Artikel Populer Bulan Ini

Film LIMA Berbicara Tentang Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan

Apa yang akan kamu lakukan jika ada orang berbeda pandangan dengan kita? Marah, kesel atau biarin saja? Apalagi kalau berbeda pandang terhadap keyakinan kita yang bersifat personal dan berhubungan langsung dengan sang Pencipta, biasanya kita akan langsung reaktif.

film LIMA

Berbeda pendapat boleh saja, yang tidak boleh adalah memaksakan pendapat kita untuk dijalani sama orang lain. Apalagi terkait masalah keyakinan dalam beribadah dan hubungan dengan sang pencipta. Saya jadi teringat ucapan ulama, guru besar dan ahli tafsir Quraish Shihab.

“Bisa jadi saya yang salah dan anda yang benar atau bisa jadi saya yang benar dan anda yang salah..”

Sekelas ulama Quraish Shihab pun masih bisa merasa salah dalam menilai sesuatu apalagi manusia seperti saya yang masih jauh dari kata sempurna dalam beribadah. Sepertinya kita tidak berhak memutuskan orang itu salah atau tidak. Cukup diberitahu saja, kalau dia tidak terima biarkanlah.

Nilai ini yang saya dapat dari film LIMA di 10 menit pertama film ini berjalan. Nilai tentang ketuhanan dalam sebuah keluarga yang berbeda agama, tapi bisa saling menghargai. Sejujurnya konflik yang diangkat diawal film ini cukup berat dan pelik bisa dibilang sensitif.

Kehilangan seorang ibu yang beragama muslim, anak perempuan satu-satu yang seagama harus meyakinkan kedua adiknya agar bisa melaksanakan pemakaman dengan ajaran islam tanpa harus berdebat panjang dalam suasana duka. Dan satu kalimat yang menutup konflik itu adalah.

“Biarkan kami semua yang menanggung dosa ini semua..”. Ujar sang sulung dipemakaman ibunya.

Film LIMA adalah besutan lima sutradara yang memvisualisasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan 3 kakak beradik dalam kesehariannya. Tiap sutradara menggarap 1 sila dalam Pancasila sehingga menjadi satu keutuhan sebuah film.

“Pancasila bukan untuk dihafal, tapi bagaimana Pancasila dipakai dalam kehidupan sehari-hari” Ujar Lola Amaria selaku produser dan salah satu sutradara di film LIMA.

Selain Lola Amaria, ada 4 sutradara yang ikut menggarap film LIMA. Adalah Shalahuddin Siregar yang menyutradarai sila pertama, Tika Pramesti sila kedua, Harvan Agustriansyah sila keempat, dan Adriyanti Dewanto sila kelima. Sementara Lola menyutradarai scene yang membahas sila kedua  tentang kemanusiaan.

Semua cerita dalam film LIMA terinspirasi dari kisah nyata yang ada di kehidupan sehari-hari. Kita pasti tidak akan asing saat melihat kejadian-kejadian di film ini. Bahkan beberapa kejadian sempat menjadi isu nasional salah satunya kasus pencurian biji coklat oleh kakak-beradik di sebuah daerah.

Alur film LIMA ini memang terkesan lambat, klimaksnya tidak cukup kuat. Hanya diawal film yang bisa membuat jantung saya berdegup kencang dan ingin tahu bagaimana scene ini akan diselesaikan. Selebihnya saya hanya menikmati  dan mengikuti alurnya yang sebagian besar saya sudah tahu arahnya mau dibawa kemana. Mungkin karena saya sudah pernah mengetahui cerita ini sebelum di kehidupan nyata.

Yang patut di apresiasi di film LIMA adalah saat mengangkat cabang olahraga yang tidak populer di Indonesia, yaitu cabang olahraga renang. Melihat bagaimana para atlit itu berlatih keras dan konflik di dalam pengurus yang sarat dengan muatan politik dan bisnis menambah pengetahuan baru untuk saya. Dan film yang memberi pengetahuan baru untuk saya adalah film yang bagus.

Film-LIMA
Sumber gambar https://www.instagram.com/p/BjlerPrjhgv/?taken-by=lola.amaria
Film LIMA baik untuk di nikmati oleh para muda, saran saya nikmati film ini lalu ambil nilai positif didalamnya dan berhenti berkonflik.

Sayangnya film ini dikategorikan dewasa, analisa saya mungkin ada beberapa kali adegan anak SMU yang merokok. Karena menurut saya, secara garis besar scene film LIMA ini jauh dari adegan vulgar. Kecuali adegan atlit renang yang sedang berlatih di kolam renang di anggap vulgar, itu patut dipertanyakan.

Film LIMA berbicara masalah Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan dalam sebuah keluarga dan kehidupan sehari-hari. Bagaimana dalam mengatasi masalah kita harus medahulukan Tuhan, mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan persatuan, mengedepankan musyawarah dan tetap dalam asas keadilan untuk semua. Semua masalah akan dapat diselesaikan dengan baik.

Komentar

Paling Banyak di Baca