Selasa, 13 Desember 2022

Kampung Berseri Astra Cidadap Padalarang Menjaga Kelestarian Karst Citatah, Kekayaan Alam Berumur Ribuan Tahun

Melewati kilometer demi kilometer mengendarai Ayang Dayu, didampingi oleh orang terkasih adalah kepuasan tersendiri. Menjelajah daerah baru, membelah malam, merasakan embun pagi, sapuan angin lembah menerpa pipi, adalah hal yang tidak mungkin bisa kami dapatkan di kota besar seperti Jakarta tempat kami banyak beraktifitas.

kampung-berseri-astra-cidadap-karst-citatah
Ayang Dayu yang selalu setia menemani perjalanan kami. (Sentul 2022)
17 Agustus 2021, satu tahun lebih setelah pandemi masuk ke Indonesia, kami menemukan gairah baru, sebuah cerita petualangan yang membuat kami bisa lebih menghargai betapa pentingnya untuk bersyukur atas semua cipataan Tuhan. Dan merasakan kehangatan antar manusia yang awalnya tidak saling mengenal satu sama lain.

Campervan, cara baru kami untuk melepas penat, untuk memberi jeda kepada tubuh ini bisa merasakan rileksasi yang kalau dikonversikan dalam bentuk uang, akan sulit dihitung. Jangan bayangkan campervan ala kami, menggunakan mobil berbadan besar dengan tempat tidur, perlengkapan dapur, toilet lengkap didalamya (walau ini jadi mimpi kami). Yang kami punya Ayang Dayu, sebutan untuk Toyota Agya type TRD tahun 2015 yang kami sulap menjadi minicamper.

Perubahan sederhana pada Ayang Dayu sengaja kami bikin sefleksibel mungkin karena masih kami jadikan kendaraan andalan. Jika ingin bepergian jauh, Ayang Dayu bisa disulap menjadi tempat istirahat yang nyaman, tapi untuk penggunaan harian mobil LCGC nan tangguh ini siap sedia menghantarkan kemana kami berkatifitas, bahkan mengantar orang tua jika harus kontrol ke rumah sakit.

Perjalanan pertama kami pada hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 tidak berjalan mulus, kami harus menepi dan beristirahat dipinggir jalan, karena masih penerapan pembatasan beraktifitas, walau sudah jauh lebih longgar. Akhirnya sebuah pelataran masjid di daerah puncak menjadi pilihan kami untuk bermalam, sampai pagi menjelang.

Mencari tempat bermalam dengan konsep campervan (tidur di mobil) belum menjadi hal yang familiar di Indonesia, masih dianggap aneh dan tidak wajar.

“Emang lo bisa tidur berdua di mobil” Tanya ibu kami yang berumur 80 tahun lebih, ketika tahu apa yang kami lakukan bersama Ayang Dayu.

Sebenarnya dibeberapa wilayah jawa barat sudah tersedia campground yang memungkinkan kita bermalam di mobil, tapi kami harus pintar memilih, terlebih spesifikasi Ayang Dayu bukan untuk jalan ekstrem jika harus melalui jalan menanjak dan berbatu.

Kalau saja kami mengetahui informasi mengenai Kampung Berseri Astra, bisa kami jadikan referensi untuk kami datangi. Karena secara logika, (seharusnya) infrastruktur menuju desa tersebut lebih layak, timbang kami harus membelah bukit dengan jalan berbatu.

Kampung Berseri Astra Cidadap Padalarang


Kampung Berseri Astra, program Kontribusi Sosial Berkelanjutan Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pengembangan yang mengintegrasikan 4 pilar program yaitu Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.

“Mungkin banyak orang beranggapan bahwa program corporate social responsibility kami hanya sekedar pencitraan, namun kami selalu dalam menjalankan program berpegang teguh pada nilai dan visi yang ada di Astra yaitu Catur Dharma terutama poin pertama, Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara" Ujar Riza Deliansyah, Chief of Corporate Affairs Astra dikutip dari e-book/aplikasi Inspirasi dari Kampung Berseri Astra yang bisa di download melalui playstore.

Program yang diluncurkan sejak tahun 2013 ini, tujuannya sederhana, bagaimana mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah tersebut. Untuk mewujudkannya, program Kampung Berseri Astra mengajak elemen masyarakat untuk bekerjasama langsung dengan pemerintah daerah yang memiliki peran penting pengembangan wilayah mereka.

Ada 4 kategori Kampung Berseri Astra, yaitu kampung wisata, kampung produktif, kampung hijau dan kampung budaya. Tentunya yang sangat menarik perhatian saya adalah kampung wisata dan kampung budaya, tanpa mengesampingkan kampung produktif dan kampung hijau, tapi menurut saya, banyak wilayah di Indonesia dengan keragaman budaya dan keramahan penduduknya yang bisa menjadi potensi wisata.

Terlebih kalau kita berbicara konsep wisata bermalam di dalam mobil (campervan) yang menjadi alternatif disaat pandemi, karena dianggap lebih fleksibel dan tidak membutuhkan infrastruktur yang rumit. Hanya lapangan parkir, MCK dan arus listrik jika memungkinkan. Sekalipun tidak ada, para pegiat campervan sudah siap dengan daya listrik dari kendaraan masing-masing.


