Pertempuran Mencuci di Mulai, Semua Akan Indah Pada Akhirnya Dengan Pelembut dan Pewangi Pakaian

Rabu, 08 Juni 2022

6 komentar
“Mau nyuci baju atau setrika?” Tiba-tiba teman hidup saya bertanya, ketika saya sedang menikmati kopi tubruk di pagi hari yang syahdu.

“Hhhhmmm nyuci baju ajalah”. Jawab saya, setelah menimbang beberapa faktor resiko.

Karena dalam pemikiran saya, mencuci baju dengan mesin cuci satu tabung bukan hal yang berat, hanya punya tantangan saat memilih mana pakaian yang harus didahulukan atau memisahkan pakaian berwarna dan yang putih. Sementara kalau menseterika, kita harus duduk berjam-jam menggerakkan tangan ke kanan dan kiri tanpa henti.

pelembut-dan-pewangi-pakaian
Pilih mana, mencuci atau menseterika?

Justru yang paling terberat dari ritual mencuci adalah sesi menjemur pakaian, terlebih kalau tempat jemuran kita terbatas. Salah menempatkan pakaian, keringgg nggak malah bau apek. Tapi masalah bau apek, saya sangat terbantu dengan adanya pelembut dan pewangi pakaian. Soal ini saya akan cerita lebih lanjut.

Umur berapa kalian pertama kali mencuci baju sendiri? Untuk para perempuan pasti punya pengalaman mencuci baju lebih dulu ketimbang laki-laki, pertama karena budaya dan yang kedua karena siklus menstruasi yang membuat anak perempuan harus bisa cepat beradaptasi bertemu dengan deterjen pembersih untuk belajar membersihkan pakaian mereka sendiri plus dengan pelembut dan pewangi pakaian.

Lain hal kalau kita sekolah di asrama atau pesantren, semua anak mau tidak mau akan mencuci bajunya sendiri. Itu kalau di pesantren jaman dulu atau di daerah, kalau jaman now di pesantren yang dekat dengan kota? Hhhhmmmm sepertinya tidak seperti itu juga sih, saya punya 2 keponakan (cowok dan cewek), untuk urusan mencuci baju, orang tuanya rela bolak-balik setiap minggu untuk mengambil pakaian kotor. Atau minimal di pesantren sudah ada fasilitas laundry.

Pertama kali mencuci baju sendiri waktu SMA, itupun saat kemah ketika berkegiatan pramuka. Mau tidak mau, bisa tidak bisa sok-sokan nyuci celana, baju yang terkena lumpur diarea berkemah. Tentu saja mencucinya tidak dengan kaidah pada umumnya, cuma kasih sabun, rendam, kucek-kucek sebentar, bilas dan jemur. Walhasil, sampai dirumah, pakaian saya tetap dicuci kembali oleh (alm) mamah.

Saat Kuliah, karena sering tinggal di rumah pakde atau kosan teman, rutinitas mecuci jadi lebih sering dan lebih terstruktur. Itupun karena melihat kawan-kawan satu kosan yang sering mencuci sendiri, jadi learning by doing. Mencuci pakai tangan tanpa bantuan mesin cuci. Pada jaman itu, laundry adalah sebuah kemewahan.

Ehhh tapi kalian pernah gak diajarain secara langsung bagaimana mencuci pakaian oleh orang tua? Dalam artian, beneran mempersiapkan waktu untuk diajarin loh ya, bukan disuruh-suruh sambil diomelin, hahahahahaha. Karena (alm) Mamah, gak pernah ngajarin, mungkin alasannya karena gak akan bersih atau malah tambah ngerepotin.

Perjuangan dan pengalaman terberat saya dalam urusan cuci baju menggunakan tangan adalah, ketika bekerja sambilan di bengkel mobil saat kuliah. Haddoooohh kalian tahu baju kerja atau werpak? Ituloh yang modelnya kaya jumpsuit, baju sekaligus celana.

Udah kebayang gimana bekas oli dan noda lain menempel di baju kerja kita. Tapi untuk mencuci baju kerja setiap hari bakalan sia-sia dan buang waktu, jadi biasanya saya mencuci satu minggu sekali.

Untuk menjaga higienitas, saya pakai kaos dan celana pendek sebagai dalaman saat menggunakan baju kerja/werpak, beruntung saya bertugas dibagian gudang yang kadang diperbantukan sebagai admin. Tapi saya juga bisa turun langsung saat bengkel sedang ramai atau karyawan sedang banyak yang tidak masuk.

