Mahluk Ajaib Di Film AADC2, SCUK dan Aisyah

22.00

Memproduksi sebuah film membutuhkan biaya yang sangat banyak. Dukungan sponsor sangat dibutuhkan untuk menutupi biaya produksi ataupun saat promosi sebuah film. Dengan kekuatan jalan cerita dan tema sebuah film, para pemain dan genre film yang spesifik bisa dengan mudah mendapatkan dukungan sponsor.

Tapi sejauh mana sponsor “menggangu” jalan cerita sebuah film?. Hmmmm,…masa sih mengganggu. Sepertinya perlu dijelaskan apa yang di sebut mengganggu menurut pendapat saya.  Setidaknya tampilan produk sponsor saat tampil di sebuah film tidak terlalu berlebihan.

Tidak usahlah perlu di zoom in sampai detil sampai terlihat jelas merk brandnya di satu frame penuh menutupi satu layar bioskop. Sangat dimengerti kebutuhan para sponsor itu untuk branding produk mereka, tapi harusnya mereka juga sadar bahwa kami yang datang kebioskop itu datang dan membayar untuk menikmati sebuah karya film yang berkualita. Ingat kami bayar tidak gratis.

Para brand ini seakan tidak pernah puas, setelah nongol di film, mereka pun memasang logonya di poster film yang mereka sponsori. Jujur saya belum pernah melihat poster film luar negeri di domplengi sponsor komersial.

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas kemunculan mahluk ajaib bernama sponsor ini di perfilman Indonesia?. Para sponsor yang haus publikasi kah?, produser dan tim marketingnya yang gelap mata menggaet para sponsorkah? Atau siapa..?.

Yang jelas, saya sedikit yakin para sutradara dan kru film dibikin gerah dengan kemunculan mahluk ajaib ini. Bagaimana tidak, karya mereka sedikit atau banyak harus disusupi mahluk ajaib ini. Harus pintar-pintar untuk menempatkan dimana mahluk ajaib ini bisa muncul. Karena salah menempatkan mahluk ajaib, komentar penonton pasti akan seragam.

“ Jualan Banget Sihhh…!!”

Setidaknya itu yang saya rasakan saat melihat film Indonesia di medio Mei 2016. Sebagai gambaran saya menonton 4 film Indonesia. Surat Cinta Untuk Kartini, AADC2, Aisyah dan My Stupid Boss. Untuk film terakhir yang saya sebutkan saya tidak melihat muatan sponsor didalam badan filmmya, atau mungkin saya gagal paham.
Beberapa film terbaik Indonesia yang tayang di bulan Mei 2016 

Yang menarik adalah membedah sponsor antara 3 film pertama yang saya sebutkan. Pertama adalah AADC2. Setelah 168 purnama akhirnya Rangga dan Cinta pun bertemu dan pertemuan mereka disaksikan lebih dari 3juta penonton.

Secara jalan cerita tidak terlalu luar biasa. Momentum yang justru saya tunggu di film ini adalah bagaimana mereka berdua ketemu, beruntung Miles Film menyajikan dengan cantik, tidak berlebihan dengan adegan slow motion dan cukup membuat saya penasaran.
   
Mengenai sponsor setidaknya ada 9 sponsor yang mendukung film ini. 2 sponsor utamanya adalah Aqua dan L’Oreal. Kehadiran mahluk ajaib di film ini menurut saya tidak terlalu menonjol. Jujur saya hanya mampu mendeteksi 2 mahluk ajaib yang menjadi sponsor utama. Aqua saat mereka berdua sedang di café dan saat jalan berdua, lalu L’Oreal saat Cinta sedang bingung memilih lipstick saat akan bertemu dengan Rangga.
Harus diakui, mungkin Riri Riza dan Miles punya bargaining postion yang kuat sehingga mereka bisa menampilkan mahluk ajaib ini dengan sederhana.

Untuk film Aisyah, kalau dilihat dari poster filmnya ada 2 sponsor yang nempel di sana. White Koffie dan Sunsilk. Jalan cerita film ini sungguh kuat, bercerita tentang ragam keyakinan yang ada di Indonesia. Tetap ada konflik agama tapi, pesan optimis dan kerukunan antar umat terus di tampilkan dalam film ini. Tya Subiakto selaku music arrangernya pun bisa membawa nuansa yang menurut saya bisa mengharubiru. Jangan kasih tahu yang lain, kalau mata saya sempat basah di salah satu scene ini, dan ini jarang terjadi.

Tapi sayang , mahluk ajaib ini agak sedikit terasa walau tidak secara kontinyu. Brand kopi sachet dan pembersih rambut itu seperti di beri tempat special di salah satu scene. Walau kadarnya masih jauh dari kata mengganggu.

