Pelarian Akhir Minggu di Hotel Batiqa Cirebon

Rabu, 20 Juni 2018

Tidak ada komentar
Cirebon, entah kenapa kota di bagian barat Jawa ini terdengar kurang seksi kalau dilihat dari segi pariwisata, kalah jauh jika kita padankan dengan Bandung ataupun Bogor. Padahal  dari segi infrastruktur pariwisata kota Cirebon sudah cukup mumpuni, baik dari jalan maupun hotel. Salah satunya keberadaan hotel Batiqa Cirebon.

grafiti di langit-langit hotel batiqa cirebon

Melihat sejarah atau posisi geografis kota Cirebon, memang kota yang terkenal dengan nasi jamblang dan empal gentong ini hanyalah sebuah kota transit atau persinggahan sementara untuk para pelintas yang ingin ke daerah jawa tengah dan jawa timur. Biasanya kota Cirebon tambah ramai dilintasi saat musim mudik lebaran.

Karakter pesisir Cirebon yang cuaca panasnya mirip-mirip dengan kota Jakarta, Semarang dan Surabaya nampaknya kurang diminati.

Berbeda dengan 3 kota lainnya, walau panas tapi mereka adalah ibukota provinsi sehingga pembangunan kotanya jauh lebih pesat.

Sedangkan kota Cirebon di Jawa Barat hanya (mungkin) menjadi nomor 2 atau 3 setelah Bandung dan kota lainnya di Jawa Barat, ini menurut saya lohh ya.

Tapi kalau kita berbicara potensi wisata, Cirebon tidak ketinggalan. Setidaknya itu kesan saya saat menginjakkan kaki pertama kali di stasiun Prujakan Cirebon.

Sabtu 26 Juni 2018 saya bersama 8 orang teman-teman dari BloggerCrony kabur dari Jakarta menuju Cirebon. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Hotel Batiqa Cirebon.

Berangkat dari stasiun senen jam 07.30 menggunakan kereta Tegal Ekspress, perjalan ke Cirebon kurang lebih di tempuh selama 4 jam. Harga tiket kereta ekomomi ini terbilang murah (50 ribu), tapi cukup nyaman dengan pendingin ruangan dan kebersihan kereta yang terjaga.

Memang bentuk kursi yang tegak lurus membuat kita sedikit tidak nyaman di bagian punggung dan pundak.
Beruntung kita bisa jalan-jalan sepanjang gerbong kereta kalau badan sudah mulai berasa pegel. Atau kita bisa manfaatkan turun saat kereta berhenti di beberapa stasiun.

Sesampainya di stasiun Prujakan Cirebon, kami sudah di jemput oleh 2 kru hotel Batiqa Cirebon yang sudah siap dengan 2 mobilnya untuk mengantar kami menuju Hotel. Perjalanan dari stasiun Prujakan menuju hotel ternyata tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.

Hotel Batiqa Cirebon 

Bangunan tinggi hotel Batiqa Cirebon sangat menonjol, karena tidak ada bangunan di kiri dan kanan yang tingginya menyamai hotel ini. Berlokasi di jalan DR. Cipto Mangunkusumo, Kesambi, hotel bintang 3 ini wajib jadi pilihan kalau kita mencari tempat menginap di kota udang.

Kata Batiqa sendiri mempunyai arti Batik Quality A, atau Batik Kualitas A. Ini semakin memperkuat konsep hotel di kawasan Cirebon yang kental dengan nuansa batik.

Saat masuk ke lobby hotel, kita sudah di manjakan dengan mural batik di tembok hotel dengan nuansa biru, lalu di langit-langit hotel pun tidak ketinggal terdapat ornamen batik dengan dominan warna coklat-kuning.
Tampak depan hotel batiqa cirebon
Hotel Batiqa Cirebon tampak dari depan
Di tembok front office terdapat juga jejeran stempel batik yang terbuat dari bahan logam kuningan. Setidaknya ada puluhan stempel tersusun rapi dengan berbagai macam tipe batik yang menjadi ornamen cantik front office Batiqa Hotel Cirebon.

Masuk kedalam kamar, ornamen batik mega mendung khas Cirebon yang terbuat dari anyaman rotan semakin memperkuat kesan bahwa Hotel Batiqa Cirebon menempatkan batik sebagai konsep utama hotel mereka. Saya kok jadi penasaran dengan hotel Batiqa di kota lainnya ya.

Kali pertama saya menginap di hotel Batiqa Cirebon ada yang unik, yaitu saat kita masuk kamar, pendingin ruangannya sudah aktif.

Awalnya saya heran karena melihat kotak panel untuk mengaktifkan listrik di dalam kamar sudah terdapat kunci berbentuk kartu yang juga berfungsi untuk mengaktifkan aliran listrik dalam ruangan.

