Pulau Derawan, Indah Mengoda di Pagi Hari

22.00

Pernah denger kepulauan Derawan di provinsi Kalimantan Timur? Kalau baru kali ini mendengar kepulauan Derawan, saya kasih tahu, ini adalah satu dari sekian banyak surga dunia yang diberikan Tuhan sang pencipta alam kepada bangsa Indonesia.

Saya gak cuma asal omong kosong loh, ternyata Kalimantan Timur punya senjata rahasia di bidang pariwisata sehingga membuat siapapun yang pernah kesana susah move on untuk ngelupain tempat ini ketika mereka sudah kembali ketempat asal masing-masing.

Kepulauan Derawan mempunyai tidak kurang dari 30 pulau. Dan pulau yang sering menjadi destinasi pilihan para pelancong adalah Pulau Derawan, Pulau Kakaban, Pulau Maratua dan Pulau Sangalaki.

Gugusan kepulauan Derawan mempunyai kurang lebih 870 spesies ikan dan 460 jenis karang. Kalau di bikin peringkat merupakan terbanyak kedua setelah Raja Ampat di Papua Barat. Sungguh surga di negara tropis tercinta Indonesia.

Ada beberapa cara untuk bisa menyambangi kepulauan Derawan. 

Salah satunya saya naik pesawat terbang tujuan Jakarta-Balikpapan, lalu perjalanan saya lanjutkan melalui jalur darat bersama rombongan beberapa mobil pribadi melewati Samarinda, lalu menuju Berau-Tanjung Redeb. 

Untuk angkutan umum dari Balikpapan-Samarinda-Tanjung redeb sudah tersedia, karakter jalan lintas Kalimantan sudah cukup baik walau dibeberapa titik ada jalan yang sedikit rusak.

Dari Tanjung Redeb, saya bersama rombongan langsung naik speedboat yang di sewa melalui pelabuhan atau lebih tepatnya dermaga kecil Tanjung Redeb yang akan langsung membawa kami ke kepulauan Derawan menyusuri sungai Kelay, perkiraan waktu tempuh kurang lebih 1.5jam.

Karena euphoria kami ingin segera melihat pulau Derawan, jujur saja perjalanan dari dermaga Tanjung Redeb menuju pulau Derawan menyusuri sungai Kelay selama 1.5 jam sungguh menyebalkan. Hanya bisa duduk di guncang tanpa ampun oleh speedboat yang melaju cepat, energi untuk bersenda gurau pun sudah habis setelah melalui perjalan darat yang panjang.

Kalau menggunakan transportasi umum, dari Tanjung Redeb kita harus menuju ke pelabuhan Tanjung Batu sebelum akhirnya naik speedboat menuju Pulau Derawan. Kisaran harganya Rp.100.000 untuk sekali jalan.
   
Sebenarnya kalau kita ingin menyingkat waktu dari Balikpapan kita bisa naik pesawat menuju Bandara kalimarau yang ada di Berau-Tanjung Redeb, sayang masih sedikit sekali jadwal penerbangan ke bandara ini. Setahu saya baru ada Garuda dan Wing Air, itupun hanya ada 1 kali penerbangan di pagi hari.

Menginjak pulau Derawan untuk kali pertama membuat saya semakin ingin bersujud syukur akan keperkasaanNya yang menciptakan ini semua. Pasir putih yang lembut terhampar luas, nyiur melambai, langit biru dihiasi awan putih di tambah air laut bening nan bersih, membuat kita bisa melihat ikan yang wara-wiri hanya dari atas dermaga.  Luaarr biaassaa..!

Bermalam di pulau Derawan juga memberikan sensasi lain. Saat matahari terbenam, tiba-tiba semua nampak hening. Air laut sudah mulai terlihat pasang, hanya terdengar ombak laut yang perlahan menyapu bibir pantai diiringi gesekan daun nyiur yang membuat irama senja terasa syahdu. Mungkin agak sedikit berlebihan, tapi ini salah satu surga di dunia. Dan ini ada di Indonesia, di negeri saya tercinta. Tidak perlu jauh keluar negeri kawan..!!.

Saat pagi menjelang adalah waktu yang saya tunggu. Terbangun agak siang membuat saya sedikit kecewa, khawatir tidak bisa mengabadikan kemunculan sang fajar di pulau Derawan yang eksotik. Benar saja saat saya tiba di dermaga yang persis menghadap kearah timur sudah ada beberapa rekan yang menikmati keindahan warna di ufuk timur.

Ijinkan saya berbagi keindahan pagi di pulau Derawan lewat sebuah lensa sederhana, semoga kita bisa semakin menghargai keindahan alam dan semakin bersyukur dan bersujud kepada sang pencipta.

Salah satu sudut di Pulau Derawan saat pagi tiba. Percaya atau tidak saat air surut, di sini akan terlihat hamparan pasir putih yang luas. Kita bisa menyusuri pantainya sampai jauh ketengah. Harus berhati-hati, kalau tidak waspada kita bisa terjebak saat air laut mulai pasang sekitar jam 2 atau jam 3 sore.

Merasakan sensasi menginap di kamar yang dibawahnya terdengar ombak bersahutan itu memaju adrenalin. pikiran negatif akan datangnya ombak besar selalu saja hadir, walau akhirnya bisa tertidur pulas.

Di dalam Speedboat inilah selama 1.5jam kita di gunjang kesana kemari. sesaat terbang di atas air laut, lalu sesaat kemudian bagian bawah speedboat menampar permukaan air mengeluarkan suara yang cukup keras.

Ini Topi saya yang menemani perjalanan luar biasa melintasi pulau, walau jauh dari keluarga tercinta tapi mereka terasa dekat bersama saya. 

Menikmati matahari terbit di dermaga pulau Derawan bersama sahabat merupakan kenangan yang tidak akan mudah terlupakan.

Seorang tokoh pernah berbicara, kalau ingin tahu kepribadian temanmu, maka ajaklah dia bepergian dan menikmati alam.

Matahari pagi yang menyinari permukaan laut, bias warnanya menerpa wajah yang sedang menikmati waktu berdua

Lelah itu terbayarkan, dengan menikmati keindahan ciptaan yang maha kuasa. sungguh kami sangat kecil di banding kekayaan alam yang telah engkau berikan kepada kami



You Might Also Like

5 komentar

  1. Indah bangeett ahh cakepp. Udh lama pengen ke derawan blom sempet euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran cakep mbak,..duhh kalau kesana kita beneran berasa kecil diantara alam.

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Fotonya kereeen-kereeen. Jadi pengin ke Derawan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak,...di doain sampe ke Derawan. Aminn

      Hapus

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.

Entri yang Diunggulkan

Kuliner Terbaik Pucuk Coolinary Festival Malang 2018