3 Malam Pertama di Lokasi Campervan Daerah Bogor, Review Tumbuhejo dan Puncak Halimun #SND jilid-2

Senin, 20 September 2021

Tidak ada komentar
Di artikel blog sebelumnya sudah dijelaskan kenapa kami mulai “tergila-gila” bersafari dengan membawa Ayang Dayu (Agya Kesayangan Dayu) tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Secara singkat, kami pikir ini salah satu cara yang cukup aman jika ingin bepergian jauh, tidak perlu keluar masuk hotel cukup di mobil saja dan mengurangi bertemu dengan orang diluar lingkaran rutinitas kita. Safari perdana kami dimulai dengan mencari lokasi campervan di daerah Bogor, tepatnya camping ground Tumbuhejo dan Puncak Halimun.


Lokasi ke-dua kami di Tumbuhejo, Sentul Bogor

Tidak hanya untuk perjalanan jauh, Ayang Dayu yang sudah di modifikasi agar bisa digunakan sebagai tempat istirahat tapi dengan mudah bisa di setting ke kondisi normal, jadi alternatif kalau kami ingin "kabur" sekedar minum kopi, makan mie ayam dan soto ayam langganan di daerah Kerinci Jakarta Selatan atau juga makan sotomie di grha Bintaro. Kami tidak perlu khawatir jika tempat tersebut ramai, tinggal cari parkiran lalu buka bagasi belakang, tarik meja dan keluarin kursi lipat, kami bisa makan dengan nyaman tanpa pusing harus menjaga jarak dengan pengunjung lain. 

Di artikel sebelumnya, kami ceritakan bahwa malam pertama kami lewati diparkiran masjid Atta'awun kawasan Puncak Bogor yang sudah berubah drastis. Parkiran lebih luas dan nyaman karena warung di tengah-tengah parkiran sudah dibongkar, tersisa hanya warung yang posisinya menempel di dinding tembok pembatas masjid. Jauh lebih nyaman, kalau sebelumnya lebih mirip pasar malam timbang parkiran.

Pagi tanggal 18 Agustus, setelah sarapan dan memesan teh manis hangat disalah satu warung, kami putuskan untuk pindah lokasi, biaya parkir masjid tidak lebih dari 20ribu. Tujuan awal kami adalah Wisata Sehat Javana yang lokasinya memang tdak jauh dari Atta’awun. Keluar parkiran masjid ke kanan arah Cianjur, tidak sampai 2 kilometer ada jalan kecil disebelah kiri jalan menuju kebun teh. Sayangnya lokasi tersebut ditutup untuk sementara. lokasi campervan di daerah Bogor

Akhirnya kami putuskan untuk menuju daerah Sentul tepatnya gunung pancar, sayangnya lagi-lagi ditutup karena masih PPKM. Dari dua pengalaman tersebut, kami simpulkan, bahwa kawasan yang dikelola pemerintah daerah sudah pasti ditutup sementara mendukung program pemerintah untuk menahan laju penyebaran Covid-19. Salah kami juga yang coba-coba keluar di masa PPKM.

Awal Mula Safari Nusatara Duoraji

Suasana parkir masjid ikonik di daerah puncak jadi lebih nyaman dan luas untuk parkir mobil dan motor

Camping Ground Tumbuhejo

Turun dari gunung Pancar, kami kehabisan ide lokasi campervan di daerah Bogor, dan hampir memutuskan untuk pulang sebelum akhirnya kami menemukan sebuah kafe. Beristirahat sebentar disana sambil berbincang dengan si empunya kafe kami disarankan untuk mencoba ke camping ground Tumbuhejo, pun kalau tidak cocok, pemilik kafe sudah mengijinkan kami untuk bermalam di parkiran kafe untuk sekedar beristirahat semalam atau untuk ke toilet. Baik banget ownernya.

Serai nama kafe itu, kalau dari sentul city, ke arah gunung pancar, lokasi kafe ada disebelah kanan jalan. Bangunannya mayoritas bambu dan kayu, dan dikelilingi banyak pohon serai. Semangat kami kembali timbul untuk tetap bermalam di mobil, minimal kami sudah punya bayangan harus bermalam dimana, sambil mencoba survei ke Tumbuhejo. lokasi campervan di daerah Bogor

Tips pertama saat memulai campervan adalah, JANGAN SURVEI atau DATANG SAAT GELAP. Sumpah, bikin jantung deg-degan, terlebih karena type mobil kami LCGC, kalau spesifikasi mobil 4x4 atau type jeep sih gak masalah menembus jalan tanah dan berbatu di malam hari.