Kalau di ingat-ingat, cara saya mencuci baju kerja/werpak sangat barbar atau asal-asalan. Ini pengalaman saya sendiri loh ya, bisa jadi mekanik atau montir yang lain lebih bersahaja dalam mencuci baju kerjanya.

Jadi saya punya dua/tiga baju kerja, diakhir minggu (biasanya sabtu sore), setelah jam operasional bengkel selesai, saya akan merendam baju kerja. Satu ember air ditambah satu sachet deterjen khusus untuk satu baju kerja. Saya rendam lalu saya tinggal pulang, esok hari atau maksimal di hari Senin, baru saya sikat seadaanya, bilas dan jemur, selesai.

Yessss, minimal saya rendam 1x24jam, bisa juga sampai 2x24 jam kalau saya lagi malas. Gimana? Barbarkan? Kadang kalau lagi apes, baju kerja masih sedikit ada bau apek, karena salah jemur atau kelamaan direndam.

Tapi kok saat itu, saya gak kepikiran untuk menggunakan pelembut dan pewangi pakaian yang terpisah ya? Kalau di sachet kemasan deterjennya memang sudah tertulis termasuk pewangi, walau tidak terasa wanginya. Apa mungkin pada tahun 2000-2006 belum ada produk pelembut dan pewangi pakaian yang dijual terpisah.

Karena seingat saya, Molto yang merupakan brand pelembut pakaian (bayi/anak/keluarga) dan pewangi pakaian pertama di Indonesia dan sudah dijual di 28 negara, baru berhasil menerima penghargaan Top Brand Awards selama 5 tahun berturut-turut pada tahun 2009 hingga 2013. Bisa jadi memang pada saat itu belum ada produk pelembut dan pewangi pakaian yang dijual terpisah, jujur saya kesulitan mencari data kapan Molto pertama kali diperkenalkan ke publik Indonesia.

Pelembut dan pewangi pakaian Molto Korean Strawberry

Beda Pelembut dan Pewangi Pakaian dengan Pelicin Pakaian

Secara logika sederhana, pelicin pakaian itu digunakan saat menyeterika baju yang sudah dicuci dan dijemur sampai kering. Jadi memudahkan kita dalam proses menyetrika agar pakaian yang awalnya kusut jadi lebih mudah licin dan rapi. Setrikanya gak nyangkut-nyangkut.

Sementara pelembut dan pewangi pakaian adalah cairan pelembut yang dicampurkan air yang digunakan setelah kita membilas atau membersihkan pakaian dari sisa deterjen pembersih saat mencuci baju. Agar lebih efektif ada baiknya direndam beberapa saat agar serat kain lebih elastis.

Awalnya hanya ada pelembut pakaian, namun dalam perkembangannya ditambahkan juga aroma wewangian agar pakaian menyebarkan aroma harum dan menyegarkan sesaat setelah dicuci.

Terkait inovasi dan perkembangan produk pelembut dan pewangi pakaian di Indonesia, tim research Molto terus berinovasi untuk dapat menghadirkan produk yang bisa digunakan secara aman dan nyaman untuk seluruh keluarga di Indonesia, salah satunya dengan meluncurkan produk Molto Korean Strawberry.

Kenapa Strawberry dari Korea? Emangnya beda ya sama strawberry dari Indonesia, Bandung lebih tepatnya. Hayyoo, para penggemar Drakor (drama korea, film, series dll) dan Kpop (Korean Pop, musik) tahu gak apa bedanya?

Ternyata strawberry Korea dari segi ukuran bisa 2x lebih besar, lebih juicy dan ternyata jauh lebih manis. Orang Korea tidak perlu menambahkan gula atau pemanis untuk memakan strawberry. Hhhhmm jadi penasaran, sepertinya perlu mencoba strawberry Korea, karena saya selalu menyerngitkan dahi, menahan asam saat mencoba strawberry Indonesia.

Sensasi rasa manis inilah yang coba dituangkan dalam produk pelembut dan pewangi pakaian Molto Korean Strawberry.

