Tips Wisata Bandung, 4 Hari 3 Malam di 3 Hotel Berbeda

18.32

-Tips Wisata Bandung- Ibukota provinsi Jawa Barat ini mah selalu menyimpan kekuatan mistik untuk selalu dikunjungi, entah kenapa kota yang kononnya diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum bahagia ini seakan tak pernah bosan disinggahi.

tips wisata bandung
Sudah pahamkan, kenapa kami nekat menamakan rumah ini Villa Gajah?

Padahal, sesungguhnya, alangkah, ternyata (baru mulai nulis udah lebaiii dah) kondisi lalulintas Bandung sangat menyeramkan di saat musim liburan Natal dan Tahun baru.

Dan mistiknya, sekali lagi saya harus sebutkan ini, tetap saja masih banyak yang nekat untuk datang ke Bandung termasuk sayaaahhh..

Tapi pengalaman ke Bandung kali ini berbeda, karena 4 hari 3 malam di Bandung, saya menginap di 3 hotel yang berbeda dengan keunikan hotel masing-masing.

Jadi tiap hari saya harus langsung check out di pagi hari untuk malamnya pindah ke hotel baru, (macam orang kaya saja abang ini). Tapi semuanya bukan tanpa alasan, walau alasannya tidak akan saya tulis di artikel ini.

Berangkat kamis pagi jam 5 setelah subuh menggunakan travel dari kawasan Bintaro, lokasi hotel pertama yang saya jadikan tempat singgah ada dikawasan Dago, lebih tepatnya bisa diakses dari jalan Bukit Pakar Timur.

Kalau dari arah Pasteur menuju lembang melalui Dago, setelah terminal Dago masih lewat terus kurang lebih 1km, sampai ketemu petunjuk jalan belok kiri kearah kantor desa Ciburial. Susuri jalan keatas sampai ketemu kantor desa Ciburial.

Hutan Sosial Untuk Wisata dan Kesejahteraan Warga

Tempat yang pertama saya singgahi bukan hotel, lebih tepatnya sebuah villa. Namanya villa rumah gajah. Ini hanya inisiatif kami menamakannya seperti itu, karena saya tidak yakin si empu rumah menamakan villanya demikian.

Kenapa villa rumah gajah? Karena saat pertama kami sampai, yang terlihat adalah dua buah patung gajah di halaman depan ditambah ornamen gajah di gagang pintu rumah tersebut. Jadilah dengan ke"sotoyan" kami, maka kami namakan villa itu rumah gajah, sesederhana itu saja sih..

Villa rumah gajah dekat dengan pesantren Al-Quran Babussalam Ciburial. Menurut pengurus villa, rumah ini memang tidak untuk umum, hanya untuk tamu-tamu di kenal yang diperkenankan menggunakan villa rumah gajah tersebut. 
Jadi kalau coba di cari penyedia booking online, kalian tidak akan menemukan villa rumah gajah ini.

Beruntung, kami direferensikan oleh bunda Intan dari pesantren Babussalam, sehingga bisa menginap di villa rumah gajah.
tips wisata bandung
Ini penampakan kamar kalau kita lihat dari Balkon kamar. Tempat tidur dengan kelambu, romatisnyoooo...

Villa rumah Gajah, sesuai dengan frase gajah yang mereferensikan sesuatu yang besar. Pun dengan vila ini, punya dua kamar diatas yang besar, dan dua kamar di bawah yang sama besar. Semua kamar dilengkapi dengan kamar mandi lengkap dengan shower dan air hangat.

Kondisinya sangat terawat, ornamen kayu bercampur nuansa warna abu-abu modern minimalis terpadu dengan baik. Banyak sekali ornamen-ornamen kayu di villa rumah gajah ini, tidak hanya sebatas bangku dan meja.

Kitchen set, meja makan, tempat tidur dengan kelambu, wastafel kamar mandi sampai pintu geser kamar mandi semua berornamen atau terbuat dari kayu. 
Sepertinya dari kayu jati, tapi saya tidak bisa memastikan dengan baik. Yang pasti kayunya berat cuiii..