Potensi besar wisata yang tersembunyi dibalik karst Citatah
sumber foto IG @kba_cidadap_padalarang
Penulusuran mengenai Kampung Berseri Astra mengarahkan saya ke daerah Padalarang, lebih tepatnya Kampung Berseri Cidadap. Bukan tanpa alasan, beberapa kali setelah melakukan perjalanan panjang di daerah Bandung dan sekitarnya, alih-alih melewati jalan tol, kami lebih baik lewat Padalarang, Cianjur, Puncak, Bogor dan akhirnya masuk tol Jagorawi dan kembali masuk ke Jakarta.

Padalarang menurut pandangan kami (seperti) tidak ada yang spesial, kalah menjual dibanding dengan daerah wisata Bandung yang menjual kesejukan. Wajar saja, karena Padalarang dikelilingi gunung batu yang menjadi incaran para penambang legal. Satu-satunya landmark terkenal di Padalarang (menurut saya) adalah masjid yang di design oleh bpk.Ridwan Kamil.

Lalu apa yang spesial di KBA Cidadap Padalarang? Jujur saya lebih tertarik dengan cerita warga yang ingin mempertahankan kelestarian wilayah mereka. Karena percuma jika organisasi besar, pemerintah atau pihak luar lainnya berteriak masalah kelestarian lingkungan, tapi tidak selaras dengan semangat warga maka akan sia-sia.

KBA Cidadap Padalarang berada di kawasan Karts Citatah, kawasan yang dilindungi karena merupakan warisan karst tertua yang tersisa di pulau jawa. Coba ulangi lagi kata “yang tersisa di pulau jawa” tapi kali ini diucapkan dengan lebih dramatis.

Eko Yulianto, peneliti dari Puslit Geoteknologi LIPI, dikutip dari website lipi.go.id menjelaskan Karst Citatah merupakan kawasan karst yang tercipta dari 30 juta tahun lalu, terbentang sejauh 6 kilometer dari Tagog Apu sampai Rajamandala.

Tentunya kita tidak ingin Karst Citatah bernasib sama dengan sepupunya Karst Jogja yang terbentuk 40 juta tahun lalu, karst Jogja saat ini tinggal tersisa dengan ukuran 5x5x10 meter akibat penambangan ilegal.

Tidak terlalu sulit mecari referensi mengenai KBA Cidadap di dunia maya, sudah banyak media yang menulis, rekan-rekan blogger pun ada beberapa yang menulis mengenai KBA Cidadap.

Salah satu sumber informasi yang bisa saya temui dan valid adalah dari akun instagram @kba_cidadap_padalarang semua kegiatan yang ada di kampung ini terekam jelas dan semakin membuat saya bersemangat untuk datang ke KBA Cidadap.

Kegiatan beragam di KBA Cidadap sesuai dengan 4 pilar KBA yang mempunyai konsep pengembangan terintegrasi yaitu Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.

kampung-berseri-astra-cidadap-karst-citatah
sumber foto: IG @kba_cidadap_padalarang
Yang menarik adalah program bank sampah produktif, dengan tag #semangatkurangiplastik para warga bersama-sama mulai memilah sampah dari rumah, kemudian ditabung di bank sampah yang nanti bisa ditukarkan dengan sejumlah uang.

Dari sebuah bangunan sederhana semi permanen, beralaskan semen tanpa keramik, dinding yang sebagian besar kombinasi kayu dan triplek, jendela tanpa kaca yang hanya batasi kawat, dan atap genteng dari tanah liat, nampak didalamnya tumpukan sampah yang tertata. Bingung gak, tumpukan sampah tapi tertata?

Inilah bank sampah yang ada di KBA Cidadap, tempat warga menyetor sampah domestik mereka yang sudah dipilah dan dipilih.

Bedasarkan wawancara langsung teh Mega, rekan blogger yang datang langsung ke KBA Cidadap dan menuliskan di artikelnya, hasil dari tabungan sampah yang berupa uang tersebut bisa diambil langsung atau disimpan terlebih dahulu yang kemudian bisa diambil satu tahun kedepan. Fungsinya kurang lebih mirip seperti tabungan.

sumber foto ig @kba_cidadap_padalarang
Melihat potensi wisata KBA Cidadap, saya semakin terobsesi melihat keindahan, kemegahan dan eksotiknya tebing hawu, Karst Citatah berusia ribuan tahun ini, yang selalu saya pandangi dari kejauhan saat melintasi Padalarang menuju Cianjur.

Kendalanya adalah, apakah Ayang Dayu, mobil tipe LCGC bisa sampai ke KBA Cidadap?

Menurut penuturan teh Mega di artikelnya, kondisi akses jalan menuju KBA Cidadap cukup bervariasi dari jalan yang beraspal mulus, lalu jalan aspal yang agak rusak kemudian berubah menjadi jalan tanah merah sampai jalanan yang hanya bisa dilewati satu mobil saja. Yang harus diperhatikan, jalan tanah merah, mempunyai kesulitan tersendiri di musim penghujan.

Kondisi jalan seperti ini sempat membuat panik suami teh Mega yang bertanggung jawab dibalik kemudi, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti disalah satu rumah warga, sebelum melanjutkan perjalanan.

Hmmmm sepertinya menantang juga perjalanan ke KBA Cidadap. Sekalipun kami kesulitan menuju kesana, tapi rasa hormat kami untuk para warga KBA Cidadap yang sadar akan kelestarian lingkungan kampung mereka, semoga bisa tersalurkan melalui artikel ini.

Mustahil pihak luar yang menjaga kelesatarian Karst Citatah, tapi dengan dukungan pihak luar seperti program Kampung Berseri Astra dan kerjasama aparat pemerintah dan warga sekitar, saya yakin potensi alam Karst Citatah bisa terus terjaga.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.