Molto Korean Strawberry, bisa jadi rekomendasi pewangi pakaian kalian karena bisa menghilangkan 7 bau membandel diantaranya, bau keringat, bau bawang, bau apek, bau badan, bau amis, bau asap dan bau polusi. Nahh cocok nih, untuk kita yang baru mulai berkegiatan secara normal setelah terkurung oleh pandemi selama 2-3 tahun terakhir.

Ketika kita sudah berkegiatan secara normal, maka produksi keringat akan bertambah yang bisa memicu bau badan. Belum lagi kalau kita naik transportasi umum, asap dan polusi sudah pasti ketemu tiap hari. Jadi memang butuh pewangi pakian yang bisa menjaga kita tetap fresh sepanjang hari.

Agar kegiatan mencuci kalian lebih maksimal dan lebih ada ikatan dengan idola kalian di korea, sekalian aja pakai deterjen Rinso Korean Strwaberry Powder 700G yang mempunyai 8 Keunggulan yaitu menghilangkan bau tak sedap & bau apek pada pakaian, hilangkan noda hanya 1x kucek, menjaga warna pakaian tetap cemerlang, surfaktan mudah terurai.

Surfaktan fungsinya adalah memicu proses pada permukaan sehingga kotoran dapat diikat dan dilepaskan dari permukaan lain yang ditempeli kotoran.

pelembut-dan-pewangi-pakaian
Untuk para pecinta korea dan ingin menikmati sensasi aroma strawberry negeri gingseng

Keunggulan Rinso Korean Strwaberry Powder 700G lainnya adalah mengandung ekstra pelembut, membuat serat kain lembut & halus, lembut & tidak panas di tangan, wangi Molto tahan lama hingga 21 hari dan yang terpenting adalah 99.99% efektif bunuh bakteri dan virus.

Jadi kalau kalian mau tahu bagaimana rasanya menggunakan pelembut pakaian terbaik atau pewangi pakaian terbaik, cusss langsung ke supermarket cari pewangi pakaian korea Molto Korean Strawberry (pouch liquid 680ml) dan Rinso Korean Strwaberry Powder 700G.

Kalo males jalan ke supermarket karena cuaca yang tidak menentu, kadang panas, kadang hujan, kadang berangin, pelembut dan pewangi pakaian dengan aroma khas strawbeery Korea bisa beli di e-commerce (Tokopedia, Shopee atau JD.ID), tinggal masukin keyword Molto Korean Strawberry dan Rinso Korean Strwaberry Powder 700G, terus masukin jumlah (kalo bisa yang banyak, biar gak rugi ongkir) terus tinggal check out, tunggu barang dikirim, cuss nyuci dengan keharuman manisnya strawberry khas Korea.

“Pakaiannya udah kering nih, tinggal disetrika” Ujar saya

“Ya udah baju keringnya taroh dilemari, setrikanya nanti aja pas mau dipakai” Ujar teman hidup.

“Heeeuuhhh..??” Kok saya gak kepikiran, kalo gitu saya pilih nyetrika aja.



Read More

Film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama

Kamis, 02 Juni 2022

Tidak ada komentar
"Bajindduull, yo opo rek sak bioskop yo guyu kabeh" Batin saya saat keluar dari sebuah bioskop di kawasan Jakarta setelah menonton film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama. Semua tertawa, semua keluar membawa kesan, semua gak percaya kalau ternyata filmnya sudah selesai. Seakan masih menunggu dan berharap ada kelanjutan dari scene tersebut, tapi apa mau dikata Fajar Nugros si sutradara menyimpannya untuk Film Srimulat babak ke-dua.

Sebelum berlanjut, tenang saja saya gak akan spoiler di artikel ini.

Jujur saya lahir di keluarga besar orang jawa timur tepatnya di daerah Malang, tapi lahir di Sukabumi, Jawa Barat dan sejak umur 3 bulan sudah tinggal di daerah Petukangan Jakarta Selatan. Jadi bahasa daerah hanya sekedar paham, kalau disuruh bicara ya mohon maaf, saya akan sangat kesulitan.

Begitu masuk bioskop, saya masih bertanya kira-kira film ini akan hadir dalam konsep seperti apa? full dalam bahasa jawa atau menggunakan bahasa Indonesia dengan logat jawa. Semua terjawab sesaat film dimulai, full dalam bahasa jawa tapi ada terjemahan dalam bahasa Indonesia dibagian bawah layar. Hanya sebagian kecil menggunakan bahasa Indonesia atau lebih tepatnya Betawi.