Jalur menuju Tumbuhejo sebenarnya tidak ekstrem, setidaknya masih bisa dilalui mobil pickup pengantar galon yang kami lihat saat pagi esok harinya.

Tapi karena baru pertama kali dan situasi malam hari, kami sempat ragu saat melintas terlebih setelah keluar dari jalan utam desa. Dengan hati-hati dan banyak melafal doa kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah sampai di lokasi, tapi ujian akhir ada saat memasuki gerbang depan Tumbuhejo. Tanjakan dengan sudut 30-40 derajat sudah menanti.

Kalau kalian tidak yakin dan ragu jangan khawatir, ada parkiran dibawah dekat pos jaga. Beruntung Ayang Dayu bisa melewati tanjakannya ini walau sempat kesulitan karena ban kiri depan sempat slip diakibatkan berada di jalur tanah dan rumput basah yang baru saja disiram hujan sore hari.

Tumbuhejo layak direkomendasikan untuk kalian yang ingin coba-coba camping di kendaraan untuk kali pertama bersama keluarga. Lokasi yang agak jauh dari jalan raya, membuat suasana sangat tenang dan bikin kita seperti terasingkan dari rutinitas harian. 

Nilai plus dari lokasi ini adalah, fasilitas kamar mandinya standar villa, super bersih, toilet duduk serta ada air hangat untuk mandi. lokasi campervan di daerah Bogor

Tumbuhejo akan jadi sejarah bagi kami memulai perjalan Safari Nusantara Duoraji

Pun kalau ingin coba bersantai di villa juga bisa, dari yang harga 500rb sampai 2jtan, ada satu villa yang dilengkapi kolam renang. Untuk makan ada cafe atau restoran, baiknya sih bawa perlengkapan masak dan makan sendiri, rasanya lebih syahdu.

Camping Ground Puncak Halimun Caringin, Lokasi Campervan Daerah Bogor

Esok harinya kami turun ke Bogor karena ada urusan pekerjaan, setelah 1 hari bermalam di Bogor, kami lanjutkan perjalanan ke Puncak Halimun di daerah Caringin Sukabumi, lokasi campervan di daerah Bogor yang belum ada satu tahun beraktifitas. Jujur saya masih bingung, lokasinya ini masuk wilayah Bogor atau Sukabumi.

Kalau dari Jakarta, kita bisa lewat tol Jagorawi, lalu lanjut lewat tol Bocimi. Keluar pintu tol Caringin langsung ambil arah kiri. Menuju arah pasar Caringin.

Patokan paling mudah untuk Gmaps adalah Kopi Daong, tempat ngopi yang lagi hits karena berada di hutan pinus. Dari Kopi Daong lanjut mengikuti petunjuk arah yang ada menuju Puncak Halimun. 80 persen jalan beraspal, tapi setelah melewati kopi Daong, kondisi jalanan mulai tanah dan batu kecil-kecil layaknya jalan desa.

Setelah sekian lama nggak meghirup udara segar, Puncak Halimun jadi pelampiasan

Sebenarnya ada dua jalur untuk menuju Puncak Halimun, kalau mobil kalian sudah spesifikasi offroad bisa lewat Cimande, yang ternyata jalurnya cukup ekstrim dibanding jalur yang melewati pasar Caringin. lokasi campervan di daerah Bogor

Kesalahan pertama kami ulangi kembali saat ngecamp di Puncak Halimun, DATANG SAAT MALAM HARI, duuhh bikin perut mules sepanjang jalan.

Padahal jalurnya tidak ekstrem, sebelumnya pun sudah mendapat konfirmasi dari pengelola tempat bahwa type mobil kami sudah ada yang pernah bermalam di Puncak Halimun.

Saat turun kami baru sadar bahwa perjalanan yang mengerikan pada saat malam hari, berbeda jauh disiang hari. Kami disuguhi pemandangan yang cantik, dinginnya angin dan hijau pohon sejauh mata memandang.

