Ketoprak Politik

15.41




“Mas Jokowi, pesan Ketoprak 1, tidak pakai bihun, kerupuknya di pisah, cabenya 3 saja”

“Wiiihh pak Prabowo, bungkus apa makan di sini? tumben siang-siang masih di rumah, nggak berangkat kerja..?”

“Dibungkus aja, mau makan di rumah sambil liat keputusan MK. Kebetulan Hari ini lagi libur”

Saya Tersedak dan sedikit terkejut mendengar dialog 2 orang ini di gerobak ketoprak pinggir jalan di sebuah pasar pada kamis pagi. Sejenak memicingkan mata  kearah mereka untuk mengintip, bahkan sendok berisi ketupat berbalut bumbu kacang yang di tutupi kerupuk terpaksa tertahan ketika ingin masuk kedalam mulut. Seakan penasaran dialog apa lagi yang akan terjadi.

Seorang dengan celana pendek warna hitam model kargo, potongan rambut klimis, perut yang sedikit buncit dengan sendal gunung lengkap dengan gadget di tangan kiri -sosok ini yang kemudian di panggil pak Prabowo oleh penjaja ketoprak- Sementara, sosok satunya lagi. Memakai celana panjang warna krem lengkap dengan rampel di bagian pinggang, kemeja lengan pendek warna hijau atau lebih tepatnya biru, hhhmmm sebentar mungkin lebih tepatnya kemeja berwarna hijau kebiruan, di lengkapi handuk kecil putih yang melingkar di lehernya. -ini yang dipanggil mas Jokowi oleh pak Prabowo tadi-.

Percakapan diantara mereka masih berlangsung, sementara saya masih berusaha menghabiskan sisa ketoprak di piring.

“Kalo gugatan di MK di tolak gimana..?”

“Yaahh,..biarin aja. Yang penting sudah mengambil langkah yang benar”

“Semoga pendukungnya nggak rusuh ya, tadi saya denger di RRI masa udah mulai kumpul” Mas jokowi nyerocos sambil memotong ketupat.

“Nggak mungkin rusuh lah, kalo rusuh berarti mereka bodoh. Malah menjelek-jelekkan nama Prabowo dan partai koalisi. Siapapun pemimpinnya tidak masalah asal memihak untuk kepentingan rakyat” ujar pak Prabowo sambil mata dan tangannya tidak teralihkan dari gagdetnya.

“Wah sidangnya di tunda sampe jam 2 siang nanti.”Lanjut pak Prabowo.

“Prabowo itu orangnya baik, tapi karena di bisikin sama orang-orang yang gak jelas, malah jadi bingung sendiri. Logikanya ketua tim suksesnya Prabowo itukan mantan ketua MK dengan reputasi terbaik. Kenapa mereka nggak diskusi dulu dengan beliau, sebelum memutuskan
untuk mengajukan tuntutan ke MK. Biar Prabowo tahu seberapa besar kemungkinan menangnya. Ini sih kesenengan pengacaranya, dapet pemasukan lebih. Apalagi ada wacana kalo gagal di MK mereka mau ke PTUN, ini sudah  benar-benar jelas Modus para tim pengacara yang iri lihat tim suksesnya kebanjiran duit.” Pak Prabowo berteori sambil sibuk memantau kejadian terkini lewat media online di gagdet miliknya.

“Kalo saya lihat ada pihak yang sengaja agar Prabowo dan partainya -gerindra- terlihat menjadi sosok yang arogan dan tidak mau kalah, dan mengarah ke hal negatif. Kalo dipikir Masuk akal juga, suara partai Gerindra tahun ini berhasil melampaui partai yang sudah eksis terlebih dahulu. Pasti banyak partai yang iri atau sirik kampung, dan ini salah satu cara agar pemilu periode depan perolehan suara Gerindra jeblok”. Pak Prabowo terus beretorika sambil tangannya sesekali mengambil kerupuk dari kaleng.

Wiiiihhh dahsyat juga teori konspirasi bapak yang satu ini, Saya membatin. sambil terus memasang telinga ingin tahu lebih lanjut pembicaraan mereka, sementara tangan kanan saya tetap menyuapkan sendok demi sendok ketoprak kedalam mulut.