Lalu saya coba bertanya kepada teman-teman lain yang berbeda kamar apakah mengalami hal serupa, dan ternyata benar. Saat mereka masuk kamar, kondisi pendingin ruangan sudah aktif.

Waahh senangnya, kita jadi semakin nyaman, setelah merasakan udara khas pesisir Cirebon yang cukup menyengat, saat masuk kamar kondisinya sudah dingin. Ini yang saya sebut keramahan ala hotel Batiqa Cirebon.

Keramahan hotel Batiqa Cirebon memang menjadi nilai penting oleh hotel yang baru hadir 3 tahun di kota Cirebon. Dan keramahan ini berhasil mendapatkan penghargaan Certificate of Excellence dari TripAdvisor di tahun 2016, 2017 dan 2018.

Untuk para pejalan, kota Cirebon sebenarnya mempunyai destinasi wisata yang menarik. Mulai dari wisata alam, wisata religi, wisata sejarah sampai wisata kuliner. Dengan luas kota yang tidak terlalu besar, semuanya bisa kita kunjungi dengan mudah.
pesan transportasi online dengan mudah di lobby hotel
Tab untuk memesan transportasi online. Pengalaman kami, jam 11 malam masih ada armada online yang siaga
Memang kita harus agak berjuang melawan panas di kota pesisir pantai ini, tapi itu semua akan terbayarkan, terlebih transportasi online sudah makin banyak. Terlebih kita bisa pesan salah satu transportasi online langsung dari lobi hotel Batiqa Cirebon dengan mudah dari tab yang disediakan pihak hotel.

Jadi menurut saya,  sudah saatnya kota Cirebon bukan hanya menjadi kota transit saja, tapi wajib untuk disinggahi dan bermalam untuk berlibur. Dengan ragam wisata dan hotel sekelas Batiqa Hotel yang bisa jadi jaminan untuk kenyamanan kita dalam berlibur.

Sampai jumpa di kota Cirebon, Selamat Bermalam di hotel Batiqa Cirebon.
dalam gerbong Tegal Ekspress Ekonomi
Melangkahkan kaki bersama-sama itu lebih ramai ketimbang berjalan seorang diri.

Alternatif Transportasi Mudik, Persiapan Untuk Tahun Depan

Belajar Sejarah di Kepulauan Seribu Dalam Sehari

Read More

Film LIMA Berbicara Tentang Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan

Kamis, 14 Juni 2018

Tidak ada komentar
Apa yang akan kamu lakukan jika ada orang berbeda pandangan dengan kita? Marah, kesel atau biarin saja? Apalagi kalau berbeda pandang terhadap keyakinan kita yang bersifat personal dan berhubungan langsung dengan sang Pencipta, biasanya kita akan langsung reaktif.

film LIMA

Berbeda pendapat boleh saja, yang tidak boleh adalah memaksakan pendapat kita untuk dijalani sama orang lain. Apalagi terkait masalah keyakinan dalam beribadah dan hubungan dengan sang pencipta. Saya jadi teringat ucapan ulama, guru besar dan ahli tafsir Quraish Shihab.

“Bisa jadi saya yang salah dan anda yang benar atau bisa jadi saya yang benar dan anda yang salah..”

Sekelas ulama Quraish Shihab pun masih bisa merasa salah dalam menilai sesuatu apalagi manusia seperti saya yang masih jauh dari kata sempurna dalam beribadah. Sepertinya kita tidak berhak memutuskan orang itu salah atau tidak. Cukup diberitahu saja, kalau dia tidak terima biarkanlah.

Nilai ini yang saya dapat dari film LIMA di 10 menit pertama film ini berjalan. Nilai tentang ketuhanan dalam sebuah keluarga yang berbeda agama, tapi bisa saling menghargai. Sejujurnya konflik yang diangkat diawal film ini cukup berat dan pelik bisa dibilang sensitif.

Kehilangan seorang ibu yang beragama muslim, anak perempuan satu-satu yang seagama harus meyakinkan kedua adiknya agar bisa melaksanakan pemakaman dengan ajaran islam tanpa harus berdebat panjang dalam suasana duka. Dan satu kalimat yang menutup konflik itu adalah.

“Biarkan kami semua yang menanggung dosa ini semua..”. Ujar sang sulung dipemakaman ibunya.

Film LIMA adalah besutan lima sutradara yang memvisualisasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan 3 kakak beradik dalam kesehariannya. Tiap sutradara menggarap 1 sila dalam Pancasila sehingga menjadi satu keutuhan sebuah film.

“Pancasila bukan untuk dihafal, tapi bagaimana Pancasila dipakai dalam kehidupan sehari-hari” Ujar Lola Amaria selaku produser dan salah satu sutradara di film LIMA.