Sempat berbincang dengan salah satu pengelola Puncak Halimun, lokasi ini baru resmi dibuka 5 bulan lalu, pemilik tanah mengajak orang-orang yang bergerak di bidang event organizer yang terdampak pandemi untuk mengembangkan lahan tersebut.

Dimulai dari modal awal 3 juta, bangunan registrasi dan wc kala itu sangat sederhana terbuat dari bambu, kayu seadanya. Kini (saat kami kesana) Puncak Halimun jauh lebih nyaman.

Bangunan registrasi dan wc sudah berlantai keramik dengan atap rangka baja ringan, terdapat juga musholla kapasitas 6-8 orang. lokasi campervan di daerah Bogor

Untuk sinyal handphone lokasi yang cukup kuat hanya ada di tempat registrasi, kalau untuk cek WA, email dan sesekali upload media sosial masih sangat mumpuni.

Tapi jangan berharap banyak kalau kalian ingin meeting online via zoom atau google meet, alternatifnya adalah turun ke kopi Daong. Setidaknya ini pengalaman yang kami alami. 

Kekurangan lainnya yang tidak begitu penting adalah, tiang listrik PLN yang belum masuk ke area perkemahan, pengelola mengandalkan genset solar saat malam hari untuk kelistrikan. Jadi kalau ingin numpang charge laptop atau HP sebaiknya saat malam. Karena siang hari, genset jarang dinyalakan.

Apalah arti tidak ada signal dan arus listrik kalau kita bisa menikmati sejuknya udara bersih sambil memandang siluet gunung di kejauhan.
lokasi campervan di daerah Bogor
Mini Camper Agya, jadi solusi kami untuk ber-Safari Nusantara Duoraji

Pengalaman menyenangkan, 5 hari yang memerdekakan jiwa dari rutinitas dan menumbuhkan kembali semangat berpetualang. Banyak cara untuk mensyukuri keindahan alam, melepas lelah, membuang kepenatan dan menikmati perbedaan agama dan budaya, cara kami adalah dengan mini camper bersama Ayang Dayu.

---------
Info lokasi campervan di daerah Bogor Safari Nusantara Duoraji #SND jilid-2 

Tumbuhejo admin 081286000768 Ig @tumbuhejo

Paket yang tersedia; untuk harga kontak admin lansung

Camping Mandiri / Bawa tenda sendiri / Sewa Lahan

Fasilitas :

1. Ticket masuk

2. Sewa lahan / area camping dgn listrik 24 jam

3. Public bathroom / toilet with water heater

Lahan Campervan

1. Tx masuk / 1 kendaraan / per malam

2. Listrik 24 jam

3. Public toilet with water heater

Barak Glamping

Capacity 10 pax

1 unit glamping 1 unit bathroom with water heater

Kasur, bantal, selimut 10 pcs

Mineral water 600ml 10pcs

Glamping Standard

Capacity 5 pax

Kasur, bantal, selimut 5 pcs

1 unit glamping 1 unit bathroom with water heater

Mineral water 600ml 5 pcs

Portable kompor + 1 butane gas

Panci diameter 10cm dan 1 sendok sayur

Mangkok dan piring 5 pcs

Sendok dan garpu 5 set


Puncak Halimun update September 2021

Admin +62 812-1838-4002 Bang Jack

ODT - ONE DAY TRIP | 1/2 Hari

• HTM 20K/org

• Parkir motor masuk camp 15k/motor

• Parkir mobil masuk camp 20k/mobil

• Free penitipan helm

•Toilet

• Air bersih untuk masak

• Spot pangrango

• Spot Halimun

• Spot Salak

• Spot salak trap 2

• Spot Jengkol


CAMPING ADVENTURE | kendaraan di parkiran

• HTM 35K/org

• Sedia keran air untuk masak

• Toilet 10 meter

• Free parkir

• Free penitipan helm

• Spot salak (camp adventure )

• Spot foto

• View gunung salak

• Citylight

• Sunrise

• Sunset


CAMPERVAN | Tenda samping mobil

• HTM 35K/org

• Sewa area mobil 50K/mobil

• Spot pangrango

- Toilet jarak 40-70 meter

- Mushola

- Keran air bersih

- Spot foto

- View sunrise

- View gunung pangrango

- Citylight

- Tarik kabel (150 meter)