Terakhir adalah Film Surat Cinta Untuk Kartini (SCUK), ini adalah film favorit saya sebelum kemunculan Aisyah. Set-up lokasi, wardrobe, nuansa dan akting para pemain sungguh luar biasa. Dengan buggdet yang tidak terlalu wahh, sutradara dan timnya bisa menghadirkan ambience di tahun kelahiran kartini dengan sangat maksimal.

Sayangnya kehadiran mahluk ajaib bernama sponsor sangat mengganggu saya. Ada  scene dimana seorang guru muda terlambat masuk ke sekolah dan terjatuh di tangga yang mengakibatkan isi tasnya berantakan, maka keluarlah mahluk ajaib ini dari tasnya. Uuuhhh ,…terlalu awal menurut saya mahluk ajaib ini muncul, bayangkan belum ada 5 menit film ini berjalan saya sudah di sajikan iklan produk makeup berlabel Wardah ini.

Tidak hanya itu, ada juga scene dimana guru muda ini sedang touch-up dengan makeup dengan merknya yang seakan sengaja di perlihatkan. Yang lebih aneh, atau bisa dibilang lucu ketika mahluk ajaib ini muncul dalam bentuk add-lips (penyebutan nama brand) di film ini. Memang tidak terlalu kerasa, bahkan hanya muncul sekali itupun di samarkan dengan nama orang yang menjadi penata rias keluarga Kartini di masa itu. Memang nama brand ini bisa diasumsikan dengan nama seseorang.

Jujur film fiksi berlatar belakang sejarah seperti SCUK sangat menarik, sayang nasibnya cukup tragis ketika hanya mampu tidak lebih dari satu minggu di bioskop.

Kembali kemasalah sponsor saya kembali membayangkan, pusingnya para sutradara ketika harus memenuhi request sang sponsor untuk memasukkan mahluk ajaib ini difilm yang mereka sutradarai. Kalau para sutradara punya kekuatan penuh untuk bagaimana menampilkan mahluk ajaib ini mungkin itu lebih baik. Yang celaka adalah, saat mereka harus menggadaikan orisinalitas karya mereka untuk menutupi biaya produksi.

Terus berkembang kreatif para insan Film Indonesia dan Semoga makin cepat dewasa para sponsor film Indonesia.

You Might Also Like

11 komentar

  1. Asseekkk,...makasih kang arul

    BalasHapus
  2. om Satto, agar mahluk ajaib tidak mengganggu, ya jangan terlalu terikat dengan sponsor. Independen untuk seluruh biaya produksi. Bila menggunakan sponsor, ya mau tidak mau seperti itu karena tidak ada yang gratis di dunia, hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nahhh, itu perlu kedewasaan dari pihak sponsor. Misalnya cukup taruh di poster filmnya, atau di media promosi lain.
      Bikin gemeeesss

      Hapus
  3. Dari 3 film yang mas satto ulas saya yakin sangat sponsor dr brand kosmetik atau kecantikan pasti akan sangat mendominasi.
    Apalagi ketika aktris yg berperan adalah BA untuk produk mereka.
    Mungkin ini tantangan buat para sutradara memenuhi permintaan sponsor tp tdk mengganggu kearifan dari cerita yg disampaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betttooll, seomga sutradaranya diberikan keleluasaan berekspresi. jangan kalah sama tim marketing. heuheuheu

      Hapus
  4. Belom nonton semuanya hehehe. Tapi kalau ada unsur hard selling memang jadi ganggu. Kayak ada yang ganjel aja gitu hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan ganjel lagi mbak,..tapi makkjleebb. Hehehhe makasih sudah mampir

      Hapus
  5. Ha ha ga percaya ah kalo mas Satto nonton film nangis. Ajak dulu baru percaya #KodeKerasBabget..

    Meskipun belum nonton film AADC2, sebelum tampil di layar lebar memang brand air mineral itu sudah mampu mencuri moment iklan di TV bahkan banyak meme-meme yg sudah beredar wira-wiri di internet.

    Team marketing mereka bisa dikatakan sukses besar. Tapi ada benarnya juga, mahluk ajaib memang penting tapi jangan sampai peletakan dan kreativitas cinema jadi turun gara-gara mahluk ajaib.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka di kasih addlips di setiap promo plus di poster harusnya sudah cukup. Jadi di filmnya gak usah terlalu kelihatan.

      Tapi serius loh, aku terharu. Akukan sensitif.

      Hapus

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.

Entri yang Diunggulkan

Kuliner Terbaik Pucuk Coolinary Festival Malang 2018