Saatnya Indonesia tertawa, jangan berantem mulu

Untuk saya tidak masalah, karena tanpa melihat teks, saya masih bisa menikmati, lalu bagaimana dengan yang lain? Yang gak bisa bahasa jawa, apa masih bisa merasakan kelucuan film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama?

"Masih bisa..." Ujar teman hidup saya yang asli orang betawi kreo, pun ketika saya tanya teman sperjuangan di komunitas Bloggercrony Indonesia yang asli orang Cipete Jakarta Selatan menjawab hal serupa. Mereka berdua terkekeh sepanjang film. Kalau teman-teman komunitas yang lain terlebih orang jawa, gak usah ditanya bakal tertawa lepas.

Hal serupa terjadi ketika saya bertanya ke anak millenial Jakarta yang ikut nonton bareng, dia gak tahu bahasa jawa, dan gak tau secara detil apa itu srimulat. Mengenal beberapa pemainnya, candaannya tapi gak tahu sejarah.

"Lucu banget dan masih bisa ngikutin" Sambil ngabisin sapo tahu di depannya, sepertinya dia tertawa sampai kelaparan.

Fajar Nugros dan pemain film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama berhasil menghadirkan komedi yang universal dan sederhana. Komedi yang bisa diterapkan di tongkrongan ataupun sekedar kumpul keluarga besar.

Sadar gak sih, kalau di lingkaran pertemanan atau keluarga pasti kita punya sosok sentral pemeriah suasana dengan candaannya? sosok ini bisa ngelucu sendiri atau bisa ngajak yang lainnya ikutan jadi lucu. Nahhh komedi yang ada di film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama kurang lebih seperti itu.

Karena memang, kelucuan Srimulat sebagai grup lawak muncul dari kejadian sehari-hari yang di dramatisasi saat pentas diatas panggung. Jadi wajar kalau orang mudah tertawa atau terhubung karena punya perasaan, "Kayanya gw juga gitu deh..".

Di salah satu scene dijelaskan, ketika ada pemain baru merasa gak klop, merasa kok kurang bisa lucu dan gak bisa berbaur dengan yang lain lalu merasa tertekan, pemimpin grup cuma bilang.

"Apa yang sudah kamu lakukan?" Sambil gesturenya melihat keluar jendela dimana anggota grup Srimulat lainnya sedang bercengkrama menertawai kebodohan mereka akan satu hal. Mungkin ingin memberi petunjuk, berbaurlah dengan keluarga dan teman-temanmu maka, kamu akan menemui kelucuan-kelucuan tersebut.

Di film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama, juga digambarkan bagaimana para anggota Srimulat mendapatkan inspirasi mengenai persona mereka. Bagaimana Tessy yang punya persona kewanitaan dengan batu akik di seluruh jarinya atau Asmuni dengan salah ucapnya.

Terkait gesture, mimik dan intonasi, ini juga peran penting, sehingga teman-teman saya orang betawi tulen dan anak millenial bisa tertawa ngakak. Yeeepps kemampuan akting mereka sudah bisa membuat kita tertawa hanya dengan sedikit mendengar mereka berbicara.

Saya tidak akan membahas sinopsis film ataupun sejarah Srimulat dan sinopsis film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama, karena sudah banyak situs yang membahas hal ini. Saya lebih tertarik membahas para pemainnya.


Mau orang dari suku manapun yang gak ngerti bahasa jawa, atau anak millenial yang gak tau ada grup lawak legenda Srimulat, tetap bakal tertawa ngakak

Kemampuan Akting Pemain film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama Patut diacungi Jempol

"Seorang pelawak akan sangat sulit ketika disuruh memerankan menjadi pelawak lain" Pandji Pragiwaksono berucap, ketika dia mengomentari film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama di akun Instagramnya.

Untuk itu Pandji memahami kenapa semua pemeran yang dipilih Fajar Nugros bukan dari kalangan pelawak atau komedian.

Pandji juga mengacungi jempol para pemain film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama yang secara luwes dan natural memerankan para tokoh anggota Srimulat. Hal ini saya amini, begitu keluar dari bioskop, usai menonton film ini.

Satu yang menarik perhatian saya adalah pemeran Basuki, yang dipercayakan kepada aktor muda Elang El Gibran. Aktor yang sebenarnya tidak baru tapi memang jarang terlihat, bahkan Pandji pun tidak ingat namanya saat memuji kemiripan aktingnya dengan tokoh Basuki.