• Spot halimun

- Toilet jarak 10-100 meter

- Tempat solat

- Keran air bersih

- View gunung salak

- View citylight

- Tarik kabel (10-100 meter)

- Parkiran mobil/motor

• Spot kebun jengkol Trap 1

- Toilet ke cottage jarak 20-100 meter

- Tempat solat ke cottage

- Tarik kabel (20-100 meter)

- View Lembah


MOTOCAMP | motor di camping ground

• HTM 35K/org

• Sewa area motor 15K/motor

• Sedia keran air bersih untuk masak

• Spot salak trap 2 (Motocamp + Bikecamp)

• Toilet jarak 5 meter

• View gunung salak

• Citylight

• Sunrise

• Sunset

• Parkiran motor/sepeda di dalam site camp


BIKECAMP | sepeda di camping ground

• HTM 35K/org

• Sewa area sepeda 10K/sepeda

• Sedia keran air bersih untuk masak

• Spot salak trap 2 (Motocamp + Bikecamp)

• Toilet jarak 5 meter

• View gunung salak

• Citylight

• Sunrise

• Sunset

• Parkiran motor/sepeda di dalam site camp
lokasi campervan di daerah Bogor
Read More

Mulai Bersafari Mengenal Indonesia yang Gemah Ripah Loh Jinawi

Senin, 13 September 2021

3 komentar
Gemah Ripah Loh Jinawi, secara rangkaian kata artinya adalah negara luas yang rakyatnya tentram, makmur dan subur tanahnya. Dan karena nilai inilah kami mulai melakukan safari atau safar yang bisa diartikan sebuah perjalanan. Sebelum memulai lebih jauh, ijinkan saya bercerita mengenai kendaraan yang menemani kami bersafari.





Jujur banyak banget yang memandang sebelah mata mobil murah LCGC seperti Toyota Agya buatan tahun 2016 yang kami punya. Ibaratnya kalau di kompetisi sepakbola liga Inggris, Agya ini mereka tempatkan di league 2, kasta ke-empat dari kompetisi bola paling padat di dunia.

Bahkan seorang stand-up komedian Indonesia menjadikan Agya sebagai materi stand-upnya. sang komedian bercerita tentang mobil Agyanya yang ringkih, yang kalau disalip mobil lain atau kendaraan besar di jalan tol, mobil akan berasa didorong angin. Lalu saat hujan datang maka suara air yang mengenai atap mobil cukup membuat riuh kabin, bahkan saking ramainya bisa mengganggu penyiar radio yang lagi siaran, Heehhh…? Kok bisa? Lucu? lucu banget, karena saya pun ikut mengamini, hahahaha.

Memang saat stand-up, merk mobilnya di sensor oleh stasiun televisi yang menayangkan dengan bunyi BIIIPPP…., tapi karena saya kagum dengan persona sang stand-up komedian yang punya tagline “otw kaya” dan memang selalu mengikuti akun medsosnya, kemungkinan besar mobil yang dimaksud adalah Agya, mobil pertama yang dia dapat karena membantu temannya saat dalam kesulitan keuangan.

Nggak ada yang salah dengan fakta yang diutarakan stand-up komedian itu, karena memang kenyataannya (kurang lebih) begitu. Saya pun merasakannya, lalu kenapa saya beli mobil ini? Pertama harganya terjangkau dengan kondisi ekonomi saya, kedua saya sudah survei dengan range harga tersebut, sudah sangat sepadan dengan kualitas yang kami dapat. Ketiga karena ini TOYOTA. Yeeppss, entah kenapa saya yakin, selama mobilnya Toyota spare partnya pasti mudah, mulai dari kualitas orisinil sampai kualitas KW level sembilan untuk spare part dan variasi pasti mudah ditemukan di pasaran.

Dan setelah enam tahun bersama Ayang Dayu (Agya Kesayangan Dayu), sebutan kami untuk mobil berwarna putih ini sudah membuktikan ketangguhannya. Sudah banyak kota di lalui, dari barat pulau jawa sampai ke timur jawa sudah pernah dijelajahi, walau belum semuanya. Prestasi jarak terjauh adalah 2 kali ke pulau Bali. Jadi dibalik kekurangannya, Toyota Agya sangat bisa diandalkan.

