Senin, 30 Mei 2022

Pendidikan Seksual Untuk Remaja Disabilitas dan OPYMK

"Kak ijin gak ikut ekskul, mau ada SE"

"Hmmmm SE itu apa? Sarjana Ekonomi?" Ujar saya.

"Buukkaaann... SE itu Sex Education" Ujar seorang siswa sekolah yang ada di daerah kota Tangerang.

Sebenarnya saya sudah tahu SE itu apa, karena memang sudah jadi program rutin sekolah untuk para siswa agar bisa mengetahui hal yang masih dianggap sensitif dan tabu di Indonesia. Bayangkan, di daerah yang tidak jauh dari ibukota, membahas pendidikan seks untuk anak saja masih tabu, bagaimana di daerah lain yang akses komunikasi masih terbatas.


Pendidikan seks untuk remaja bukan hal yang tabu (image/www.freepik.com)

Permasalahan makin pelik saat membahas akses pendidikan seks untuk disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta (OPYMK). Jujur saya pun baru kepikiran, iya juga, bagaimana saudara-saudara kita yang disabilitas dan OPYMK ini mendapat informasi mengenai pendidikan seks?

Pendidikan seks itu gak sebatas bagian diantara dua kaki ataupun posisi bersenggama lohh ya, kebanyakan otak sebagian orang pasti arahnya kesana. Pendidikan seks konotasinya gak jauh-jauh masalah persetubuhan dan reproduksi, padahal ada hal lain yang dipelajari di pendidikan seks yang luput diperhatikan oleh para orang tua.

Pendidikan seks untuk anak itu sebenarnya lebih sederhana, misal pengetahuan bagaimana saat pertama kali si anak gadis mengalami menstruasi atau saat pertama kali anak laki-laki mengalami mimpi basah.

Pertanyaan untuk para orang tua, kapan memberikan informasi mengenai menstruasi atau mimpi basah yang terjadi pada remaja? Saat sudah terjadi atau sebelumnya? Atau jangan-jangan gak pernah bahas hal ini sama anak-anaknya? Jujur, saya pun tidak mendapat pendidikan ini dari orang tua, karena keterbatasan komunikasi antara saya dan orang tua. Alhasil, anak-anak macam saya ini, mencari informasi sendiri dari lingkungan sekitar yang belum tentu valid kebenarannya.

Kadang orang tua sudah ketakutan kalau anaknya bertanya mengenai menstruasi atau mimpi basah, padahal bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Menurut survei hanya 20% orang tua atau keluarga yang bisa memberikan edukasi mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduki kepada remaja.

Pendidikan seks sudah bisa dimulai dari sejak dini, bahkan dari umur 4-5 tahun, terlebih jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Dimulai dari perbedaan jenis kelamin, perbedaan anatomi tubuh laki-laki dan perempuan. Lalu bagaimana perilaku yang boleh atau tidak boleh dilakukan dimuka umum, misal setelah mandi harus pakai handuk dan menggunakan pakaian di kamar.

Kadang kita malah menganggap sebuah kelucuan ketika si anak, lari kesana-kemari setelah mandi dengan tidak menggunakan pakaian. "Gak apa-apa, namanya juga anak-anak.."

Gimana? Rumitkan pendidikan seks untuk anak? Sekarang gimana untuk para disabilitas dan OYPMK? Bahkan masalah penggunaan pembalut bisa jadi masalah pelik, karena ketidak tahuaan mereka, ada yang menggunakan pembalutnya seharian penuh.

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi OPYMK dan Remaja Disabilitas, masih kurang mendapat perhatian

Ruang Publik KBR, Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi OPYMK dan Remaja Disabilitas

Rabu 25 Mei 2022, kebetulan melihat program live streaming #RuangPublikKBR yang membahas mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) bagi OPYMK dan remaja disabilitas. Narasumber yang hadir pada acara tersebut adalah Nona Ruhel Yabloy, Project Officer HKSR, NLR Indonesia, Westiani Agustin, Founder Biyung Indonesia dan Wihelimina Ice, Remaja Champion Program HKSR.

Masa pubertas merupakan masa-masa menantang sekaligus membingungkan dalam kehidupan remaja mana pun. Jika remaja tersebut memiliki ragam disabilitas maupun OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta), pubertas dapat lebih menantang tidak hanya bagi remaja itu sendiri namun juga keluarga, lingkungan, guru serta pendampingnya.

Masih ada masyarakat yang berpandangan, ngapain disabilitas dan OYPMK mikirin mengenai seksual, padahal itu adalah hak dasar yang dirasakan oleh setiap manusia.

Pendidikan seks sejak dini juga bisa menghindari anak dari bahaya kejahatan seksual yang mengancam di lingkungan mereka. Tidak jarang, pelaku kejahatan seksual adalah orang terdekat dan si anak tidak berani bersuara karena takut atau tidak mengerti kalau itu adalah bentuk kekerasan seksual.

Selain itu juga, bisa mencegah hubungan seks anak dibawah umur dan mencegah kehamilan remaja putri dibawah umur. Yang lebih penting adalah mencegah terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh hubungan seksual.

"Apa yang harus saya sampaikan kepada orang tuamu dik?" Cuitan twitter seorang dokter ketika ada orang tua datang berobat membawa anaknya yang masih berumur 15 tahun dengan keluhan buang air kecil yang mengeluarkan nanah.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.