“Pokoknya selama saya masih bisa jualan ketoprak, trus anak saya bisa sekolah dan kami sekeluarga bisa cek kesehatan dengan mudah, saya pasti dukung siapapun Presidennya”. Mas Jokowi tidak kalah semangat sambil memberikan ketoprak pesanan kepada pak Prabowo.

“Hahahahaha, betul itu. Siapapun presidennya, NKRI tetap negara kita persatuan dan kesejahteraan masyarakat diatas segalanya”. Lepaslah tawa mereka berdua, Pak Prabowo menerima bungkusan setelah sebelumnya memberikan uang ke Mas Jokowi.

Tidak terasa,entah mungkin karena lapar, habis sudah ketoprak yang ada di piring depan saya, masih tersisa cukup banyak bumbu kacangnya tapi saya tidak berniat untuk menghabiskan. Setelah meminum teh tawar hangat dari cangkir berbahan kaleng, meluncurlah pertanyaan bodoh yang sedari tadi tertahan dimulut saya.

“Mas,…” saya memanggil penjual ketoprak yang sedang sibuk menggoreng tahu.

” Namanya beneran Jokowi…??”
Penjual ketoprak agak tertegun, lalu kemudian tersenyum lebar.

“Hahahahhahha….bukan mas, nama saya bukan Jokowi. Itu hanya panggilan saja waktu Pilpres lagi ramai-ramainya. Kebetulan saya pendukungnya. Tuh masih ada stickernya” Penjual ketoprak itu menjelaskan sambil mematikan kompornya dan menunjuk sticker yang masih menempel di sisi kanan gerobak.

“Berarti, bapak yang tadi itu namanya juga bukan Prabowo ya..?saya masih mengeluarkan pertanyaan bodoh.

“Bukan mas,…dia itu ketua RW di sini. Kebetulan dia dukung prabowo. Awalnya sih nama panggilan itu buat lelucon saja, eh malah keterusan sampe sekarang.”

“Nggak berantem Mas…?”Pertanyaan bodoh saya yang ketiga keluar juga.

“Nggak tuh,…Justru pak Prabowo lebih senang diskusi masalah PilPres itu di warung saya mas. Dia bilang kalo bahas sama orang lain, ujung2nya pasti berantem. Jangankan sama orang lain, sama keluarganya yang beda visi aja hubungannya sempet renggang.” Jelas mas Jokowi.

“Untuk itu kalo pak Prabowo mau tuker pikiran masalah pilpres, dia sering mampir. Ngobrol sambil makan ketoprak. Kadang kita juga erdebat sih, tapi berhubung pak Prabowo sibuk menghabiskan ketoprak dan saya sibuk ngulek ketoprak kita nggak pernah emosi kalo lagi bertukar pikiran. Bahkan kalo ada isu-isu miring tentang Jokowi, pak Prabowo nggak segan-segan buat nanya atau SMS hanya sekedar ingin tahu penjelasan dari saya. Saya pun begitu, kalo ada uneg-uneg tentang Prabowo begitu ketemu langsung saya tanya. Saling croscheck”. Penjual ketoprak itu menjelaskan.

Demokrasi ala gerobak ketoprak yang indah. Andai para elit politik bisa makan ketoprak disini, pasti gak bikin rakyat bingung dengan semua dalil-dalil kepentingan mereka. Demi bangsa yang lebih maju, demi negara yang lebih berdaulat semuanya harus bersatu kaya “ketoprak”, bumbu kacang, ketupat, bihun, kerupuk,toge bersatu dalam satu piring. Gak bisa di bayangin kalo kita cuma makan bumbu pecelnya saja, atau hanya makan ketupatnya saja. Dijamin gak nikmat. saya jadi penasaran pengen makan ketoprak lagi pasca keputusan MK yang menolak semua gugatan salah satu pihak. Merasa diperlakukan tidak adilkah pak Prabowo si ketua RW seperti halnya Prabowo dan koalisi merah putihnya yang menganggap hakim MK salah dan tidak adil. Mungkin tidak adil bagi mereka, tapi keputusan ini sanggup memenuhi rasa keadilan sebagian besar warga negara Indonesia.

Salam Ketoprak

You Might Also Like

0 komentar

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.

Entri yang Diunggulkan

Prajawangsa City Cijantung, Super Block Di Timur Jakarta