Si empu villa rumah gajah ini rupanya mempunyai bisnis di bidang properti, jadi urusan membangun dan mendekorasi rumah bukan hal yang sulit bagi beliau.

Semua di buat dengan detil, contohnya, kita akan sangat mudah menggeser pintu kamar mandi, padahal pintu itu terbuat dari kayu berukuran besar. Rel untuk menggeser pintu di buat sangat mudah dan nyaman saat digeser.

Lalu pintu kaca kamar menuju balkon dibuat seperti pintu lipat yang bisa digeser kesamping (seperti rooling door toko). Ini pun bisa dengan mudah kita buka tutup, bahkan 2 slot kunci untuk menutup pintu itu presisi dengan lubangnya.

Malam pertama di Bandung saya tidur dengan nyaman di villa rumah gajah, bagaiman dengan 2 malam berikutnya?

Tips Wisata Bandung SubWow Hotel Jalan Riau 

Hari kedua petualang di Bandung dimulai.

Jujur saya belum tau akan bermalam dimana, setelah meninggalkan villa rumah gajah dan shalat jumat saya baru browsing disalah satu penyedia booking online untuk mencari tempat bermalam.

Beruntung saya mendapatkan hotel dengan lokasi yang tidak terlalu jauh dari lokasi acara keesokan harinya. Hanya 8ribu menggunakan ojek online. Ohh ya, lokasi acara saya keesokan harinya (sabtu pagi) ada di hotel Savoy Homann.

SubWow Hotel di jalan Riau, Bandung. Lokasinya strategis dan yang terpenting sesuai budget saya, hotel dibawah 200ribu. Yang lebih kerennya lagi (menurut saya), keluar hotel disebelah kanan ada coffeshop, maju sedikit lagi melewati lampu merah ada tukang sate yang tidak pernah sepi dari pembeli. Perpaduan yang sempurnaaa...

Hotel ini sepertinya diperuntukkan bagi para single backpacker, dengan harga perkamar/orang 150 ribu dan mendapat sarapan nasi goreng, telur dadar, teh/kopi pagi hari tentu sangat sesuai dengan budget traveller.

Awalnya agak bingung mencari lokasi hotel ini, harus memutar dua kali untuk menemukan lokasinya karena papan petunjuk hotel yang tidak terlalu besar.

Dan akhirnya saya baru tahu, lokasi SubWow Hotel berada di basement Gran Tebu Hotel Bandung. Rupanya mereka satu group by Willson Hotel. Jadi untuk awal lebih mudah mencari Gran Tebu Hotel sebagai patokan.

Saya memilih kamar dengan satu tempat tidur, luas kamarnya kurang lebih 10meter persegi (2x5m). Ada satu tempat tidur, kamar mandi, tivi dan meja kecil dibawahnya.

Karena berada di basement, jangan harap signal handphone kamu akan aktif, tapi jangan khawatir hotel sudah menyiapkan wifi agar aktifitas online kita tetap terhubung.

Saran saya kalau kamu menginap di SubWow Hotel, bawa perlengkapan mandi sendiri. Baik itu sabun, sikat gigi bahkan handuk. Karena memang tidak disediakan pihak hotel.

Lalu agar lebih nyaman di hotel ini, kamu harus bawa colokan listrik tambahan. Karena dikamar hanya disediakan satu colokan dan itu sebenarnya diperuntukkan untuk menyalakan televisi. 

Jadi kalau kita gunakan untuk mengisi ulang daya smartphone atau niat bekerja menggunakan laptop maka televisinya tidak bisa dinyalakan. Harus pilih salah satu.

Kondisinya saat itu saya harus menyelesaikan deadline tulisan, baterei laptop sekarat sementara baterei kamera digital dan 2 smartphone saya pun bernasib sama. Padahal besok pagi saya butuhkan untuk beraktifitas. 

