Bukaan 8, Cerita Kegigihan Para Calon Ayah dan Ibu

Selasa, 28 Februari 2017

Tidak ada komentar
Satu lagi film Indonesia yang menggambarkan banyak konflik atau cerita tapi tidak membuat konflik utama menjadi bias. Bukaan 8, sebuah film yang terinspirasi dari cerita Angga Dwimas Sasongko si sutradara saat melalui persalinan anak pertamanya.

Tapi harap diingat, hanya menjadi inspirasi, bukan berarti adegan dalam film ini ada dalam kehidupan nyata Angga.

Enam hari setelah tayang perdana di jaringan XXI Cineplex, saya akhirnya dapat menyempatkan diri untuk melihat film yang sudah sejak lama saya melihat trailer film ini.



Mencari bioskop yang tidak jauh dari rumah di kawasan Bintaro, saya memilih XXI di Bintaro Plaza, kenapa?. Harga tiketnya masih Rp.30.000, woooww pasti ngiri deh. Karena di kawasan Jakarta sudah jarang ada XXI dengan harga bersahabat seperti di Bintaro Plaza. Ehh tapi, Bintaro itu masuk Jakarta atau Tangerang ya..?

Ya sudahlah, kita jangan bahas masalah letak geografis bioskop ini.

Bukaan 8, memang tidak membuat saya meneteskan air mata seperti beberapa film Indonesia lainya. Tapi film ini sungguh dekat dengan keadaan saya, yaitu kekhawatiran menunggu kelahiran anak pertama. Walau kekhawatiran saya dan Alam (diperankan Chico Jericko) jauh berbeda.

Saya bisa merasakan bagaimana tekanan yang dihadapi Alam pada saat itu, saya pun menangis saat menanti kelahiran anak pertama saya. Akting Chico bisa membawa saya kembali di masa saat saya harus bersender di dinding rumah sakit, sambil menahan sesak di dada yang berujung menetesnya air diujung mata dan kata yang menjadi terbata-bata saat harus memberi kabar orang tua di rumah.

Settingan film Bukaan 8 lebih banyak di rumah sakit, kalau saya tidak salah ingat, hanya ada empat lokasi outdoor dengan durasi yang tidak terlalu lama. 80% syuting dilakukan di area rumah sakit. Benar-benar rumah sakit, bukan ruangan yang disetting menyerupai rumah sakit. Jadi aura rumah sakitnya sangat terasa.

Saya yakin rumah sakit di kawasan Semanggi ini memberi suppor entah itu materi ataupun immaterial untuk film Bukaan 8, tapi sutradara film ini dengan cerdik menampilkan rumah sakit tapi tidak terlalu berlebihan sehingga terlihat kesan sponsornya. Walaupun pada akhirnya kita bisa tahu, dimana dan apa nama rumah sakit yang menjadi lokasi syuting film ini.

Salah satu sisi yang menarik di Bukaan 8 adalah pekerjaan Alam sebagai buzzer atau penggiat media sosial yang mempunyai follower 44k di akun twitternya.

Polemik dunia maya digambarkan secara ringan di film ini, yang mungkin sudah menjadi rahasia umum. Mulai dari somasi karena statement di media sosial, endorser, buzzer politik sampai "panasbung".

Ide cerita dan naskahnya begitu  kuat membawa penonton betah mengikuti durasi film ini, jujur saya malah berharap agar film ini jangan cepat berakhir. Banyak nilai-nilai moral yang sebenarnya cukup dalam tapi disampaikan dengan ringan dan mudah dicerna.

Sampai saat inipun saya masih teringat perkataan ibunya Alam, "Anak itu bukan dicari, tapi diberikan". Saya tafsirkan kalau Tuhan sudah memberikan kita anak,berarti tuhan percaya kita bisa menjaga anak yang dititipkan.