Kenapa saya bilang bukan aktor baru? Karena lewat cuitan Fajar Nugros saya akhirnya tahu, bahwa gesture dan tubuh Elang pernah tampil di film Habibie dan Ainun, untuk memerankan Habibie muda saat sekolah. Namun, mukanya Elang diubah (dengan teknologi) menggunakan muka Reza Rahadian.

Semakin kagum, ketika kami mendapat informasi saat tidak sengaja bertemu dengan mbak Kalis Mardiasih dan mas Agus, awalnya ingin minta foto bersama, malah dapat cerita, ternyata Elang adalah pemain pengganti dan yang terakhir masuk untuk proses syuting disaat semua pemain sudah saling mulai workshop terlebih dahulu.

"Adaptasinya Elang susah dan berat memerankan Basuki" Ujar mbak Kalis.

Tapi menurut saya adaptasi Elang luar biasa, faktornya karena memang kuliah di jurusan teater, dan mempunyai sosok Rukman Rosadi seorang mentor sekaligus pelatih peran di film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama yang tidak lain adalah bapaknya. Dan beliau juga ikut berperan sebagai pak Teguh pimpinan Srimulat.

"Kami punya satu aktor yang sudah kami pilih, sang aktor sudah ikut workshop, tapi kemudian ia mengundurkan diri karena merasa tak akan menguasai peran Basuki ini. Dan kami sangat rispek dan salut padanya, kami menghormati keputusan si aktor. Perjalanan Basuki pun berlanjut lagi" Ujar Fajar di akun instagramnya. Sosok Basuki karakternya unik, mukanya serius tapi harus bisa lucu.


Berakting itu, memerankan orang lain, bukan memperlihatkan persona kita sebenarnya

Pemain lainpun luar biasa dalam beradaptasi dan observasi perannya masing-masing. Erick Strada pemeran Tessy Sukabul, tinggal dirumah Kabul selama beberapa bulan untuk lebih memahami karakter mantan prajurit TNI AL Marinir berpangkat Kopral Satu itu.

Bio One pemeran Gepeng gak kalah totalitas, "Apa yang harus gw lakukan untuk jadi Gepeng" Ujar Bio One ke Fajar Nugros.

"Jadilah miskin dan rasakan lapar" Ujar sang sutradara.

Jadilah Bio One menahan lapar, tidak makan berbulan-bulan sampai benar-benar terpaksa kalau sudah sangat lapar dan tidak bisa berfikir baru dia akan makan seadaanya. Tujuaannya selain mengejar kurusnya sosok Gepeng, tapi juga ingin mendalami perjuangan seniman ditahun 1980 yang untuk makan saja susah.

Di akun instagramnya Fajar Nugros berbagi cerita mengenai proses Bio One di film Srimulat Hil Yang Mustahal Babak Pertama.

"Jauh hari sebelum proses workshop akting mulai, ia (Bio One) kemana-mana jalan kaki dan merasakan lapar. Pergi ke Solo dan menggelandang tanpa baju. Tidur di hotel-hotel melati dan kamar-kamar sempit. Suatu hari saya dapet info seorang aktor terkenal nginap di sebuah hotel melati di depan Taman Balekambang, tempat Srimulat dulu manggung. Pihak keamanan mengira ia berbuat yang tidak-tidak. Saya menyatakan, aktor saya sedang riset untuk perannya. Malam yang geger saat itu".

Menarik untuk menanti film Srimulat babak ke-dua, Masih banyak cameo tokoh-tokoh Srimulat yang bermunculan dan saya yakin akan jadi kuncian di film selanjutnya. Kalau saya boleh menebak-nebak, film Srimulat Babak ke-dua tidak kalah lucu dan akan lebih dramatis, cenderung ditutup dengan kesedihan karena satu dan lain hal, saya sih belum ada gambaran.

Kenapa saya berasumsi seperti ini, karena sebuah film full komedi dari awal sampai akhir (sepertinya) akan biasa saja kalau ditutup dengan akhir yang benar-benar bahagia. Harus dicampur dengan sedikit kesedihan tapi tetap ada sisi optimisnya. Terlebih ini film biopik yang skenarionya dilandasi kisah nyata, sejati kehidupan dikisah nyata, tidak semua berjalan dengan indah.
Read More