Sergio Ramos Biang Kekalahan Real Madrid

Oh when the Spurs,
Go marching in,
Oh when the Spurs go marching in,
I wanna be in that number,
When the Spurs go marching in...
Dipenghujung laga sorakan pendukung Tottenham Hotspur semakin riuh di stadion Wembley, keunggulan 3-1 pasukan Pochettino atas Real Madrid di macthday-5 UCL membuat percaya diri para pemain dan pendukung kembali membuncah setelah kekalahan tak terduga di kompetisi lokal saat melawan West Ham United.
Kemenangan atas Madrid, menurut saya menjawab kritikan bahwa Tottenham tidak hanya Harry Kane. Walau tidak dipungkiri Harry Kane tetap punya pengaruh kuat, terutama saat terjadinya gol kedua.
Harry Kane memang tidak mencetak gol, ketidak egoisan dan kemauannya dalam bertahan justru menjadikan dia sosok sentral dalam tim.
Dipertandingan ini Tottenham bermain dengan tenang dan rapih, Justru Madrid yang bermain grasak-grusuk.
Tottenham menyerang dengan efektif, Kane, Alli dan Eriksen saling mengisi di sokong oleh lini tengah. Formasi awal Tottenham pada dasarnya adalah 3-5-2, Namun kondisinya bisa berubah saat mereka menyerang atau pun bertahan.
Saat bertahan, tiba-tiba saja formasi bisa berubah menjadi 5 pemain bertahan. Harry Winks dan Dier ikut membantu pertahanan dengan berdiri sejajar dengan para pemain belakang, Sementara kedua sayap Tottenham bekerja keras menahan umpan crossing dari pemain sayap Madrid.
Dengan skema serangan balik tapi masih mengandalkan penguasaan bola yang baik, Tottenham berhasil membuat wanita pendukung Madrid menangis di tribun penonton saat melihat Madrid bertekuk lutut.

Ramos Biang Keladi Kekalahan Madrid

Mungkin ini hanya opini saya pribadi, tapi itu yang saya lihat sepanjang pertandingan. Ramos sang kapten justru menghancurkan moral tim.
Beberapa kali Ramos memaksakan diri untuk ikut menyerang saat Madrid sudah tertinggal. Bahkan sempat Ramos seakan berebut peluang mencetak gol dengan Ronaldo ketika terjadi kemelut di depan gawang Tottenham. Ini boomerang bagi Madrid.
Saat Tottenham unggul 2-0 dan Madrid makin giat menyerang, saya sangat yakin Tottenham akan menambah gol di Wembley. Dan benar saja tidak sampai 10 menit, serangan balik lalu disusul umpan cantik dari Harry Kane di selesaikan dengan sempurna oleh Eriksen. 3-0 untuk Tottenham.
Yang lucu saat terjadi gol ketiga, pemain terakhir Madrid yang mengawal Eriksen adalah Luca Modric gelandang bertahan mantan pemain Tottenham. Kemana para pemain bertahan Madrid..?
Mungkin sibuk menyerang
Langkah berani dilakukan Pochettino saat mengganti Wink dengan Sissoko, agak mengherankan karena menurut saya Winks bermain sangat baik.
Awalnya saya kecewa melihat permainan Sissoko yang terlihat merusak ritme tim dengan bermain keras dan beberapa kali melakukan pelanggaran yang akhirnya membuahkan kartu kuning untuk Sissoko.
Tapi melihat keberanian Sissoko berkonfrontasi secara terbuka dengan Ramos membuat saya berpikir ulang. Jangan-jangan Sissoko ditugasi untuk mengganggu konsetrasi pemain Madrid, setidaknya Ramos sedikit terpancing dan mendapatkan kartu kuning juga, yang membuat lebih berhati-hati dalam bermain.
Madrid klub besar dengan kedalaman pemain bintang yang baik, kekalah 2 kali secara beruntun membuat Zidane sebagai pelatih harus mencari cara bagaimana membuat kerangka tim yang lebih baik.
Tottenham pun masih jauh dari sempurna, masih suka goyah ditengah perjalanan bahkan ketika melawan tim yg kualitasnya diatas
kertas dibawah Tottenham. Ini pekerjaan rumah bagi Pochettino.
COYS!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yesss, Terima kasih sudah membaca dan sampai dihalaman komentar
silahkan komentar atau kritik dengan bahasa yang positif.
Jangan tinggalkan link hidup, saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman semua.