Belum lagi konflik ditempat ibadah, ketika seorang pemuda berbicara kepada Alam bahwa, kritis itu tidak hanya dimulut tapi juga dipikiran. Sebuah penggambaran akan riuhnya suasana politik saat sekarang, dimana semuanya hanya mau didengar tanpa mau mendengarkan dan berdiam.

Film Bukaan 8 ini juga sangat detil, penulis naskah ataupun sutradara sangat cerdik memunculkan maksud tersembunyi dari sebuah pesan yang sebenarnya tidak kalah penting. Saya kasih petunjukkan, perhatikan saat Alam membalik bajunya, lalu baca tulisan dibaju alam tersebut. Apa tanggapan anda..?.

Film bergenre Romantic-Komedi ini dibintangi oleh Lala Karmela (Mia) yang berperan sebagai istri Alam, selain itu ada Sarah Sechan, Tyo Pakusadewo, Dayu Wijanto, Mellisa Karim serta Maruli Tampubolon dan masih ada beberapa peran yang berhasil memperkaya cerita di film Bukaan 8 ini.

Sebut saja Desta dan Dwi Sasono yang hanya kebagian peran sebagai profil picture tapi justru menjadi hal yang tidak kalah penting bagi alur film ini.

Untuk para calon ayah, calon ibu, calon kakek, calon nenek, para penggiat media sosial, dokter, suster politikus, pekerja kontraktor dan debt collector harus tonton film ini. Karena ini film anda. Dan saya ikhlas kasih rate 8.75/10 untuk film Bukaan 8.

Enjoy the movie dan dukung film Indonesia.



 
Read More

The Passport, Tempat Nongkrong di Gading Serpong

Sabtu, 25 Februari 2017

4 komentar
Di era digital sekarang, saat makin banyak para generasi millenial yang membutuhkan tempat untuk sekedar kumpul sesama bertukar ide maupun untuk bekerja dan mengerjakan tugas kuliah, maka tidak heran sekarang makin menjamur tempat nongkrong di setiap sudut Jakarta. Seperti The Passport yang berlokasi di Gading Serpong.

Pasti belum banyak yang tahu tentang The Passport, karena memang tempat ini baru di buka pertengahan Februari 2017 ini. Lalu apa kelebihan dari tempat ini?



Kebetulan saya sempat mampir ke The Passport bersama beberapa teman. Karena saya jarang main ke daerah Gading Serpong, maka patokan yang saya tahu hanyalah Summarecon Mall Serpong (SMS). Dipandu google maps dari samrtphone, saya diarahkan untuk belok kiri setelah bundaran, yang setahu saya kalau kita belok kekanan akan menuju Summarecon Digital Serpong (SDC).

Pelan saya menyusuri deretan ruko, sampai akhirnya saya sampai di kawasan ruko Beryl di sebelah kiri, dan tidak begitu lama dengan mudah saya menemukan The Passport. Signage namanya jelas terlihat, Bercat dasar hitam dengan tulisan berwarna merah begitu contrast.

Masuk ke dalam, interior ruangannya dibuat tidak terlalu kaku, dinamis bergaya sedikit vintage. terlihat dari warna yang cendrung kuning dan hitam. Area dilantai dasar tidak terlalu luas, tidak ada meja untuk duduk berkelompok.

Naik kelantai dua, baru nampak jejeran meja dan bangku dengan area yang lebih luas. Cahaya yang menerobos dari jendela besar memberikan penerangan yang cukup bagi ruangan ini, sehingga kalau siang, saat matahari bersinar cukup kita tidak perlu menyalakan lampu.

Ada dua ruangan di lantai dua ini, satu ruangan di sebelah kanan tangga tampak lebih besar didominasi cat warna hitam dengan jendela besarnya. Lalu di sebelah kiri tangga ada ruangan agak tertutup dan lebih kecil dengan nuansa agak kuning yang membuat nuansa terasa lebih romantis.