Solusinya adalah, menyelesaikan semua di ruang sarapan samping lobby depan hotel. Dipagi hari, tempat ini dipergunakan untuk sarapan, setelahnya bisa menjelma untuk lokasi kerja di siang atau malam hari.

Di lokasi tersebut disediakan meja kursi dan segambreng colokan listrik dan sebuah televisi 42”. Rupanya sudah dipersiapkan dengan sangat baik oleh pihak hotel untuk tamunya yang ingin menyelesaikan pekerjaan tertunda. Dan menurut saya kerja di ruang tersebut memang lebih nyaman ketimbang di kamar.

Jujur kalau kerja dikamar, selain terlalu sempit, kamera dan smartphone nggak bisa di isi ulang daya secara bersamaan dan dijamin tulisan saya gak akan kelar gara-gara ketiduran.

Setelah menyelesaikan satu artikel, malam kedua sayapun tertidur dengan nyaman di SubWow Hotel, bagaimana dengan malam berikutnya?

Tips Wisata Bandung Malam Ketiga di Cabin’s 86 Syariah, Sempat Panik

Sebenarnya saya sangat nyaman bermalam di SubWow Hotel, tapi saat saya ingin booking langsung pagi harinya ternyata sudah penuh. Pengelola menyarankan saya untuk coba via booking online yang ternyata tidak berhasil juga.

Dengan terpaksa saya bergerilya kembali mencari penginapan dibawah 200ribu untuk satu malam.

Kalau di hari biasa, saya yakin tidak akan sulit. Tapi ini musim libur panjang, 2 hari jelang hari Natal. Dan percayalah, pilihannya tidak banyak yang tersedia.

Lagi-lagi saya diselamatkan oleh penyedia jasa booking online, dapat kamar dengan harga 100ribu di Cabin’s 86 Syariah di kawasan buah batu Bandung. Melihat fotonya, saya tidak berharap akan seperti SubWow Hotel, tapi minimal saya bisa istirahat sebelum esok harinya kembali beraktifitas.

Agenda saya sepanjang hari itu adalah mengikuti workshop dari Kemenkes di Hotel Savoy Homann. Selesai acara workshop saya sempatkan eksplore alun-alun Bandung, menyusuri Jalan Asia Afrika, lalu berujung ngopi di Jalan Braga.

Jalan Asia Afrika di malam minggu itu diperuntukkan untuk para pejalan kaki. Kendaraan bermotor dilarang melintas istilah kerennya Nigh Car Free Day.

Jadilah lautan manusia tumpah ruah di jalan bersejarah tersebut. Jangankan saya, seorang sahabat yang menemani saya pun dibuat kaget melihat suasana jalan Asia Afrika malam itu, padahal dia asli orang Bandung.  

Jam menunjukkan pukul 11 malam, kami melepas lelah sambil menikmati malam. Saya sempatkan membaca email konfirmasi pesanan hotel, untuk melihat lebih jelas alamat Cabin’s 86 Syariah. Dan saya pun panik.

Saat membaca syarat dan ketentuan di email, ada penjelaskan klausul yang kurang lebih isinya, jika check-in diatas jam 11 malam harus konfirmasi terlebih dahulu, jika tidak maka pihak hotel bisa membatalkan secara sepihak.

Whaatt,…Dengg..denngg…!! (efek zoom in-zoom out kaya film India sepertinya cocok), saat itu sudah jam 11 malam dan saya masih nyangkut di jalan Asia Afrika.

Bodoh sekali saya tidak membaca detil syarat-syarat diemail, dan dengan pikiran panik tapi muka santai saya coba hubungi nomor kontak hotel yang tertera di email.

Percobaan pertama gagal, telpon saya tidak diangkat. Bayangan harus tidur di masjid atau numpang di kantor polisi mulai sedikit bermunculan, minimal saya harus mencari restoran fasfood yang buka 24 jam.

