Perbaiki Sistem Pendidikan Kedokteran Untuk Pelayanan Kesehatan Yang Lebih Baik

Jumat, 28 Oktober 2016

1 komentar
Kesehatan adalah hak segala warga negara. Sudah kah itu tercapai?.



Kalau menurut saya sudah, permasalahan sektor kesahatan adalah tidak merata dan tidak konsisten. Kurang sinergi antar pemangku kebijakan dan pelaksana dilapangan yang akhirnya menempatkan rakyat kecil jadi korban.

Tidak usah jauh-jauh ke daerah pelosok yang belum terjangkau signal 4G, di daerah satelit penunjang ibukota saja masalah kesehatan selalu saja ada gesekan antara masyarakat dan petugas kesehatan.

Kalau di pinggiran kota besar saja masih terjadi konflik dan debat kusir mengenai pelayanan kesehatan, bagaimana dengan saudara-saudara kita di luar kota..?.  Sejujurnya saudara-saudara kita diluar daerah justru tidak peduli, karena mereka tahu mempertanyakan hanya bikin sakit hati, jadi mereka lebih baik pasrah menunggu mati. Ironis.

Sudah bukan hal yang aneh ketika kita membicarakan mahalnya pembiayaan kesehatan. Hal ini tidak dipungkiri bahwa adanya keterkaitan dengan mahalnya biaya pendidikan kedokteran saat ini dan tidak merata kesempatan masyarakat di daerah untuk mengenyam pendidikan di bidang kedokteran.

Pendidikan kedokteran yang menguras banyak biaya bisa jadi salah satu faktor mahalnya harga pelayanan seorang dokter. Dampak ini tentu membuat kondisi semakin tragis dan miris terlebih lagi untuk masyarakat miskin yang semakin sulit mengakses pelayanan kesehatan secara maksimal.

Masalah tidak hanya sampai di sini, penempatan Dokter yang tidak merata juga makin mempersulit rakyat kecil untuk sehat. Infrastruktur dan prasarana yang tidak mendukung menyebabkan penurunan tingkat pelayanan dokter di daerah.

Kekurangan dokter spesialis di daerah pun semakin menurunkan standar kesehatan. Mahalnya biaya untuk melanjutkan kuliah kejenjang lebih lanjut membuat mereka (para dokter umum) menyesuaikan harga pelayanan kesehatan itu sendiri.

Sistem pendidikan sudah selayaknya direvisi atau bahkan di rubah. Di Indonesia biaya pendidikan dokter spesialis sangat mahal, karena sistem yang selama ini digunakan adalah sistem University Based (benar-benar belajar).

Sistem tersebut tidak tepat dan kita sudah tertinggal jauh, di luar negeri mereka sudah menggunakan konsep Hospital Based, yaitu magang dan mengabdinya para calon dokter spesialis di pelayanan kesehatan yang dibayar secara profeisonal, jadi mereka tidak bayar sepeserpun selama masa pendidikan berjalan.

Tanpa campur tangan pemerintah ini tidak akan berhasil. untuk mewujudkan kesehatan masyarakat secara luas, tidak ada kata lain untuk memulai sistem pendidikan kesehatan yang lebih baik untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang bisa mengabdi untuk negara tanpa harus ribet memperhitungkan masalah biaya.

Kesehatan itu tidak tergantikan walau kadang di abaikan. tapi percayalah bahkan rakyat jelata pun ingin jiwa raga mereka terjaga, tapi karena biaya kadang mereka akhirnya harus pura-pura lupa akan apa yang mereka rasa.

Selamat Hari Dokter 24 Oktober 2016
Read More

Mengintip Surga Keindahan Alam Sumatra Barat di Film Me VS Mami

Jumat, 21 Oktober 2016

2 komentar
Indonesia penuh ragam budaya dan keindahan alam. Hamparan sawah nan menghijau, jajaran pohon kelapa, jernihnya air danau, sejuknya udara dan barisan bukit tinggi yang anggun menjulang. Semua terekam dengan indah di Film Me VS Mami produksi MNC yang di sutradarai Ody C Harahap.

Me VS Mami Serentak 20 Oktober 2016. Uda dan Uni harus tonton film ini
Kenapa film yang di awali dari sebuah produk FTV ini mengambil background Sumatra Barat, atau lebih tepatnya kota Padang? Ody C Harahap menjawab singkat. “Ingin mencari suasana berbeda dengan film-film sebelumnya”.

Dan benar saja, sejak awal dimulai keelokan Sumatra Barat jelas terekam. Budaya dam karakter masyarakatnya pun terlihat jelas, suasana ranah minang makin terasa saat alunan soundtrack lagu mengisi sepanjang film ini. setidaknya logat Padang, Sumatra Barat terdengar kental. Saya yakin para perantau yang jauh dari kampungnya akan merasa rindu jika melihat film Me VS Mami.