Menurut saya keunikan The Passport adalah konsep yang tidak biasa, kenapa..?. Biasanya kalau kita masuk ke cafe untuk nongkrong sekedar buat mencari colokan listrik atau jaringan internet gratisan, sepengetahuan saya mereka hanya akan menjual minuman beraneka ragam dengan cemilan ringan.

Jarang mereka mempunyai menu main course yang menjadi andalan, ataupun mengenyangkan perut kita.

Nah, saya cukup kaget ketika di sodorkan menu The Passport. Deretannya main coursenya tidak sembarangan dan ini sanggup mengenyangkan perut kita. Setidaknya di deretan menu main course kita bisa memilih, Meltique Rib Eye Steak. Salmon Beef, Rump Wagyu, Wiener Schnitzel dan masih ada 17 menu main course lainnya.

Dan pada kesempatan pertama saya di The Passport, saya putuskan untuk memesan Lamb Chop Au Gratin untuk main course dan Avocado coffe sebagai pelepas dahaga. Pilihan yang tidak saya sesali di siang itu.

Setelah puas bolak-balik menu sambil menunggu pesanan datang, saya mendapat informasi mengapa tempat ini di namakan The Passport. Pemilik tempat ini ingin memberikan sensasi siapapun yang makan dan berkunjung bisa merasakan masakan dari belahan dunia lain tanpa harus repot keluar negeri.

Jadi kalau kita mau keluar negeri harus bawa Passport, tapi kalau mau mencoba aneka masakan dari belahan dunia lain, cukup nongkrong di The Passport. Kurang lebih analoginya seperti itu.

Dan memang dari menu terlihat banyak sekali pilihan yang bisa di explore para pecinta kuliner. Mulai dari appetizer, main course, dessert, soup, salad, lite meal, spesial beverage sampai asian favorite.

Olahan Steak yang di racik oleh chef The Passport

Sebagai gambaran harga, main course termahal adalah Meltique Rib Eye Steak seharga Rp.82.000 dan termurah adalah Bavarian Omlette Rp.27.000. Untuk minuman range harganya dari Rp.10.000 s/d Rp.30.000 untuk double expresso.

Kalau menu yang saya pesan total harganya Rp.81.000. Avocado coffe seharga Rp.26.000 dan Lamb Chop Au Gratin Rp.55.000.

Mau tahu Rekor Makan Steak Terbanyak..?


Buat yang pertama kali datang ke The Passport di jamin bingung lihat deretan menu makanan dan minuman yang bervariasi. Kalau saran saya, coba Lamb Chop dan Avocado coffenya dulu.

Soal rasa Lamb Chopnya, jujur bikin saya ketagihan. Daging dombanya empuk, lalu di grill dengan tingkat kematangan yang tidak terlalu gosong. Ternyata rahasianya, domba yang di sajikan ini baru berumur 8 bulan dan yang gak kalah penting adalah, dombanya di import dari Australia. Selain itu menu ini dilengkapi dengan kentang tumbuk dan sayuran seperti brokoli dan wortel.

Yeesssss,...ini dia Lamb Chop Au Gratin dan Avocado Coffe. Dengan tampilan seperti ini, sangat menggugah selera siapapun yang melihat

Well, menurut saya, The Passport harus jadi alternatif buat kamu-kamu yang cari tempat nongkrong baru dikawasan Gading Serpong yang gak crowded. memang sih, di sekitaran ada SMS dan SDC, tapi kalau lagi weekend dua lokasi ini riweuh bin rame sehingga jadi gak nyaman.

Buat kamu yang mau main ke The Passport, jangan khawatir untuk masalah parkiran. Karena sudah ada perjanjian dari pemilik ruko untuk memudahkan tamu yang yang ingin berkunjung. Jadi kamu bisa parkir dimana saja di kawasan ruko Beryl dan sekitarnya, seandainya kita tidak kebagian parkir di depan atau didekat The Passport.

