Ketika Rokok Menjadi Candu Berbahaya di Bawah Kokain dan Heroin

15.12


Kemarin saya membaca headline sebuah media daring nasional tentang  pemerintah yang mengganti gambar peringatan kesehatan di bungkus rokok. Dari 5 gambar yang sudah ada, 3 gambar akan di ganti dan 2 gambar diantaranya merupakan gambar penderita penyakit akibat rokok dari Indonesia.


Gambar peringatan rokok yang hanya baru mencapai 40% dari bungkusnya ini menurut saya masih kurang efektif. Bahkan para perokok seakan tidak peduli, mungkin pemerintah bisa mengambil langkah lebih tegas lagi misalnya menaikkan harga rokok.

Memang sih, per-Januari 2018 pemerintah sudah menaikkan harga cukai rokok sebesar 10,04 persen, tapi itu menurut saya masih kurang. Mungkin pemerintah punya pertimbangan salah satunya kesempatan kerja, terutama untuk para petani lokal tembakau dan buruh rokok.

Menurut Dr. Anwar Abbas pengurus pusat Muhammadiyah yang hadir pada diskusi publik “Rokok dan Puasa” yang di fasilitasi oleh Komnas Pengendalian Tembakau pada 28 Mei 2018, Muhammadiyah sudah mengeluarkan Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid tentang hukum merokok.

Bahwa sebenarnya menjadi petani tembakau bukan hal yang menjanjikan, bahkan di Indonesia sudah tidak ada lagi petani tembakau yang murni. Para petani tembakau, sebagian besar sudah mempunyai kerjaan sampingan atau menanam tanaman lain diluar tembakau untuk memenuhi kebutuhan hidup.  

Upah buruh tani tembakau yang masih jauh di bawah UMK (Upah Minimum Kabupaten), memerlukan upaya pemerintah yang lebih serius, agar para petani tersebut bisa alih usaha dari sektor tembakau ke usaha lain yang lebih produktif dan kreatif.

Fakta menarik yang saya dapat dari diskusi tersebut adalah, bahwa rokok merupakan salah satu bentuk narkoba, karena didalam nikotin terdapat zat adiktif. Yang mengungkapkan hal ini adalah dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, Spkj (K), MP, Psikiater RS Jiwa Soeharto Heerdjan.

Menurut penelitian, zat adiktif atau candu pada nikotin sangat tinggi dan berada diperingkat ketiga di bawah kokain dan heroin. 
Dan parahnya lagi zat adiktif nikotin lebih kuat ketimbang alkohol, jadi wajar dong kalau nikotin atau rokok di anggap salah satu bentuk narkoba oleh dr. Adhi?

“Nikotin pada rokok memiliki adiksi yang sangat kuat sehingga perlu niat yang tinggi untuk berhenti”. Ujar dokter yang juga menjadi direktur eksekutif  Indonesia Neuroscience Institute (INI).

Bahkan dengan tegas dr. Adhi menyebut bahwa para pecandu rokok itu sebenarnya mempunyai kecenderungan gangguan jiwa. 
Masuk akal juga sih, kalau kita lihat para perokok itu seakan gelisah dan tidak bisa konsentrasi saat mereka tidak merokok bukannya itu merupakan indikasi ada yang salah dengan jiwa mereka?

Yang harus dipahami oleh para perokok terutama yang sudah berkeluarga, asap rokok yang menempel di tembok rumah, yang melekat di baju dan  sofa ruang tamu akan selalu ada dan siap meracuni orang tersayang kita yang tidak merokok.

Dan berdasarkan penelitian soerang professor dari Belanda, jika orang tuanya merokok, maka 75% anaknya akan jadi perokok. Jadi kalau anda perokok, jangan salahkan anak anda kalau merokok, ada baiknya introspeksi diri terlebih dahulu.

Kebanyakan para perokok selalu berdalih bahwa mereka merokok tidak merugikan orang lain, malah membantu pemerintah dalam hal devisa dari cukai rokok. Baahhhh,…logika dari mana ini kawan?

Menurut data Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, ada beban anggaran JKN atau BPJS membengkak sebesar 1,69 triliun untuk membantu pasien yang berobat karena penyakit terkait konsumsi rokok. Dan saya yakin tahun 2018 angkanya akan semakin bertambah.

