengan Tatjana Saphira. Morgan Oey memang punya kelebihan di wajah yang rupawan, tapi sayangnya difilm ini tidak terlihat kemampuan aktingnya. Kecuali ekspresi dan tatapan mata yang katanya bisa bikin meleleh kaum hawa. Menurut saya Kevin Julio dan Alexa Key di film ini aktingnya lebih baik ketimbang Morgan Oey.

Mau Tau Review Film Me Vs Mami?


Rating Sweet 20
7.5/10
Penulis skenario dan sutradaranya keren, pemain seniornya gak salah pilih, sayang film adaptasi. Saya suka yang original 

Info Film
Publish : 25 Juni 2017
Durasi : 109 menit
Sutradara : Ody C. Harahap
Penulis Naskah : Upi Avianto
Produksi : Starvision, CJ Entertainment
Genre : Drama, Komedi
Kelompok Umur : 13+
Pemain : Lukman Sardi, Cut Mini, Widyawati Sophiaan, Tatjana Saphira, Niniek L Karim, Morgan Oey, Slamet Rahardjo, Kevin Julio, Alexa Key



Read More