The Passport "Your Favourite Hangout Destination"

Norwegian Salmon Steak, salah satu menu Main Course di The Passport

Pannacota, sejenis puding ini bisa menjadi pilihan dessert.

Chocolate Lava yang menggoda ini, memaksa saya harus pamer ke seorang sahabat yang tidak bisa menikmati dessert ini saat sedang berkunjung ke The Passport satu hari sebelumnya.

Di bawah adalah link video youtube ketika saya main ke The Passport, cuma 6 menit tapi bakal banyak kejadian aneh. Just Enjoy it and please subscribe,...please.


Read More

Stop Iklan Rokok, Stop Jadikan Rakyat Indonesia Korban Produsen Rokok Dunia

Selasa, 14 Februari 2017

2 komentar
Haiii Friends,..! Apa kabar..? semoga kita semua diberikan kemudahan dan kesehatan.

Jumat 10 Februari 2017 lalu, saya berkesempatan hadir di acara Ngobrol bareng Moza Paramita buat ngebahas Stop Iklan Rokok. Acara yang berlokasi di Wyl’s Kitchen, Veranda Hotel Jakarta Selatan ini juga dihadiri oleh Sarah Sechan (public figure), RTS Masli (praktisi periklanan), Ekki Soekarno (musisi) dan Muhammad Joni (advokat).

Yang menjadi tema besar pada acara ini adalah, kenapa kita harus Stop Iklan Rokok.

Kehadiran public figure, musisi, praktisi periklanan dan advokat dalam bincang bareng Moza Paramita, memberikan gambaran betapa masifnya iklan rokok di sekitar kita.
Pernah dengar Phillip Moris? Adalah perusahaan besar rokok asal Amerika yang terkenal dengan produk Marlboro yang berdiri sejak tahun 1924. Dan sejak 2005, Philip Morris berhasil kuasai 97 persen saham Sampoerna. Hhmm…, kenapa ya mereka mau membeli salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, padahal mereka sudah mempunyai brand dunia sekelas Marlboro?.

Karena secara pengembangan bisnis, Philip Morris dan Marlboronya sudah tidak bisa berkutik di Amerika. Penjualan mereka terus turun karena kebijakan rokok yang semakin ketat dan tingkat kesadaran akan kesehatan masyarakat Amerika yang semakin baik.

Pembatasan ruang bagi perokok dan industrinya di Amerika semakin mempersulit produsen rokok, sehingga memaksa para pelaku bisnis untuk mencari pangsa pasar baru.
Dan mangsa itu adalah negara berkembang seperti Indonesia, dan bisa jadi tagline Marlboro yang terkenal, “Come to where the flavor is” sudah tidak pantas lagi merujuk ke Amerika, tapi sudah lebih pantas diarahkan ke Indonesia.

Negara Marlboro bukan lagi Amerika, tapi Indonesia, ya Indonesia negara kita tercinta.

Tapi anehnya, pemerintah, anggota dewan dan sebagian besar masyarakat Indonesia seakan tidak sadar bahwa kita sedang dipermainkan oleh para industri rokok dan dijadikan “hewan kurban” demi kepentingan korporat asing.

Kita tidak akan bisa secara frontal melarang orang terdekat kita untuk tidak merokok, karena rasa candu yang sangat besar justru membuat perokok untuk terus  melakukan pembenaran bahwa rokok bukan masalah serius bagi kesehatan. 

Mereka juga mungkin belum sadar atau pura-pura tidak sadar, asap rokok tidak hanya secara perlahan membunuh mereka sendiri, tapi juga membunuh orang-orang terdekat yang  mereka cintai.

Sarah Sechan dan Moza Paramita mempunyai kekhawatiran yang sama terhadap dampak rokok bagi keluarga khususnya anak-anak mereka yang beranjak dewasa.
Lalu apa yang bisa kita lakukan..?