Dimasa pandemi yang berkepanjangan, saat pembatasan beraktifitas dan bersosialiasi, harus diakui membuat semua orang sampai pada titik jenuh. Semua orang terus mencari cara agar bisa tetap waras dan mencari kebahagian dengan orang-orang yang kita cintai dengan tetap mengedepan protokol kesehatan.

Ini pula yang kami rasakan, 1 tahun full aktifitas dirumah, 2 tahun hanya berkeliaran disekitar tempat tinggal sempat membikin jenuh. Tambah bikin stress kalau ketemu orang yang gak percaya pandemi, yang membuat kondisi ini makin sulit.

Demi menjaga kewarasan, akhirnya menuntun kami (saya dan istri) untuk memulai sebuah perjalanan, dimulai tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 bersama Ayang Dayu dengan konsep mini camper atau bermalam di dekat/dalam mobil.

Ini merupakan cara teraman (menurut kami) saat ingin melepas penat, karena semua kegiatan dilakukan dimobil, sekalipun bersosialisasi dengan yang lain hanya sesaat dan diluar ruang. SOP protokol kesehatan masih bisa kami pantau dan minimalisir.

Sedikit gila, tapi kami yakin bisa, kurang lebih konsepnya sama seperti ritual saya pulang kampung jelang Idul Fitri 15-20 tahun lalu menggunakan kendaraan pribadi. Saat itu perjalanan dari Jakarta-Malang bisa memakan waktu 24 jam disaat musim lebaran. Kami bahkan pernah berlebaran di jalan.

Selama perjalanan selalu punya cerita menarik disetiap tahunnya, berhenti saat kami lelah, istirahat saat mulai penat dimana saja. Warung makan, pom bensin, rumah ibadah sampai pos aparat keamanan pernah kami jadikan tempat istirahat. Pernah juga menginap dirumah warga yang baik hati saat kami sekeluarga kepayahan karena gas Co2 bocor masuk kedalam kabin mobil Holden tua kami. Jadi bermalam di kendaraan bukan hal baru bagi saya.

Indahnya Pagaralam

Dan ternyata, gaya hidup model camper van (ada yang menyebutnya overland) sudah lama dikenal di Indonesia dan sudah ada komunitasnya di media sosial dengan jumlah anggota group lebih dari 50ribu. Bahkan sudah ada yang mobilnya super lengkap layaknya rumah, lalu ada yang berkelana selama 6 tahun dengan mobil tipe jeep yang sudah dimodifikasi. Dan masih banyak lagi cerita mengenai gaya hidup ini.

Semakin membaralah semangat kami memulai bepergian dengan konsep mini camper Agya. Apalagi saat menemukan komunitas Campervan Indonesia di Facebook Group, saya bisa mencari inspirasi atau informasi terkait kegiatan bermalam di dalam mobil. 
Ngomongin komunitasnya lain waktu ya, karena saya masih anak baru, belum berani banyak bercerita. Harus sowan dulu ke para senior.

Kami menyebutnya mini camper Agya, karena mobil kami yang tidak terlalu besar. Mengenai istilah camper van akan saya ulas diartikel lain.

Yang Harus dilakukan Saat ingin Bersafari?

Pertama adalah riset, ini penting banget. Saya butuh waktu 1-2 bulan sampai akhirnya berani memulai perjalanan ini. Pertama riset kendaraan mau dimodifikasi seperti apa, karena Ayang Dayu masih kami gunakan untuk transportasi harian jadi harus dimodifikasi agar bisa dengan sekejap mata berganti settingan dari mini camper ke settingan pabrik atau sebaliknya.

Jadi gambaran saya adalah, nggak perlu bongkar kursi atau merubah konstruksi interior Ayang Dayu.

Beruntung youtube menjawab semuanya, banyak referensi dari dalam maupun luar negeri tinggal search keyword type mobil+camper akan muncul puluhan inspirasi. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan kita untuk menunjang perjalanan.

Sampai saat ini mini camper Ayang Dayu sudah dua kali mengalami perombakan. Versi pertama sudah bisa membuat kami puas dan nyaman bermalam di dalam mobil, tapi masih jauh dari sempurna. Pengalaman pertama justru mengajarkan kami, apa saja yang perlu diperbaiki, apa saja yang dibutuhkan dan dipersiapkan saat melakukan perjalanan. Video mini camper Agya versi pertama ada dibagian akhir artikel.

