Permasalahan Gender Yang Tak Pernah Usai

16.26

Membahas mengenai gender seperti tidak ada habisnya. Semua punya persepsi dan pandangan masing-masing. Ada yang keras memaksakan gender, disisi lain ada yang tidak kalah keras menolak gender.


Sejatinya gender adalah sebuah peran atau tanggung jawab yang ditentukan oleh nilai-nilai sosial budaya yang timbul dan berkembang di masyarakat.

Sebagai contoh, jangan jadikan patokan, bahwa pergi berladang atau bertani adalah urusan laki-laki saja.
Memang di suatu daerah yang pergi ke ladang sesuai budaya mayoritas adalah seorang pria. Tapi di daerah lain bisa jadi tugas keladang adalah pekerjaan utama perempuan.

Dan yang harus kita ingat adalah, gender bukanlah jenis kelamin atau sex semata.

Semua informasi ini saya dapat saat mengikuti acara temu blogger kesehatan Bandung yang di adakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Hadir di acara tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI drg. Widyawati, MKM, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI dr. Eni Gustina, MPH, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Provinsi Jawa Barat drg. JuanitaP.F., MKM dan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kota Bandung dr. Hj. Henny Rahayu Ningtyas, MKM.

Dari semua pembicara yang hadir saya tertarik membahas mengenai masalah gender yang di bawakan oleh dr.Eni Gustina, karena seperti yang saya tulis di awal, sepertinya perdebatan mengenai gender ini tidak pernah menemui jalan indah.

Kesetaraan gender sederhannya adalah, kesamaan kondisi baik laki atau perempuan untuk mendapat kesempatan hak-hak yang sama sebagai manusia.

Contohnya kenapa selalu perempuan yang bertugas bersih-bersih rumah? Apakah ada aturan yang melarang pria untuk bersih-bersih? Atau justru para pria yang tidak mau berbagi tugas.

Lainnya adalah, kenapa ada seorang laki-laki menangis selalu ada, ucapan “Jangan menangis seperti perempuan”. Padahal menangis adalah anugerah yang diberikan tuhan untuk semua mahluknya tanpa terkecuali.

Isu mengenai ketidak seteraan gender bagi perempuan salah satunya ada didunia pekerjaan. Isu perbedaan upah yang paling terlihat jelas, entah kenapa.

Apakah karena perempuan dianggap hanya sebagai penambah penghasilan suami dirumah, sehingga tidak perlu disamakan. Padahal beban dan tanggung jawab mereka sama

Sudah saatnya kita mengerti dan paham apa itu keseteraan gender, wanita tidak ingin diutamakan, mereka hanya ingin disamakan dengan hak dan kewajiban yang mereka lakukan.

Dan semua itu bisa dimulai dari keluarga. Biasakan membagi tugas antara ibu dan ayah agar bisa dicontoh oleh anak-anak.

Karena di tangan anak-anak kita lah, nanti keadilan atau kesetaraan gender bisa semakin lebih baik dan dapat diterima.

You Might Also Like

0 comments

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.

Entri yang Diunggulkan

Ulas Review Kamera Oppo F11 pro di Perjalanan Jakarta Bandung