Langkah awal yang bisa kita adalah, bersama-sama dan satu suara untuk dengan tegas melarang iklan rokok, baik di televisi, radio, koran maupun media luar ruang. Karena jujur, iklan rokok sudah sangat mengotori mata kita di kehidupan sehari-hari.

Coba perhatikan, mulai dari rumah kita sendiri. Berapa jauh rumah kita dengan iklan rokok terdekat…? Kalau saya, hanya 10 meter. Begitu keluar pagar, menengok kekanan, nampak sudah iklan rokok di sebuah toko pinggir jalan.

Padahal rumah saya bukan dipinggir jalan besar atau protokol. Lain lagi cerita kalau sudah sampai ke jalan besar, iklan rokok semakin masif dan menggila. Baaaahhhh,…bayangkan gambar-gambar iklan rokok dan taglinenya yang menipu sudah merasuki alam bawah sadar anak-anak kita saat mereka baru membuka pintu pagar rumah.

Regulasi untuk pelarangan iklan rokok sebenarnya sudah lama di bahas di komisi satu DPR RI. Tapi entah kenapa sampai kini masih “njelimet”, padahal sudah jelas rokok tidak membawa dampak positif bagi kehidupan kita. 

Kalau ada sebagian orang yang bilang cukai rokok menyumbang devisa terbesar bagi negara, berarti mereka tidak pernah sadar, bahwa dana BPJS banyak terkuras (8 Trilun/tahun) untuk membiayai pasien yang mengidap penyakit akibat rokok.

Penerimaan pajak rokok tidak sebanding dengan derita yang akan dialami oleh orang-orang yang terdampak oleh asap rokok.

“Sebaiknya Baleg DPR-RI berhentilah beranomali dalam setiap keputusannya, Komisi satu sudah memutuskan dan Baleg DPR jangan “nglunjak” merubah keputusan yang sudah dibuat. Rakyat itu lebih agung daripada wakilnya”. Setidak itu yang di paparkan oleh Muhammad Joni, advokat yang hadir sore itu dan memberikan paparan mengenai UU iklan rokok kepada undangan yang hadir.

Industri rokok sangat kreatif dalam beriklan (kalau saya bilang licik). Memang sudah ada peraturan disetiap iklan rokok tidak boleh memvisualisasikan rokok dan kegiatan merokok, mereka lalu bermain dengan tagline yang membuai. Sasarannya adalah remaja.

Dilevel bawah, atau penjual rokok. Para produsen ini pun punya banyak strategi, salah satunya memberikan sembako jika berhasil menjual rokok dalam jumlah tertentu.

Cara persuasif industri rokok dalam memasarkan produknya semakin pintar, mereka membidik target pasar mereka dalam jangka panjang. Tidak hanya satu atau dua tahun kedepan, tapi mereka membidik pasar 10 tahun kedepan. Setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari penjelasan RTS Masuli sebagai orang yang sudah terjun di dunia periklanan selama 10 tahun.

Masih ingat video viral beberapa tahun lalu yang menjadi perbincangan dunia internasional, ketika di Sumatra ada anak balita berumur 2 tahun sudah lihai merokok?. Ini hanya contoh kecil.

Sebagai praktisi periklanan, RTS Masuli pun pernah menggarap iklan brand rokok, dan dia menceritakan bahwa setiap iklan brand rokok itu hanya memperlihatkan kenikmatan semu, misalnya kalau merokok Marlboro kita jadi seperti cowboy, atau kalau kita menghisap Sampoerna Mild kita jadi generasi muda yang baru dan keren.

Tapi tidak satupun iklan rokok memperlihatkan akibat nyata dari merokok itu sendiri. Dan ini tidak fair.
Rokok memang begitu mudah ditemui di Indonesia, disinilah surga bagi pebisnis rokok dunia untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Dengan penegakan hukum yang masih bisa di “kompromikan” membuat mereka semakin leluasa bergerak.