Versi ke-2 mini camper Ayang Dayu, konsepnya masih sama tapi lebih stabil/kokoh diarea tidur, lalu ada penambahan boks dibagian belakang untuk menaruh peralatan. Lokasi boks tepat di atas ban cadangan, lalu ada meja portable yang sudah built-in jika kami membuka bagasi belakang. Dan untuk menjaga privasi saat isitirahat, kami juga memasang tirai disetiap jendela yang bisa kami bongkar pasang menggunakan klep vakum (ceplokan kaca) untuk menempelnya.

Selain persiapan kendaraan, perlengkapan penunjang juga semakin lengkap, di perjalanan pertama, kami hanya bawa kasur lipat, sleeping bag, selimut, bantal, baju ganti dan alat makan. Senter dan kompor portable, itupun kami beli diperjalanan, bodohnya setelah sampai lokasi kami lupa beli panci atau alat masak. Hampir pasrah nggak bisa masak, tapi tangan Tuhan bekerja, ada orang baik yang meminjamkan dan menyewakan alat masaknya pada kami.

Sekarang kami sudah ada tambahan peralatan berupa tenda dome kapasitas 2 orang, fly sheet, alas tidur, senter, nesting, boks kontainer dan perintilan lainnya.

Setelah riset kendaraan dan perlengkapan, lanjut ke riset lokasi camping. Hmmm ini yang butuh perhatian khusus terlebih karena Ayang Dayu tipe LCGC yang tidak bisa menembus jalur ekstrem.

Saya selalu browsing informasi mengenai lokasi yang akan kami kunjungi terlebih dulu dengan cara menghubungi kontak pengelola tempat untuk menanyakan kondisi jalan apakah memungkinkan type Agya bisa sampai lokasi. Kalau sudah mendapat lampu hijau baru kami meluncur.

Gabung ke komunitas juga bisa jadi salah satu cara terbaik dan tervalid untuk memutuskan kemana kita akan bermalam sesuai dengan kemampuan kendaraan.

Safari Nusantara Duo Raji #SND

17 Agustus 2021, resmi perjalanan kami mulai dan lokasi bermalam pertama kami dengan Mini Camper Ayang Dayu, adalah parkiran sebuah masjid ikonik di kawasan puncak, yaitu masjid Atta'awun. Tidak sengaja bermalam disini yang sebenarnya sudah kami lewati, karena kondisi masjid saat itu sangat ramai, sedangkan kami masih sangat mempertimbangkan mengenai protokol kesehatan.





Setelah melewati masjid Atawun menuju arah Cianjur, kami berhenti disebuah warung pinggir jalan, memesan mie instant, kopi dan beristirahat sejenak karena sudah malam. Menginjak dini hari dan sempat tidur dalam mobil diparkiran warung tersebut, kami putuskan untuk kembali ke masjid Attawun, berharap kondisi lebih lengang karena saat itu sudah jam 1 pagi. Dan alhamdulillah tidak seramai saat kami lewat pertama kali.

Akhirnya malam pertama mini camper kami lewati di parkiran masjid Atta'awun yang banyak berubah dimasa pandemi. Parkiran di tata ulang, warung-warung banyak yang dibongkar sehingga bisa menampung mobil lebih banyak. Jujur menurut saya hal ini membuat kondisi masjid jauh lebih nyaman.

5 hari pertama perjalanan #SND masih jauh dari sempurna tapi malah semakin menguatkan tujuan kami, kenapa harus melakukan ini semua. Alasan terkuat adalah menikmati dan memahami kekayaan nusantara, tidak hanya alamnya tapi juga para penduduknya, tidak hanya merasakan hembusan angin tapi juga keragaman budaya, tidak hanya menikmati indahnya matahari pagi dan syahdu mentari tenggelam tapi juga memahami agama dan keyakinan yang ada di nusantara untuk mempererat toleransi sesama anak bangsa. Perjalanan ini kami sebut Safari Nusantara Duoraji #SND.

Semoga rencana perjalanan kami yang diawali dari rumah Allah ini membawa berkah dan kemudahan untuk bisa melanjutkan Safari Nusantara Duoraji #SND. Aamiin.

Selamat menikmati cerita Safari Nusantara Duoraji selanjutnya. Salam Satu Indonesia.

*next, review camping ground Tumbuhejo dan Puncak Halimun



Read More