Selain Lola Amaria, ada 4 sutradara yang ikut menggarap film LIMA. Adalah Shalahuddin Siregar yang menyutradarai sila pertama, Tika Pramesti sila kedua, Harvan Agustriansyah sila keempat, dan Adriyanti Dewanto sila kelima. Sementara Lola menyutradarai scene yang membahas sila kedua  tentang kemanusiaan.

Semua cerita dalam film LIMA terinspirasi dari kisah nyata yang ada di kehidupan sehari-hari. Kita pasti tidak akan asing saat melihat kejadian-kejadian di film ini. Bahkan beberapa kejadian sempat menjadi isu nasional salah satunya kasus pencurian biji coklat oleh kakak-beradik di sebuah daerah.

Alur film LIMA ini memang terkesan lambat, klimaksnya tidak cukup kuat. Hanya diawal film yang bisa membuat jantung saya berdegup kencang dan ingin tahu bagaimana scene ini akan diselesaikan. Selebihnya saya hanya menikmati  dan mengikuti alurnya yang sebagian besar saya sudah tahu arahnya mau dibawa kemana. Mungkin karena saya sudah pernah mengetahui cerita ini sebelum di kehidupan nyata.

Yang patut di apresiasi di film LIMA adalah saat mengangkat cabang olahraga yang tidak populer di Indonesia, yaitu cabang olahraga renang. Melihat bagaimana para atlit itu berlatih keras dan konflik di dalam pengurus yang sarat dengan muatan politik dan bisnis menambah pengetahuan baru untuk saya. Dan film yang memberi pengetahuan baru untuk saya adalah film yang bagus.

Film-LIMA
Sumber gambar https://www.instagram.com/p/BjlerPrjhgv/?taken-by=lola.amaria
Film LIMA baik untuk di nikmati oleh para muda, saran saya nikmati film ini lalu ambil nilai positif didalamnya dan berhenti berkonflik.

Sayangnya film ini dikategorikan dewasa, analisa saya mungkin ada beberapa kali adegan anak SMU yang merokok. Karena menurut saya, secara garis besar scene film LIMA ini jauh dari adegan vulgar. Kecuali adegan atlit renang yang sedang berlatih di kolam renang di anggap vulgar, itu patut dipertanyakan.

Film LIMA berbicara masalah Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan dalam sebuah keluarga dan kehidupan sehari-hari. Bagaimana dalam mengatasi masalah kita harus medahulukan Tuhan, mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan persatuan, mengedepankan musyawarah dan tetap dalam asas keadilan untuk semua. Semua masalah akan dapat diselesaikan dengan baik.

Read More

Ketika Rokok Menjadi Candu Berbahaya di Bawah Kokain dan Heroin

Sabtu, 02 Juni 2018

21 komentar

Kemarin saya membaca headline sebuah media daring nasional tentang  pemerintah yang mengganti gambar peringatan kesehatan di bungkus rokok. Dari 5 gambar yang sudah ada, 3 gambar akan di ganti dan 2 gambar diantaranya merupakan gambar penderita penyakit akibat rokok dari Indonesia.


Gambar peringatan rokok yang hanya baru mencapai 40% dari bungkusnya ini menurut saya masih kurang efektif. Bahkan para perokok seakan tidak peduli, mungkin pemerintah bisa mengambil langkah lebih tegas lagi misalnya menaikkan harga rokok.

Memang sih, per-Januari 2018 pemerintah sudah menaikkan harga cukai rokok sebesar 10,04 persen, tapi itu menurut saya masih kurang. Mungkin pemerintah punya pertimbangan salah satunya kesempatan kerja, terutama untuk para petani lokal tembakau dan buruh rokok.

Menurut Dr. Anwar Abbas pengurus pusat Muhammadiyah yang hadir pada diskusi publik “Rokok dan Puasa” yang di fasilitasi oleh Komnas Pengendalian Tembakau pada 28 Mei 2018, Muhammadiyah sudah mengeluarkan Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid tentang hukum merokok.

Bahwa sebenarnya menjadi petani tembakau bukan hal yang menjanjikan, bahkan di Indonesia sudah tidak ada lagi petani tembakau yang murni. Para petani tembakau, sebagian besar sudah mempunyai kerjaan sampingan atau menanam tanaman lain diluar tembakau untuk memenuhi kebutuhan hidup.  

Upah buruh tani tembakau yang masih jauh di bawah UMK (Upah Minimum Kabupaten), memerlukan upaya pemerintah yang lebih serius, agar para petani tersebut bisa alih usaha dari sektor tembakau ke usaha lain yang lebih produktif dan kreatif.