Semua bisa keren tanpa rokok, kalau belum bisa melepas rokok seperti Ekki Soekarno, setidaknya mari kita dukung larangan iklan rokok diruang publik.
Sebagai seorang ibu, Moza Paramitha dan sarah Sechan punya kepedulian yang kuat mengenai masalah rokok ini. Moza Paramitha bisa secara extreme melawan keberadaan rokok, pun juga dengan Sarah Sechan.

Bahkan Sarah Sechan rela menolak tawaran menjadi MC sebuah acara ghatering perusahaan rokok, ini semua dilakukan demi Rajata, anaknya yang sudah beranjak dewasa.

“Saya hanya ingin mengajarkan prinsip kepada anak saya yang sudah mulai besar”. Ujar Sarah Sechan.
Melawan perusahaan rokok memang tidak mudah, bahkan bisa dibilang cukup berat. Biaya mereka seakan tak terbatas, mereka bisa saja mensponsori dana sebuah kegiatan secara penuh asal nama brand mereka ikut tercantum di event tersebut. Bahkan dalam event olahraga sekalipun mereka mudah sekali menggelontorkan dana. Anda pasti bisa sebutkan event apa sajakah yang saya maksud.

Tapi apakah benar, kalau kita ingin membikin event besar kita harus gandeng perusahaan rokok selaku penyandang dana.

Tidak harus perusahaan rokok, karena masih banyak brand seperti Bank, produsen minuman, sepatu dan masih banyak lagi yang bisa mensponsori sebuah event. Tentunya event itu mempunyai value yang sesuai dengan brand tersebut.

Contoh Ekki Soekarno dengan Indonesia Drum and Percussion Festival 2017. Sudah jadi rahasia umum kalau event musik terasa lebih pas kalau disponsori oleh rokok.  Tapi tidak dengan Indonesia Drum and Percussion Festival 2017, mereka tidak disponsori oleh produsen rokok. Bukannya tidak ada yang mau mensponsori, tapi lebih kepada tanggung jawab moral penyelenggara terhadap para peserta yang hadir.

Karena peserta Indonesia Drum and Percussion Festival 2017, tidak hanya dihadiri oleh musisi dewasa, tapi juga musisi muda berbakat yang masih dibawah umur. Jadi agak aneh kalau ada pesertanya anak dibawah umur, tapi acaranya disponsori oleh produsen rokok.  Ekki memberikan alasan.

Yang pasti, sebesar apapun dana yang produsen rokok punya,  mereka tidak akan bisa membungkam mulut para aktifis untuk terus menyebarkan dampak rokok dan meneriakkan untuk stop iklan rokok di segala media, demi masa depan kita yang lebih baik.

Saya tidak akan mencari konfrontasi kepada saudara dan teman-teman saya yang merokok, Silahkan merokok di tempat yang sudah diberikan dan berikan ruang bagi kami yang tidak merokok agar tidak terpapar asap rokok.  Tapi kita harus satukan pikiran, kuatkan tenaga untuk melarang iklan rokok diruang publik demi masa depan anak-anak kita. 

Untuk keluarga dan anak-anak kita nanti

Read More

Amara Skin & Aesthetic Center Hadir, Karena Setiap Individu Adalah Unik

Senin, 06 Februari 2017

5 komentar
Kecantikan menjadi hal penting bagi sebagian besar wanita, terbukti dengan menjamurnya salon dan klinik kecantikan disekitar kita yang menawarkan paket kecantikan. Lalu apa yang terbersit jika kita diajak menerjemahkan kata cantik tersebut?. Di Acara launching Amara Skin & Aesthetic Center, RSU Bunda Jakarta saya mendapatkan pencerahan mengenai kata cantik.

Sebagian dokter yang siap membantu para wanita menjaga kecantikannya di Amara Skin & Aesthetic Center, RSU Bunda
Apakah cantik itu berkulit putih, bermata bulat, hidung mancung, berambut tebal dan tubuh yang proposional?jadi inget artis korea.