Karena angka prevalensi rokok Indonesia tertinggi di dunia, dengan harga rokok yang sangat murah, usia mulai merokok pun semakin muda.
Kalau di tahun 2000 usia 10-14 tahun hanya 9.5% anak usia dini yang baru mulai merokok, di tahun 2013 naik menjadi 17,3%.

Logikanya, makin kesini akan makin banyak orang yang sakit terkait rokok, belum lagi para orang tua yang di tahun 2018 kondisi fisiknya menurun dan mulai terdampak gaya hidup merokoknya.

Jadi kalian para perokok jangan bangga dulu menjadi penyumbang devisa dari cukai yang kalian beli, toh sejujurnya cukai rokok itu masih kurang untuk menanggung beban biaya BPJS kalau kalian harus dirawat.

Sejujurnya saya sedikit iri (sedikit ajaah) sama para perokok, kalau saja mereka menabung uangnya ketimbang dibakar menjadi asap dan abu, mereka bisa ganti Smartphone baru tiap tahun. 

Hitungan kasarnya adalah, kalau sehari menghabiskan rokok satu bungkus seharga rp.20.000,- dalam sebulan mereka bisa nabung sebanyak rp.600.000. Dan dalam setahun terkumpul rp.7.200.000, bayangin kalau ini dikumpulin terus sampai 10 tahun, para perokok itu bisa punya tabungan rp.72.000.000. Keren kan?

Rincian diatas saya dapat dari Dr. Abdillah Ahsan Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Yang sore itu juga menjadi  salah satu narasumber.

Upaya pengendalian tembakau dan sosialisasi bahaya rokok harus tetap digerakkan walau akan mendapat pertentangan yang luar biasa, entah dari pengusaha ataupun para perokok. Tapi kalau dijalankan secara konsisten, persuasif dan kreatif mentargetkan anak muda saya pikir akan lebih berdampak. Salah satunya melarang iklan rokok di semua materi iklan.

Kalau para perokok tua, biarkan saja lah, sudah susah untuk diingatkan. Biarkan mereka jera dengan sendirinya dan kita doakan agar sehat-sehat selalu sampai ajalnya jadi tidak merepotkan orang terdekat saat merasakan dampak akibat mengkonsumsi rokok.

Hadir pula bp.Fuad Baradja (kiri) yang sedang melakukan terapi totok untuk perokok yang hadir di acara agar bisa berhenti mengkonsumsi rokok.

You Might Also Like

21 komentar

  1. saya dulu perokok aktif, sehari bisa satu setengah bungkus.. saya berhenti merokok karena saya sempat pusing selepas naik kapal ferry.. ketika saya merokok dan kepala masih sedikit pusing, itu pusing timbul lagi, malah datang mual.. setelah sekian lama pusingnya mulai hilang, akhirnya saya terbiasa tidak merokok.. hingga hari ini.. uang rokok dulunya saya pergunakan untuk kegiatan berdagang pada jual beli online facebook..

    BalasHapus
  2. Hitungan ongkos rokok bisa jadi telepon pintar ini membuat perokok harusnya terinspirasi. Eh, setuju banget sama judulnya. 😀 Rokok=Narkoba.

    BalasHapus
  3. Bener juga kakak satto. Kalau uang untuk beli satu bungkus rokok ditabung tiap hari, uangnya bisa buat beli smartphone bagus kalau nabung beberapa bulan saja. Sedihnya aku sering melihat anak-anak remaja sudah mulai merokok. Ada yang masih pakai baju putih abu-abu malah.

    BalasHapus
  4. No offense buat para perokok, tapi aku emang benci banget sama perokok kak Satto. Menurut aku mereka itu menyebabkan polusi udara. Ampun deh, udah gitu egois banget dikata udara cuma dia aja yang hirup. Kami-kami ini kan juga kepingin menghirup udara bersih. Beberapa kali pengalaman berseteru dengan perokok di ruang publik dan lucunya malah aku yang dibully. Sedih kan.

    Setuju banget kalau harga rokok dinaikkan seperti di luar negeri dan dipersulit kalau mau beli. Saat ini aku perhatikan mudah sekali membeli rokok di warung dan minimarket. Udah gitu bisa beli satuan juga. Ini juga sih yang bikin banyak remaja dan anak-anak jadi tergoda untuk mencoba.