Percobaan kedua pun tidak membuahkan hasil, dahi mulai sedikit berkerut dan cuaca dingin kota Bandung malam itu terasa mulai terasa panas di tubuh saya.

Berselang 5 menit saya mencoba telpon kembali, dan kali ini diangkat. Lalu segera saya konfirmasi untuk tiba di penginapan 30 menit lagi. Dan alhamdulillah masih diperkenankan.

Mencari Cabins’86 Syariah sebenarnya tidak susah. Terletak di dekat jalan terusan Buah Batu lalu masuk ke jalan Ciparay. Tidak sampai 100 meter ada ruko disebelah kanan.

Yang bikin sulit adalah, saya sampai di lokasi sudah lewat dari jam 11 malam, suasana disekitar ruko sepi tidak ada orang untuk ditanyai dan tidak ada papan petunjuk nama Cabin’s 86 Syariah di jejeran ruko tersebut.

Baahh lagi-lagi bayangan masjid, kantor polisi dan restoran fastfood kembali muncul. Beruntung ada petugas keamanan komplek yang membantu menunjukan lokasi hotel.

Rupanya Cabin's 86 Syariah ada diantara salah satu ruko tersebut. Dan saya baru tahu paginya, ternyata dibagian dibawah ruko diperuntukkan untuk toko kelontong yang juga sebagai tempat tinggal ibu penjaga. Sementara bagian atas di peruntukan sebagai penginapan.

Dengan harga 100ribu, saya memang tidak menargetkan muluk-muluk untuk penginapan ini. Tapi ternyata penginapan ini cukup bersih melebih ekspetasi saya.

Antar kamar memang hanya disekati oleh dinding berbahan triplek dengan kamar mandi diluar. Ada 5 kamar dilantai tersebut. Mengingatkan kamar kos saya waktu jaman kuliah dulu bahkan jauh lebih bersih dari kamar kos saya.

Didalam kamar tersedia kasur dengan sprei putih bersih, sebuah kipas angin kecil (ini saya tidak peduli, toh Bandung cukup sejuk dimalam hari) dan sebuah terminal colokan listrik yang berlimpah.

Ini point juara ketimbang SubWow Hotel. Saya bisa mengisi ulang daya laptop, kamera digital dan 2 smartphone secara bersamaan plus kipas angin di dalam kamar sambil beristirahat. Mungkin terdengar receh tapi ini sungguh juara.

Malam ketiga di Bandung, saya pun nyaman beristirahat dengan kesederhanaan hotel ini.

Sejatinya liburan itu tidak hanya melepas lelah dan kepenatan. Liburan itu harus membawa cerita dan kenangan sebagai pelajaran hidup.

Pelajaran dan tips wisata ke Bandung yang saya dapat kali ini adalah, pesen hotel jauh-jauh hari.

Sekian terima kasih.

Soo, Enjoy your Holiday folks....

tips wisata bandung tips wisata bandung tips wisata bandung tips wisata bandung tips wisata bandung tips wisata bandung

You Might Also Like

4 comments

  1. rencana mo ke bandung sih..
    kira kira piknik 3 hari disana kemana aja ya mas..yang dekat stasiun (kota kota aja)

    BalasHapus
  2. Yang dekat2 kota dan stasiun ada alun2, jalan braga dan asia afrika (biasanya kulineran). Bisa juga main ke gedung sate.

    Kalau mau wisata alam, harus melipir, bisa ke lembang dan dago

    BalasHapus
  3. Pesan terakhir itu tepaaat sekali, jangan tanya Bandung kalo gi liburan, padeet sama orang luaar kita termasuk sama #duoraji eeaaa..

    Tapi beneran ala bekperan euy, seruu ceritanya.
    Dan yang jelas makasih udah dikangenin, eeh kota Bandong maksuteee..

    BalasHapus
  4. Penginapan murahnya Bisa buat refrensi nih kalo main ke bandung.

    BalasHapus

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.

Entri yang Diunggulkan

Fitur e-Friend FWD Max Yang Memudahkan Nasabah FWD Indonesia