Hmmmm, kriteria ini bisa jadi muncul karena kita terlalu sering melihat para selebritis di televisi hadir dengan dandan sempurna nyaris tanpa cela. Sehingga kita begitu dangkal mendeskripsikan kata cantik tersebut.

Kita lupa bahwa cantik itu harus muncul dari dalam diri, melalui kepribadian yang positif, mempunyai hati yang tulus dan baik sehingga orang yang bertemu dan berinteraksi dengan kita akan melihat sisi lain, tidak hanya sebatas penampilan fisik.

Dr. Rachel Djuanda SpKK, berikan pemaparan mengenai, bahwa wanita yang sedang hamil pun butuh merawat diri.

Kita jangan terobsesi dengan kulit putih seperti saudara-saudara kita yang tinggal di negara 4 musim. Di negara mereka, sinar matahari tidak selalu muncul sepanjang tahun. Beda dengan Indonesia atau kawasan tropis, yang hampir setiap hari bisa menikmati matahari.

Itu yang menyebabkan kulit kita cenderung berwarna sawo matang cenderung hitam, karena memang kulit kita dipersiapkan untuk dapat menerima paparan sinar matahari yang cukup sering.

Intinya, cantik itu berbeda-beda untuk setiap wanita, kita dilahirkan dengan keunikan masing-masing. jadikan cantik sesuai pribadi kita. You are as beautiful as you are.


Ruang perawatan wajah dan kulit di Skin Amara Skin & Aesthetic Center, RSU Bunda Jakarta

Ini yang sangat dipahami oleh Amara Skin & Aesthetic Center RS.Bunda Jakarta.Semua pelayanan yang diberikan bersifat individual, yang artinya perawatan didesain khusus untuk masing-masing orang karena kita adalah individu yang unik.

Amara Skin & Aesthetic Center RS.Bunda Jakarta siap melayani anda untuk tampil lebih cantik dan menarik dengan bantuan dokter spesialis kulit dan kelamin, dokter spesialis bedah plastik, dan dokter gigi yang saling bersenergi untuk medapatkan hasil yang maksimal.

Para wanita biasanya mulai panik mengenai penampilan mereka saat memasuki fase kehamilan dan melahirkan. Mulai dari wajah yang membengkak terutama bagian hidung, perubahan warna kulit, berjerawat, munculnya strecth mark/selulit sampai penambahan berat badan.

Untuk masalah perawatan kulit, masih banyak ibu hamil masih takut menggunakan krim malam, padahal ada krim malam yang aman untuk ibu hamil. Selain itu dengan menggunakan make-up yang benar dan teknik tersendiri, ibu hamil bisa tampil cantik.

Perawatan gigi, gusi dan mulut juga penting bagi wanita yang dalam proses kehamilan untuk kesehatan janin

Selain itu, masalah gigi dan geraham pun harus diperhatikan oleh ibu hamil. Menurut drg.Mira Madjid, MPH Sp Perio, perawatan gigi pada ibu hamil memiliki pertimbangan khusus.

Masalah yang sering terjadi adalah pembengkakan gusi maupun pendarahan pada gusi. Jika ini dibiarkan dan kondisi pendarahan semakin buruk bisa berdampak pada janin, dan bisa mengakibatkan bayi berat lahir rendah.

Proses perawatan gigi pada masa kehamilan hanya bisa dilakukan sebatas prosedur operatif sederhana dan sebaiknya pasien yang sedang hamil ini terhindar dari stress. Bahkan tidak disarankan untuk melakukan foto rontgen gigi di trisemester pertama kehamilam, karena janin pada tahap ini sangat peka terhadap paparan radiasi.

Jadi para wanita hamilpun jangan takut untuk memanjakan dirinya, karena kalian bisa tampil cantik mempesona, syaratnya harus dengan pengawasan dokter yang berkompeten dengan pengalaman dan didukung oleh peralatan terbaik.
Read More