Me VS Mami adalah film yang mengangkat cerita tentang konflik ibu dan putrinya. Perseteruan ibu dan anak semakin di uji saat mereka harus melakukan perjalanan darat yang cukup panjang 2 hari 1 malam menuju Payakumbuh. Tapi tenang saja, konflik yang terjadi di film ini dikemas dengan sangat ringan, dengan dialog yang menghibur sehingga kita tidak perlu mengerutkan dahi saat melihatnya.

Cut Mini yang berperan sebagai seorang ibu bermain luar biasa. Dua jempol dari saya, karakter seorang ibu ceriwis yang sangat sayang kepada anaknya. Walau perasaan sayang itu selalu di salah artikan oleh Irish Bella yang berperan sebagai anak Cut Mini. Film yang juga di bintangi oleh Dimas Aditya, Mike Lucock, Piere Gruno, Gading Marten bisa jadi pilihan alternatif yang menghibur bersama keluarga.

Suasana press conference yang ceria menandakan kedekatan para pemain

Proses dibalik syuting film ini pun punya banyak cerita. Dengan konsep road movie saat pengambilan gambar di daerah Sumatra yang mengharuskan para pemain, sutradara beserta kru melakukan perjalanan panjang bersama-sama layaknya rombongan sirkus keliling dari awal sampai akhir, tentu akan banyak kendala. Mulai dari tabrakan beruntun sampai ada pemain yang kemasukan mahluk halus.

Jujur film Me VS Mami ini sangat menghibur, komedinya mudah dicerna dan banyak scene yang akan membuat kita tersenyum bahkan tertawa terbahak.

Kalau menurut saya scene terbaik di Film ini adalah saat Cut Mini, Dimas Aditya dan Irish Bella menabrak kerbau seorang penduduk. Sumpah saya gak akan bosen lihat scene ini, akting para pemainnya natural.

Saran saya Jangan sampai kelewatan scene ini, karena kalau di scene lain Cut Mini begitu mendominasi dengan ceriwisnya tapi untuk kali ini akting Cut Mini mendapat perlawanan dari pemilik kerbau.

Mami Cut Mini yang selalu cerewet saat di syuting maupun diluar syuting
“Salah satu yang sulit adalah saat berdialog dengan Pa’ Zainudin, dia selalu bisa membalikan semua omongan saya” Ujar Cut Mini saat launching film ini.

Dan memang benar saat saya menonton Me VS Mami pertama kali (sudah 2 kali nonton), akting si pemilik kerbau sangat menarik perhatian. Tampangnya saat berdialog lurus/flat tanpa ekspresi, tapi kata-kata yang keluar selalu tidak terduga. Aktingnya sangat lepas dan gak kikuk walau harus beradu akting dengan aktris sekelas Cut Mini.

Ini dia lawan main Cut Mini yang sanggup membuat saya tersenyum-senyum sendiri dengan celotehnya.
Bicara masalah kerbau, sebenarnya saya penasaran bagaimana caranya menyuruh kerbau itu untuk rebahan cukup lama dalam proses pengambilan gambar.

Ternyata Ody C Harahap dan kru sudah mempersiapkan semuanya. Caranya adalah menyiapkan tenaga medis khusus hewan untuk memberikan obat penenang dengan dosis yang tidak berlebihan bagi kerbau tersebut agar bisa diajak “bekerjasama”.

“Pernah Kerbaunya sempat siuman dan terbangun, mau tidak mau syuting terpaksa break sambil menunggu tenaga medis menjalankan tugasnya lalu menunggu kerbaunya tertidur lalu lanjut syuting kembali” Ujar Ody.

Genre Film Me VS Mami ini menurut saya Komedi Drama (bukan Drama Komedi). Kenapa?, karena saya melihat lebih banyak unsur komedi dibandingkan unsur Drama yang melankolis. Drama hanya ada di beberapa scene saja, yang semakin intens di penghujung film. Dan saya suka itu.

Yang sedikit menurunkan penilaian saya adalah, saat Irish Bella jatuh dan terluka lalu digambarkan lukanya itu membahayakan nyawanya. Agak terlalu berlebih dan terlalu dibuat-buat. Karena luka seperti itu, hampir bisa dipastikan tidak membahayakan nyawa setidaknya itu pandangan saya, semoga jadi catatan kecil.

Rating
Ini akan jadi kebiasaan baru saya setelah menulis review sebuah film. Subjektif memang, karena saya tidak punya background di dunia film. Saya hanya penikmat film yang sangat mencintai film Indonesia. jadi kalau ada yang tidak sependapat dengan penilaian saya, tidak apa-apa juga.

Nilainya dari 0-100, akan dinilai secara keseluruhan. Sekali lagi sifatnya sangat subjektif dan jauh sekali menilai dari teknik karena memag bukan keahlian saya.

Untuk Film Me VS Mami Rattingnya 78 sebenarnya mau kasih 80, karena saya gak suka endingnya jadi turun 2 point.

Nilai lebinya Karena saya sangat terhibur dan bisa mendapat informasi baru dan pengalaman tambahan mengenai Tanah Minang dari film ini.

Untuk para perantau di jakarta, Uda dan Uni kalian harus tonton film ini, karena Me Vs Mami akan mengobati rindu sanak keluarga nan jauh di mato.
Read More