Fakta menarik yang saya dapat dari diskusi tersebut adalah, bahwa rokok merupakan salah satu bentuk narkoba, karena didalam nikotin terdapat zat adiktif. Yang mengungkapkan hal ini adalah dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, Spkj (K), MP, Psikiater RS Jiwa Soeharto Heerdjan.

Menurut penelitian, zat adiktif atau candu pada nikotin sangat tinggi dan berada diperingkat ketiga di bawah kokain dan heroin. 
Dan parahnya lagi zat adiktif nikotin lebih kuat ketimbang alkohol, jadi wajar dong kalau nikotin atau rokok di anggap salah satu bentuk narkoba oleh dr. Adhi?

“Nikotin pada rokok memiliki adiksi yang sangat kuat sehingga perlu niat yang tinggi untuk berhenti”. Ujar dokter yang juga menjadi direktur eksekutif  Indonesia Neuroscience Institute (INI).

Bahkan dengan tegas dr. Adhi menyebut bahwa para pecandu rokok itu sebenarnya mempunyai kecenderungan gangguan jiwa. 
Masuk akal juga sih, kalau kita lihat para perokok itu seakan gelisah dan tidak bisa konsentrasi saat mereka tidak merokok bukannya itu merupakan indikasi ada yang salah dengan jiwa mereka?

Yang harus dipahami oleh para perokok terutama yang sudah berkeluarga, asap rokok yang menempel di tembok rumah, yang melekat di baju dan  sofa ruang tamu akan selalu ada dan siap meracuni orang tersayang kita yang tidak merokok.

Dan berdasarkan penelitian soerang professor dari Belanda, jika orang tuanya merokok, maka 75% anaknya akan jadi perokok. Jadi kalau anda perokok, jangan salahkan anak anda kalau merokok, ada baiknya introspeksi diri terlebih dahulu.

Kebanyakan para perokok selalu berdalih bahwa mereka merokok tidak merugikan orang lain, malah membantu pemerintah dalam hal devisa dari cukai rokok. Baahhhh,…logika dari mana ini kawan?

Menurut data Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, ada beban anggaran JKN atau BPJS membengkak sebesar 1,69 triliun untuk membantu pasien yang berobat karena penyakit terkait konsumsi rokok. Dan saya yakin tahun 2018 angkanya akan semakin bertambah.

Karena angka prevalensi rokok Indonesia tertinggi di dunia, dengan harga rokok yang sangat murah, usia mulai merokok pun semakin muda.
Kalau di tahun 2000 usia 10-14 tahun hanya 9.5% anak usia dini yang baru mulai merokok, di tahun 2013 naik menjadi 17,3%.

Logikanya, makin kesini akan makin banyak orang yang sakit terkait rokok, belum lagi para orang tua yang di tahun 2018 kondisi fisiknya menurun dan mulai terdampak gaya hidup merokoknya.

Jadi kalian para perokok jangan bangga dulu menjadi penyumbang devisa dari cukai yang kalian beli, toh sejujurnya cukai rokok itu masih kurang untuk menanggung beban biaya BPJS kalau kalian harus dirawat.

Sejujurnya saya sedikit iri (sedikit ajaah) sama para perokok, kalau saja mereka menabung uangnya ketimbang dibakar menjadi asap dan abu, mereka bisa ganti Smartphone baru tiap tahun. 

Hitungan kasarnya adalah, kalau sehari menghabiskan rokok satu bungkus seharga rp.20.000,- dalam sebulan mereka bisa nabung sebanyak rp.600.000. Dan dalam setahun terkumpul rp.7.200.000, bayangin kalau ini dikumpulin terus sampai 10 tahun, para perokok itu bisa punya tabungan rp.72.000.000. Keren kan?

Rincian diatas saya dapat dari Dr. Abdillah Ahsan Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Yang sore itu juga menjadi  salah satu narasumber.

Upaya pengendalian tembakau dan sosialisasi bahaya rokok harus tetap digerakkan walau akan mendapat pertentangan yang luar biasa, entah dari pengusaha ataupun para perokok. Tapi kalau dijalankan secara konsisten, persuasif dan kreatif mentargetkan anak muda saya pikir akan lebih berdampak. Salah satunya melarang iklan rokok di semua materi iklan.

Kalau para perokok tua, biarkan saja lah, sudah susah untuk diingatkan. Biarkan mereka jera dengan sendirinya dan kita doakan agar sehat-sehat selalu sampai ajalnya jadi tidak merepotkan orang terdekat saat merasakan dampak akibat mengkonsumsi rokok.

Hadir pula bp.Fuad Baradja (kiri) yang sedang melakukan terapi totok untuk perokok yang hadir di acara agar bisa berhenti mengkonsumsi rokok.

Read More