    BalasHapus
  5. Aku ga suka dengan perokok. Jadinya krna alergi aku, makanya akhir-akhir ini kalau ada yg ngerokok aku ngehindar, daripada alergi kambuh. Untungnya suami juga bukan perokok

    BalasHapus
  6. Paling sebel kalau ada yang merokok di tempat umum. Dia ga tau kalau asap hasil rokoknya bisa menyakiti orang lain. Atau mungkin tau tapi ngga peduli?

    BalasHapus
  7. Ayahku nggak ngerokok. Nah aku liat juga kakak dan adik laki-laki aku juga nggak pada ngerokok. Pun ngerokok faktor luar juga pengaruhnya gede banget. Selain anak muda sasaran ini juga harus sampai pada para dokter, ustad & ulama karena banyak juga yang masih merokok.

    BalasHapus
  8. paling kesel kalau ngeliat orang dewasa ngerokok di depan bayi dan anak!

    BalasHapus
  9. Sampai hari ini aku masih terus berada dalam lingkungan para erokok aktif. Sudah berkali-kali diperingatkan untuk berhenti, minimal kurangi dulu. Nanti kusuruh mereka baca tulisan Kak Satto ini, biar mereka henponnya pada canggih ga cuma abis buat asap aja.

    BalasHapus
  10. Aku paling sebel sama orang yang ngerokok di sembarang tempat, udah di tegor ehhh malah dia yang lebih galak hahaha. Harapan saya sih semoga rokok itu mahal bangettt jadi kalau mau ngerokok pikir ulang.

    BalasHapus
  11. Harga rokok sekarang naik 5000 perbungkus . Biarpun naik masih banyak peminatnya.

    BalasHapus
  12. Sepertinya udah nggak ngaruh kalau gambar peringatan diganti berkali-kali juga. Sosialisasi bahaya rokok lebih efektif jika menyasar perokok pemula yg usianya relatif muda..

    BalasHapus
  13. Aku perokok pasif, apalagi kalo dah di kantor, ngebuul semuaa. Manteman dekat pun perokok, tapi ya udah pada gede tau mana penyakit dan ga. Giliran ada yg sakit jantung karena merokok, aku bilang "derita loe" bhuahaha puas.

    BalasHapus
  14. Dokter Adhi mantan temen sekerja di RSKO dulu

    BalasHapus
  15. Kalau sudah kecanduan rokok, biasanya susah dibilangin kerugian merokok. Saya mengalami hal tersebut, sering disangkal ketika menunjukkan fakta sisi negatif merokok.

    BalasHapus
  16. Kudunya mah harga rokok dinaikin banget/dimahalin. TITIK.

    BalasHapus
  17. Alhamdulillahnya suami ku tidak merokok, memang dari dulu aku tidak suka dengan cowok yang merokok karena alm.papa aku meninggal salah satunya karena rokok yang menggerogoti tubuhnya.

    BalasHapus
  18. bagus banget ini bahasannya, mesti disodorin ke yg ngeroko biar terbuka pikirannya 😅

    BalasHapus
  19. Yang pasti ROKOK merusak kesehatan dan ga ada gunanya,, uang kok di bakar-bakar ya... Bayangkan harga rokok paling muran 12.000 kalau sehari 2-3 bungkus bisa dihitung uang yang dibakar ada berapa sebulannya. Kalau ditabung bisa jadi gaji 1 bulan itu.. Bisa buat biaya umroh kalau terus ditabung bukan hanya sekedar dibakar dan merusak tubuh diri sendiri dan orang sekitar.

    BalasHapus
  20. bapakku perokok berat, sehari bisa 3 bungkus, efeknya puluhan tahun kemudian ke ibuku ... gara2 bapakku merokok, ibuku sakit paru2 padahal ibuku gak pernah sakit aneh2 + penganut gaya hidup sehat ... selama 6 bulan sakit ibuku hanya bisa rebahan di kasur, sayangnya bapakku belum bisa lepas dari rokok

    setuju dengan rokok itu adiksi

    BalasHapus
  21. Rokok memang jadi racun ga cuma untuk diri sendiri tapi juga orang-orang disekitar si perokok. Setuju banget kalo harga rokok dinaikan, supaya ga mudah membeli rokok terutama untuk remaja2.

    BalasHapus

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.

Entri yang Diunggulkan

HIV AIDS sudah ada obatnya di indonesia